Ballada Seorang Perantau

Pintu kamar itu tertutup rapat, sepi dan hanya bias cahaya lewat pentilasi yang memberi  nuansa gemerlap .Tidak ada suara musik atau pun berita iklanlewat televisi yang biasanya menghidupkan suasana kamar itu. Hanya kasur, bantal yang tersusun rapi, dan setumpuk buku sosiologi dari pakar ilmuan yang bertengger di atas lemari bermerek Ligna. Di belakang pintu terpajang beberapa lembar pakaian yang hampir menutupi seluruh bagian daun pintu, yang seharusnya sudah harus dicuci kembali. Dari suasana hening itu, tiba-tiba sebuah benda ringan yang jatuh terlempar dari arah dinding kamar. Oh, ternyata selembar kertas yang terlipat rapi. Tidak lama kemudian, dari sumber lemparan kertas tadi terdengar suara tangisan yang seolah-olah ditekan dan diselingi beberapa kalimat tersendat-sendat yang memanggil namaTuhan. “ Ya Allah, kok saya begini. Yah Allah, Ya Allah, Tolong ya Allah, kenapa bisa terjadi seperti ini pada diri saya ya Allah. Keterlaluan mereka ya Allah.”

 Irama tangisan itu semakin terdengar. Separuh wajah bagian bawah basah oleh air mata. Sepasang jemari dari sosok tubuh tersandar di dinding kamar menutup rapat pada wajah. Sedih sangat sedih. Pelan-pelan wajah itu muncul ketika sepasang jemari itu tadi terdorong ke arah ujung dagu. Suasana kamar sangat hening seketika di saat wajah penghuni kamar itu yang seolah-olah tidak memiliki tenaga, dan selang beberapa detik ledakan  suara tangisan itu kembali  terdengar  dengan sebebasnya, hingga merubah suasana kamar itu betul -betul berduka, bahkan suasana komplek tempat tinggal itu pada kaget  mendengar suara tangisan yang cukup mengartikan sebuah musibah  yang melanda pada seorang dosen yang sudah lima tahun lamanya menempati kamar  yang bernomor tiga.

            “Wil…..Willian…ayo buka buka pintunya dulu.” Suara itu milik dari penghuni kamar sebelah yang mewajibkan Willian untuk membuka pintu.

            Dengan secepatnya, Willian terpaksa merubah emosi ke posisi yang tenang lalu beranjak membuka daun pintu yang berwarna coklat tua itu sembari mempersilahkan seseorang yang bernama Iqbal masuk di kamarnya,dan kemudian kamar itu ditutup rapat kembali lalu dikunci. Willian dan Iqbal mengambil posisi duduk di depan televisi dengan saling berhadapan. “ Ada   apa Wil, ada masalah apa?Iqbal melontarkan pertanyaan pertamanya pada Willian dengan nada suara yang cukup rendah, yang mengisyaratkan agar orang-orang di sekitar komplek tidak mendengarkan pembicaraan mereka.

            “Sudah waktunya saya harus meninggalkan Pulau Lombok.” Jawab Willian dengan nada suara yang sedih sembari menundukkan kepalanya ke karpet yang masih kelihatan gelap.

            Tubuh Iqbal yang terkenal macho di pandangan teman-temannya  terhentak ke belakang ketika mendengar jawaban Willian. Jawaban Willian yang tertangkap di kedua telinga Iqbal sungguh mengherankan, sehingga seketika itu pula Iqbal dengan secepatnya lanjut pada pertanyaan ke dua. “ Maksud Wil harus pergi dari Pulau Lombok karena apa?

            Willian tidak langsung menjawab. Tapi Willian justru mengangkat tubuhnya ke atas udara dengan tegak, lalu mendekat pada tembok dinding bercat putih. Telunjuk kanannya dihentakkan pada sebuah benda putih yang berbentuk segi empat, yang menempel pada dinding itu, dan alhasil lampu yang tadinya mati kini kembali hidup menerangi kamar itu. “ Itu surat,” kata Willian pada Iqbal sambil tangan kanan Willian menunjuk ke sebuah surat yang tergeletak di pinggir kasur.

            Iqbal tidak lagi melanjutkan pertanyaan ketiga, tapi karena rasa penasaran yang dimilkinya  terhadap musibah yang menimpa Willian sudah mulai  menemukan titik temu ketika surat itu ditunjukkan oleh Willian. Dengan pelan-pelan Iqbal mengambil surat itu, lalu dibaca dengan penuh konsentrasi. “ Ah! Masa iyya Will..” kalimat itu spontan keluar dari bibirIqbal  tanpa mengontrol nada suaranya ketika sudah membaca inti dari surat itu.Iqbal seolah-olah tidak percaya dari apa yang tetera di dalam surat itu. Kaget dan heran menyelimuti perasaan Iqbal. “ Kok bisa Will begini,”kata Iqbal

            “ Saya juga tidak menyangka Bal.” Kata Willian pada Iqbal sembari jemari kanannya membersihkan bekas basah yang dirasa menebal  pada ke dua areal kantong matanya.

            “Sebelumnya gak ada panggilan untuk membicarakan kasus pemecatan dosen ini,”Tanya Iqbal tiba-tiba pada Willian

            “Gak pernah ada Bal. Cuman kemarin waktu saya liat jadwal mata kuliah, kok nama saya gak ada sebagai dosen pengampu mata kuliah,” Kata Willian memberikan penjelasan pada Iqbal.

            “Udah ditanya ama pejabat-pejabat kampus,” kata Iqbal.

            “Saya udah tanya ketua jurusan, pejabat nomor dua, dan nomor tiga pada empat hari lalu. Semuanya pada saling gak tahu…..” Jawab Willian yang tidak sempat melanjutkan penjelasannya.

            “Gak mungkin Wil mereka gak tahu. Gak mungkin. Gak masuk akal,” kata Iqbal dengan tegas.

            “Memang gak mungkin Bal. Gak masuk akal.” Kata Willian.

            “Tapi Bal, satu hari setelah saya liat jadwal, saya udah bertemu dengan pejabat nomor satu di rumahnya. Dia juga gak tahu Bal, makanya saya tambah bingun kemarin,”kata Willian

            “Trus.” Tanya Iqbal mendesak.

            “Trus saya di suruh menunggu di kampus…di kantor. Saya tunggu sampai dia datang.” Kata Willian.

            “Lantas,” kata Iqbal.

            “Ketika pejabat nomor satu itu datang di kantor, ketua jurusan, pejabat nomor dua udah duluan menunggu di depan ruangan pejabat nomor satu. Saya mau ikut masuk di dalam ruangan tapi saya dicekal ama pejabat nomor dua, terpakasa saya nunggu lama di luar.” Kata Willian menjelaskan.

            “Setelah itu,”Tanya Iqbal lagi dengan penuh semangat.

            “Ada sekitar satu jam saya menunggu, baru pintu itu terbuka. Lalu kemudian pejabat nomor dua panggil saya masuk. Lalu saya masuk,” Kata Willian.

            “Trus hasilnya,” Iqbal bertanya lagi dengan nada mendesak.

            “Di saat saya duduk di dalam ruangan, Pejabat nomor satu langsung berbicara dang mengatakan ‘ Jadi pak Willian semua laporan-laporannya… saya sudah mendengarkan dari pejabat nomor dua dan dari ketua jurusan. Jadi silahkan cari perguruan tinggi lain dan untuk kelanjutannya hal ini saya limpahkan ke ketua jurusan dan pejabat nomor dua dan silahkan dibicarakan lebih lanjut di ruangan sebelah’.” Kata Willian menjelaskan tindakan pejabat-pejabat kampus pada sat berada di dalam ruangan.

            “Wil, kenapa gak bela diri,” Tanya Iqbal.

            “ Saya gak diberikan waktu untuk bicara. Diputuskan langsung kalau saya harus berhenti mengajar dari kampus dan langsung di suruh ke ruangan sebelah.” Jawab Willian dengan wajah yang kesal.

            “Setelah di ruangan sebelah apa keputusan.” Tanya Iqbal lagi.

            “Di ruangan sebelah, pejabat nomor dua nggak mau masuk. Hanya ketua jurusan. Dan ketua jurusan tidak mau memberikan penjelasan lebih jelas tentang alasan saya diberhentikan. Berkali-kali saya meminta penjelasan yang benar tapi tidak ada jawaban pasti. Bahkan saya meminta waktu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kalau memang ada dengan kembali mengajar seperti biasa, tapi tidak direspon. Bahkan saya diminta untuk pindah ke Sumbawa.” Kata Willian dengan penjelasan lebih rinci.

            “Oh begitu,” kata Iqbal sembari mengangguk-anggukan kepalanya.

            “Jadi Will, apa tindakan selanjutnya,” Iqbal mengeluarkan pertanyaan yang kesekian kalainya dengan wajah yang serius.

            “Saya ingin pulang ke Jakarta Bal.”Kata Willian dengan bersedih

            “Jangan buru-buru Wil.” Pinta Iqbal.

            “Gak apa-apa. Saya butuh ketenangan dan curhat ama saudara di Jakarta.

            “Gak ke Sulawesi,” Tanya Iqbal.

            “Gal bal. Orang tu saya kan udah meninggal semua. Rumah di sana udah kosong. Saudara-saudara saya udah terpencar semua.”

            “Iyya.” Kata Iqbal dengan ekpresi wajah yang menyesalkan tindakan pejabat-pajabat kampus.

            Tiga hari kemudian willian mengemas semua barang-barangnya. Sebagian dititip di rumah seorang mahasiswanya yang memang selama ini dekat dengan dirinya dan sebagian akan di bawa pulang ke Jakarta.

            Keesokan harinya di saat jam dinding menunjukkan pukul Sembilan pagi, Willian berangkat menuju Bandara Internasional Lombok. Ia pun diantar oleh seorang mahasiswa dengan mengendarai sepeda motor.

Ketika tiba di Bandara, dengan hati yang berat nan sedih Willian memaksa diri mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada sosok yang rela mengantarnya di bandara. Derai air mata kembali mengalir dari kedua bola matanya. Adalah air mata kesedihan yang tak dapat terbendung. Suatu peristiwa yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Namun kini datang mewarnai hidupnya di negeri rantau. Walaupun ia sudah membulatkan hatinya untuk hidup lebih lama di Pulau Lombok, namun Tuhan berkehendak lain. Ia sangat mencintai pulau yang kecil nan mempesona ini.Ia pun telah memiliki sejumlah mahasiswa yang telah dianggap keluarganya sendiri, namun terpaksa harus berpisah. Ia pun juga sangat senang mangabdi di Pulau ini dalam dunia pendidikan, namun sang waktu tidak mengizinkan lagi. Sejuta kenangan indah yang telah dilewati bersama mahasiswa. Entah itu dalam kegiatan penelitian, berwisata dan kumpul bersama, namun semuanya memiliki keterbatasa waktu. Inilah hidup yang dialami seorang pemuda bugis dari Sulawesi yang telah bertahun-tahun lamanya memindahkan ilmu lewat sebuah lembaga pendidikan yang ada pulau Lombok ini.Ia pun meninggalkan kampung halamannya di saat sebuah perguruan tinggi dari Pulau Lombok mencari tenaga pengajar yang bergelar magister sosiologi di kota Makassar. Ia terjaring walaupun pada saat itu ia masih mengajar di sebuah perguruan tinggi yang ada di kotanya. Sangat berat rasanya Willian menerima tawaran itu, karena selain sudah mengajar di suatu tempat, ia pun juga masih aktif menyanyi di sebuah stasiun televisi yang ada di kotanya. Namun pada akhirnya, ia merelakan dirinya untuk terbang jauh ke Pulau ini untuk mengabdikan diri di sebuah lembaga pendidikan. Dan inilah yang membuat  seorang Willian tak dapat menahan air mata di atas tumpuan kaki terkhirnya, yaitu di bandara perpisahan.

Di dalam pesawat, Willian masih belum bisa menstabilkan emosi jiwanya. Tubuh yang seolah-olah tak berdaya. Dua bola mata yang masih selalu berkaca-kaca yang terkadang ditutup dengan jemari.kata-kata tasbi berulang-ulang mengalir dari kedua belahan bibirnya.Akhirnya Willian mampu menenangkan hati dan menanamkan prinsip dari suku bangsanya bahwa sekali layar terkembang pantang biduk mendur ke tepi pantai.Dalam arti, tak akan pernah menyerah dalam berjuang untuk menggapai impian.Baginya juga bahwa hari ini gagal tapi besok akan pasti bangkit kembali. Masih ada pintu lain. Bunga bukan hanya setangkai.[]- 05

                       

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru