GORESAN CINTA DIDALAM KALBU

Terdengar suara azan berkumandang seiring dengan terbangunnya para manusia dari mimpi panjangnya, semua orang diDesa Merpati yang berada dipelosok kota, dengan langkah yang beriringan menuju masjid untuk menunaikan solat subuh berjama’ah, Sulastri seorang guru SD dikampung ini pun ikut serta dalam iringan kemasjid yang berada agak jauh dari tepat ia tinggal, seusai solat subuh semua penduduk berjalan pulang menuju rumah masing-masing untuk memulai berkegiataan, Sulastri berjalan dengan sendirinya menuju rumah dinasnya yang berada didekat SDN I Merpati tepat ia mengajar, saat ditengah perjalanan Sulastri bertemu Hamdi seorang pemuda Desa Merpati yang terkenal sebagai pereman Kampung, ia sering membuat resah para penduduk kampung karena sering membuat keonaraan, saat itu Hamdi lagi mabuk dan berjalan saambil memegang sebotol minuman keras.

“Hai Cewek”…(Suara Hamdi dengan lembut menyapa sulastri yang ia temui dijalan)

“Ia Mas”…(Sahut Sulatri sambil melihat kebawah).

“Jangan takut sama gua Cewek”..(Kata Hamdi saat melihat muka pucat Sulastri).

“Ia…Mas,, Maaf saya maw numpang lewat mas”…(Kata Sulastri yang semakin takut, dan meminta izin lewat untuk pulang).

Hamdi..”Oh ea silahkan Cewek cantik”

“Ma..akasih Mas,”…(Sulastri langsung melangkah meninggalkan Hamdi).

“wae… Cewek cantik.. Gua mau tau nama lo..” (Terikaan Hamdi ke sulastri yang sudah jauh darinya).

            Dalam hati Sulastri terdengar sebuah bisikan, , “Ampun Dah saya tidak mau lagi ketemu dengan orang thu.. udah mabook, beranting-anting lagi, semoga anak-anak didesa ini g seperti dia”, langkah Sulastri makin cepat untuk sampai ke Rumah dinasnya diiringi rasa takut,  setelah ia sampai dirumahya ia memulai memasak dan bersiap-siap untuk mengajar.

            Senyum bahagia terlihat saat anak-anak memasuki ruangan sekolahan, Sulastri memasuki ruangan kelas untuk mengajarkan Anak Muridnya yang duduk rapi dan mengucapkan salam kepadanya, senyum ramah Sulastri menjawab salam dari muridnya, ia mengajar lebih dari satu tahun diGubuk Merpati tapi ia hanya digaji sekali enam bulan dengan gaji yang tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya, hanyalah ia yang bertahan mengajar di SDN I Merpati karena semua teman-teman gurunya menyerah dan pindah mengajar kekota, ia tetap bertahan dengan satu harapan “ Agar Anak-anak di Desa ini tetap bersekolah dan mendapatkan ilmu seperti anak-anak dikota” ,ia tidak pernah menghitung seberapa gajinya karena ia ikhlas untuk mengajar anak-anak didesa ini, kesibukan Sulastri seusai mengajar ia berdagang kecil-kecilan diwarung disamping rumah Dinasnya, ia berjualan untuk menambah uang untuk kebutuhan sehari-harinya.

            Termenung Hamdi dengan hayalan mengingat pertemuannya tadi pagi dengan seorang gadis yang cantik dan soleha yang belum ia ketahui namanya, Hamdi terkejut saat mendengar sura ribut dari luar rumahnya rasa penasarannya pun timbul dan ia bergegas untuk keluar untuk melihat ada apa diluar rumahnya, terlihat beberapa penduduk Desa Merpati berdiri dihalaman rumahnya dengan kayu dan senjata tajam yang mereka bawa.

“Hamdi kamu keluar dari desaini”..(Teriakan Warga yang marah denganulah Hamdi).

“Apa hak lo-lo  semua mengusir gua dari rumah gua sendiri”..(Teriakan Hamdi dengan lantang dari depan pintu Rumahnya).

“Kesabaran kami dengan perbuatan mu yang semakin menjadi-jadi membuat kami tidak tahan lagi dan kami mau kamu untuk pergi dari desa ini”..(warga yang membawa aura panas untuk mengusir Hamdi dari desa Merpati).

“hahahaha…. Lo pada sudah berani mengusir gua ah,ah”..(Hamdi menyikapi amarah warga dengan sebuah ketwa bahagia setelah mendengar warga sudah tak sagup lagi dengan sikapnya).

“ iya Hamdi,,, kami sudah tidak tahan lagi dengan perbuatanmu yang selalu muntah dimasjid saat kamu mabook”..(Warga yang semakin mrah dengan tindakan Hamdi yang sudah kelewataan).

“HAHAHAHA…… Silahkan siapa diantara Lo pada berani dekatin gua”..(Hamdi menantang warga dan marah melihat warga).

“Sudah-Sudah, kalian semua balik kerumah kalian dan kerjakan apa pekerjaan kalian, biarkan saya yang urus ini”..(Kata seorang Kepala desa merpati yang bernama Bapak Raden).

“Baiklah Pak kepala desa, urus dia bila perlu usir dia”..(Kata warga yang tidak berani mendekati Hamdi).

“Baik, percaya sama saya, sekarang kalian bubar”..(Kepala Desa menyuruh warganya untuk meninggalkan rumah Hamdi).

            Kepala Desa adalah sesorang yang bisa didengar Hamdi karena baginy, Pak Kepla Desa adalah bapaknya, karena Bapak Kepala desa merupakan sahabat almarhum ayahnya.

“Hamdi,,, Baapak memohon padamu nak, jangan ulangin lagi perbuatan mu ini, karena   Masjid itu tepat beribadah warga, dan rumah Allah, kalok memang kamu mau muntah dirumah bapak ajak agar warga tidak marah-marah sama kamu”..(Pak kepala Desa menasehati Hamdi dengan penuh rasa kasih sayangnya, karena ia sudah menganggap Hamdi sebgai anaknya).

“Baik pak,, Hamdi janji tidak mengulanginya lagi”..(Hamdi yang luluh dengan Pak Kepala desa).

Setelah Pak kepala desa memperingatinya ,Hamdi masuk kedalam rumahnya dengan muka kusut dan kesal dengan sikap warga yang telah berani mengusirnya, terbaring dikasur yang setia menemaniny asaat beristirahat, wajah sulastri terbayang lagi membuat Hamdi makin penasaraan ditemani dengan pertanyaan-pertanyan dari dalam hatinya, Hamdi semakin tersiksa dengan rasa penasarrannya ia pun mengambil bungkusaan rokok yang ada diatas meja dekat kasurnya, tapi ia makin marah setelah rokoknya habis dan ia keluar runahnya mencari tempat jual rokok tapi semua warung yang ia jumpai tidak menjual rokok , Hamdi terus mencari warung hingga akhirnya ia berjalan menuju SDN I Merpati untuk mencari warung didekat sana ,sesapainya disana ia melihat gadis yang membuat hatinya selalu membayanginya dan bertanya-tanya.

“Lo Gadis yang tadi pagi gua ketemui dijalan thu kan..??”…(Kata Hamdi dengan tersenyum menunjuk Sulastri).

“Iya Mas”..(Kata Sulastri menunduk).

“Kebetulan bertemu lagi, Siapa nama Lo..??”..(Hamdi yang menyodorkkan tangan mengajak Sulastri kenalan).

“Sulastri Mas..”(sulastri yang memperkenalkan namanya keHamdi).

            Dari sinilah keduanya saling berkenalan dan memulai cerita asmarnya percintaannya, Sulastri berhasil merubah Hamdi yang dulunya pereman menjadi pemuda baik-baik, semua pendduk desa Merpati heran dengan perubahan sikap Hamdi yang berubah menjadi baik dan tidak membuat onar lagi, bahkan sekarang Hamdi selalu solat berjamaah dimasjid yang tidak jauh dari rumahnya, ia pun selalu mengantar Sulastri sang pujaan hatinya pulang kerumah Dinasnya, Hamdi berubah derstis akibat Sulastri yang menyuruhnya berubah agar cintanya diterima oleh Sulastri, Hamdi yang sebenarnya adalh serjana dengan peredikat sejana terbaik dari tempanya kuliah memulai  mengabdi menjadi guru SD di tempat Sulastri mengajar  dan menjadi Guru tetap disekolahan itu seperti halnya Sulastri.

Melihat Percintaan sulastri dan Hamdi yang semakin hari semakin menunjukan keromantisannya, membuat Joko sianak kepala desa cemburu karena ia jatuh cinta kepada sulastri yang mencintai Hamdi,Joko pun marah ke Hamdi dan berniat jahat agar Sulastri ia dapatkaan dari tangan Hamdi. Joko beberpakali mencoba memisahkan Hamdi dengan Sulastri tapi usahanya selalu gagal malah membuat rasa sayang Sulastri terhadap Hamdi makin besar.

            Suatu malam Joko mengajak Hamdi untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya yang berada didesa sebrang yang tak jauh dari desa Merpati, disana ia bermaksud untuk membuat Hamdi mabook lagi, tapi keteguhaan iman Hamdi telah berbeda dengan yang dulu, kini ia mengharmkan minuman keras dan telah berjanji keSulastri untuk tak lagi mendekati minuman keras, tapi dengan godaan Joko yang ia agap sebagai saudaranya membut ia mencoba minuman keras hingga membuat ia mabuk berat, dari sanalah rencana jahat Joko makin menjadi dan menyuruh Yanti untuk berpura-pura  tidur bersama Hamdi yang mabuk berat, ketika semua rencana sudah tersusun dengan arapi, Ahmad bertugas mengumpulkan warga dan memepergoki Hamdi yang sedang tidur bersama Yanti, sedangkan Joko bertugas untukmemeberitau Bapaknya dan warga kampung Merpati beserta Sulastri agar menyaksikan derma kejahatan yang telah direncanakan olehnya.

            Keesokan Harinya Sulastri yang tidak melihat Hamdi solat berjamaah Subuh diMasjid, membuat hatinya hawatir terjadi apa-apa pada sang pujaan hatinya, beberapa detik kemudian terdengar suara Joko berteriak memanggil bapaknya yang lagi solat Subuh berjamah bersama penduduk desa. Ia memberitaukan bahwa Hamdi lagi dikeroyok karena telah tertangkap basah menodai salah seorang perempuan penduduk desa Sebrang dan akan dibakar hidup-hidup, kepaladesa dan penduduk lainnya terkejut mendengar kabar tentang Hamdi dan tak menugu lama semuanya berangkat keDesa Sebrang melihat kondisi Hamdi, Sulastri yang mendengar kabar tentang pujan hatinya terkejut dan tak percaya sang pujaan hati yang telah berubah menjadi orang yang baik-baik dan taat beribadah berbuat sekeji itu, Sulastri dan penduduk lainnya beserta pak kepala desa telah sampai disebuah rumah yang dipadati oleh warga Desa Sebrang yang memukuli Hamdi dan  akan membakar Hamdi hidup-hidup, Pak Kepala Desa Merpati mencobak menenangkan warga desa Sebrang yang bermuka merah bagaikan api menyala dan bertanya kepada Hamdi yang saat itusudah babakbelur dihajar wraga.

“Sudah-Sudah jangan kalian maen hakim sendiri, biar aku bertanya dulu apakah Hamdi benar-benar melakukan hal seperti bapak-bapak tuduhkan, apabila benar mari kita serahkan dia kepihak yang berwajib”…(Suara lantang pak Raden kepala Desa Merpati).

“Bapak Kepala desa,,,sudah jelas-jelas kami mempergoki dia tidur bersama yanti (Gadis desa Sebrang, yang disuruh oleh Joko untuk berpura-pra tidur bersama Hamdi )”..(Kata warga yang kepanasan dengan apai amarah).

“Biarkan Aku bertanya dulu pada Hamdi dan bapak-bapak saya harap untuk tenang dulu agar kita semua mengetahuikebenarannya”…(Pak Raden dengan muka marah dan sedih).

“Hamdi,,,Apakah benar apa yang dikatakan bapak-bapak ini..???”..(Pak Raden bertanya kepada Hamdi sambil ia memegang muka Hamdi yang berlumuran darah dan babak belur akibat pukulan waraga).

“Tidak benar pa…ak… ,, Sa..aya tidak pernah menodai gadis itu,,,sa..ya berani sumpah atas nama Allah”..(Hamdi menjawab pertanyaan Pak Raden dengan menangis dan menahaan rasa sakit).

“Terus bagaimana bisa bapak-bapak ini mempergok kamu tidur bersama dia..???”..(Pak Raden bertanya lagi ke Hamdi).

“Ta…di.. Saya kesini untuk mengahdiri acara ultah gadis ini yang dia bilang kesaya dia temannya  Joko dan saat itu saya dipaksa untuk minum-minumaan keras dan setalah itu saya lupa karena mabok berat… saya terkejut saat Bapak-bapak ini memukuli saya..!!!” (Hamdi menjelaskan kronologis kejadiannya)

 “Bohong itu bapak,, saya tidak pernah mengajak dia kesini, dan saya juga tidak mengenal gadis ini,, kamu tega memfitnah saya Hamdi..”..(Joko menanggapi penjelasan Hamdi dengan sura lantang).

“Astagfirullah Halazi,,, Joko aku tidak memfitanah kamu, tapi memang kamu yang mengajak aku kesini dan memaksa akau untuk minum-minuman keras hingga akhirnya aku mabok..”(Hamdi yang terjaget dengan perkatan bohong Joko dan menuduhnya memfitnah dia).

“Ah…. Stan alas kamu, jelas-jelas kami melihat kamu datang kesini sendirian dan minum-minuman keras lalu tidur bersama gadis ini”..(Kata Ahmad seorang pemuda desa Sebrang yang menggerbek Hamdi dan salah seorang yang tealah bersengkokol dengan Joko untuk melancarakan rencana jahat Joko untuk memeisahkaan

Hamdi denga Sulastri ).

“Baik lah, kalian bawa dia kepihak yang berwajib, biar dia mempertanggung perbuatannya”..(Kata Pak Raden yang percaya atas omongan Joko anaknya).

“Pak tolong saya, saya tidak berslah,,, awas kamu Joko tunggu pembalasaan saya”..(Kata Hamdi yang berlutut dikaki Pak Raden dan mengancam Joko atas kebohongannya dan fitnahnya).

            Warga Desa Sebrang yang panas dan marah menyert Hamdi kekantor Polisi yang berjarak ± lima kilo dari tempat penggerbakaan, sedangkan Sulastri hanya bisa menangis dan tak percaya melihat sang pujaan hatinya yang babak belur dihakimi waraga, ia percaya perkataan Hamdi tapi ia tidak berdaya untuk membantu sang pujaan hatinya yang digeret seperti binatang, semua warga Desa Merpati yang menyaksikan Hamdi meneteskan air mata dan bergegas pulang bersama Pak Raden dan sulastri yang dirangkul oleh Joko.

            Beberapa Tahun kemudian, Hamdi telah bebas dari penjara dan kembali pulang keDesa Merpati, tapi kini semua warga  Desa Merpati telah berubah beserta keadan kampung yang telah ia tinggalkan selama lima tahun dibalik jeruji besi, Desa yang sudah berkembang dimana sebelum ia masuk penjara jalan didesanya belum diaspal hanya terbentang tanah dan bebatuan yang menjadi jalan raya, Rumah-rumah berdiri dengan sederhana yang bertembokan pagar beratapkan dedaunan kelapa, serta dulu orang berjualaan hanyalah satu Sulastri sang pujaan hatinya Sajak, Masjid yang dulu bertembokaan pagar dan beratapkaan sebuah asbes yang pecah dan juga sekolaahan tempat ia mengambdi dan menjalin asmara cintanya bersama Sulastri yang hanya mempunyai dua ruangan kelas. Tapi kini semuanya beubah bagaikan sebuah kota yang jalan sudah diaspal, rumah-rumah warga berdiri dengan megah, masjid yang berkemerlapan dengan kermaik berdiri megah dan besar , toko berada dimana-mana, dan sekolahan yang sudah megah dan besar yang memiliki ruangan kelas yang tercukupi apa lagi bertingkat dan besar, kegauman dengan desanya tak henti-henti seiring dengan kaki melangkah menuju sebuah warung makan yang dulu berdiri sebuah warung sederhana yang tak punya tembok tempat ia mengenal Sulastri dan menjalin kisah percintaannya dengan sulastri disana.

            Sesampainya diwarung sebelah sekolahan yang megah dan bertingkat ia melihat seorang anak yang lagi asik bermain mobil-mobilan dan mendengar suara teriakan dari dalam warung yang megah dan besar, suara yang tidak pernah ia lupakan dan membuat Hamdi memepercepat langkahnya untuk memasuki warung dan bertemu dengan Sulastri, tapi Hamdi menemukaan sbuah cerita yang berbeda dengan dulu, ia melihat sulastri yang lagihamil keluar dengan Joko bergandengan tangan dari warung tersebut. Hamdi merasakan didalam hatinya ledakaan gunung merapi yang menyemburkan api yang cukup untuk membakar manusia , kekecewaannya sebesar sunami yang dahsyat untuk memnyampu rata Desa Merpati, seuntai perkataan pun tak mampu ia keluarkan. Ketika melihat Joko tersenyum padanya lalu dengan secepat kilat ia langsung menghantam muka Joko dan memukulnya berulangkali, tapi ia berusaaha dihalangi oleh isap tasngis Sulastri dengan perkataan memohon padanya, Hamdi seakan merasakan sebuah aura Salju yang memadamkan apai berkobar dalam Hatinya sesaat melihat sulastri memohon dan bersujud dihadapannya.

“Hamdi sudah…Aku mohon sudah-sudah jangan pukul suamiku lagi”..(Sulastri yang cobak menghentikan Hamdi memukul Joko dangan sebuah tangisaan sang istri ).

“Apa…..!!!”(Hamdi terkejut mendengar perkataan Sulastri).

            Dan ia memtuskan untuk melepaskan Joko lalu terdiam terkejut seakan perkataan yang salah keluar dari mulut Sulastri setelah mendengar perkataan Sulastri, kobaran api telah apadam tapi kini suasana hati Hamdi berubah menjadi sebuah gedung sasaraan boom dan hancur roboh berkeping-keping, Hamdi berdiam tanpa seribu bahasa dan memulai ujan air mata entah bahagia atau sedih namun ia seakan tidak percaya dengan hal yang telah terjadi  menemukan sebuah fakta yang pahit untuk ditrimanya seakan ia menelan sebuah obat yang seribu kali pahit dari pada racun.

            Berjalan meninggalkan warung dan menuju sebuah gubuk bambu yang kecil berada dibelakang masjid, ia duduk terdiam dengan air mata mengalir seakan tiada akhir, suara Sulastri yang mengatakan Joko adalah suaminya terus menghantui pendengaraan Hamdi sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, karena orang yang membuat hidupnya berubah dan membuat hidunya berarti telah menikah dengan orang yang membuat ia menekam dalam jeruji besi dan kehilangan sang pujaan hatinya, seuntai surat ia tulis tertujukan kepada sulastri.

Sebuah kebenaraan akan tetap menjadi salah ketika godaan setan selalu menghasut dan membisikan perkataan yang bohong, ketika aku menemukaan tulang rusuk ku Hidupku sangatlah berarti tapi kini tulang rusuk yang membuat aku tegar dalam meniti kehidupan telah diambil seorang teman yang memakan bangkai temannya untuk mendapatkaan kamu, tapi kini akau telah menemukaan jalan yang telah ku pilih menjadi jalaan yang benar meski ribuaan manusia mengataakan slah.

Semoga kamu bahagia bersamanya dalam jalan yang berbeda,, aku bahagia melihat kau tertawa dan aku menangis saat kau bersedih, aku pun terluka saat melihat kau tersakiti. Cintaku untukmu akan abadi meski aku telah mati.

 

Ttd

.(Hamdi).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru