NUA

                Cukup lama aku menyimpan rasa ini. Rasa yang bersemi saat putih abu-abu. Pernah, rasa ini ingin kutuangkan, namun sayang selalu urung kulakukan. Bukan. Bukan karena aku pecudang. Hanya saja... waktu itu, kurasa, bukan waktu yang tepat. Dan sekarang, sepertinya rasaku akan meleleh karena bongkahannya sudah terpanasi oleh waktu.

                Huh! Aku membuang nafas. Otakku sudah tidak ingin memaparkan akan rasa itu. Dan mataku, mengekori gerak-gerik yang memperlihatkan betapa sintalnya dirinya.

                “Nua...,” aku memanggilnya dengan sedikit nada merdu. Coba ia tidak beredar di sekitarku, mungkin aku akan memanggilnya di dalam hati saja.

                Ia  berpaling ke arahku. Matanya melotot ke arahku. Seolah berkata, “Ya.”

                Untung. Ya, aku selalu mempunyai keberuntungan. Kalian tahu? Posisku sekarang mendua. Maksudku, aku dan Nua hanya berdua di halte yang berapa menit aku tempati, dan Nua hadir.

                “Duduklah.” Aku menepak pondasi ber-keramik kecil di sampingku.

                Nua mengangguk. Ia lalu duduk.

                “Kau suka kopi?”

                “Kau menawariku kopi?”

                “Jik kau ada waktu.”

                Nua senyum. “Sejak kapan kau ingin melupakanku?”

                “Maksudmu?”

                Nua sekali tersenyum, bahkan, tangannya menutupi barisan gigi putihnya.

                O ya, kalian perlu tahu. Aku dan Nua bekerja di salah satu perusahan ternama di Lombok. Setiap hari, aku dan ia bertemu. Bahkan, menunggu di halte salah satu rutinitas kami. Namun, kali ini aku berani menyuruhnya duduk di sampingku. Percayalah. Perkataanku ini sungguh-sungguh. Only once!

                “Apa yang kau maksud?” aku mengulangi pertanyaanku.

                “Terima kasih karena kau selalu menungguku.”

                Nua terhenti. Aku tahu pasti arah pembicaraannya. Mungkin, selama ini, ia sadar tentang diriku yang selalu diam-diam suka.

                “Apa tidak bisa?”

                Bus datang.

                “Bukan seperti itu.” Ia berdiri untuk segera ke bus. “Nanti aku telpon.”

                Aku hanya memandang ia yang segera naik ke bus, dan pergi begitu saja. Dan bus berikutnya, aku pun naik. O ya, bus jurusan rumahku memang berbeda dengan Nua.

###

                Tubuh kurebahkan. Kakiku saling berfungsi untuk melepaskan kaos kaki hitamku. Aku malas membukanya dengan tangan. Selesai. Aku langsung memiringkan tubuhku. Mataku memandang meja kecil di samping tidurku, menatap handphoen yang baru saja kuletkkan. Ya! Aku sedang menunggu telepon dari Nua.

                “Cepal [1], call me.”

                Berapa menit, tidak ada getaran dari handphoenku. Aku kecewa. Aku menutup mataku dengan menarik napas dalam-dalam. Sebuah kecewan yang memperihkan.

###

                “De! Ara so... [2].”

                Aku bergegas mengunci pintu rumahku setelah bos di kantorku menelpon. Bosku orang Korea. Jadi, sedikit-dikit aku bisa meniru bahasa Korea, walaupun sebagain besar aku paham setiap ucapan yang dilontarkan bosku padaku.

                “Pagi... apa aku mengganggumu?”

                Aku terkaget. Nua berdiri di gerbang rumahku.

                “Miane [3], aku ingin berangkat ke kantor denganmu.”

                “Jadi... kau....”

                “Walapun arah rumah kita berbeda, aku....”

                “Baiklah.” Aku mengizinkan Nua naik di sepedamotorku.

                “Kenapa kau tidak jadi menelponku?” aku menyisipkan pertanyaan ketika laju aku pelankan.

                “Maaf. Aku lupa. Untungnya, aku ingat. Dan ini....”

                “Penebusnya?”

                “Kau benar.”

                “Aku akan membicarakan apa yang kita bahas kemarin. Sepulang kerja. Bagaimana?”

                Aku mengangguk.

###

                Di taman samping kantor aku dan Nua duduk. Di belakang kami ada beberapa pohon menjulang sedang. Di tanganku dan tangan Nua menenteng teh gelas yang berapa menit kami beli di kantin kantor.

                “Hmmm....” Nua masih mengulum. “Sepertinya....”

                “Cangkamayo... [4],” aku memberhentikan ucapan Nua.

                “Why?

                “Aku tidak ingin kau membuat aku jadi sakit. Jika ini menyakiti, cukup kau bilang....”

                “Stop!

                Aku tidak melanjutkan ucapanku ketika Nua menjerit. Keningku mengkerut seketika.

                “Aku akan membuat kau menjadi laki-laki beruntung.”

                “Congmal? [5]” aku tersenyum.

                “Ye [6]” Nua tersenyum melebar.

                “Why?”

                “Aku tahu kau menunggu lama untukku. Jadi, tidak ada salahnya aku mencoba denganmu.”

                Mendengar itu, raut wajahku begitu cerah. Senyumku lebih dari lebar. Rasaku... akihrnya bisa terwujud.

                “Kamshae..[7]. Nuuuua-ku.”

                Nua mengangguk-angguk. Dan aku, benar, aku menjadi laki-laki yang bahagia.

 

Note:

[1] Tolong

[2] Ya, aku tahu

[3] Maaf

[4] Tunggu

[5] Sungguh

[6] Ya

[7] Terima kasih

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru