Kebun Kecil Argi


Banyak botol bekas di rumah Argi. Ayah biasa mengumpulkan botol-botol bekas yang dibuang oleh orang-orang. Ayah bukan pemulung. Tapi, begitulah Ayah, suka mengumpulkan barang bekas. Kata Ayah, barang-barang bekas masih bisa dimanfaatkan.

            Hmm... Argi ingat kata-kata Ayah. Jadi, sekarang ia punya ide. Ia ingin buat kebun kecil di rumahnya. Tapi, di mana ia buat, ya? Rumahnya kecil. Pekarangannya juga kecil.

            “Yah... aku ingin buat kebun kecil, tapi, aku bingun mau di mana,” ucap Argi ke Ayah di teras rumah.

            Ayah menyeruput kopinya dulu. Koran yang dipangkunya diambil. “Berkebun?”

            “Ya, Yah, aku ingin berkebun. Dan, tentunya aku ingin memanfaatkan barang-barang bekas yang Ayah kumpulkan.”

            “Oke!” Ayah berdiri, kemudian megarah ke tembok samping rumahnya. Tembok itu sebagai pembatas antara rumahnya dengan rumah tetangganya.

            Argi mengikuti ayah.

            “Nah, di sini saja. Kamu tinggal menempelnya di sini. Pakai paku dan kawat. Gimana?”

            “Pakai botol, ya, Yah?”

            Ayah mengangguk.

#

            Mendapat pencerahan dari Ayah, membuat Argi berpikir untuk membuatnya.

            “Gimana, ya?” Argi bergumam sendiri. Di depannya ada botol-botol bekas yang berapa menit lalu diambilnya dari gudang.

            Argi mencoba-coba berapa pola untuk membuat pot untuk ditempel di temboknya. Pertama, ia memotong botol dibagian kepalanya saja. Namun, setelah ia membayang-bayangkan, ia urung menggunakan itu. Kedua, ia kemudian memotong bagian dari kepala sampai bawah botol. Sebagian yang dipotongnya. Setelah dibayang-bayangkan, ia suka dengan yang kedua.

#

            “Apa rancanganmu sudah jadi, Gi?” tanya Ayah pada Argi yang sedang memotong-motong botol di teras.

            “Ya, Yah.”

            “Kamu pakai tanah atau apa?”Ayah duduk.

            “Enaknya pakai apa, Yah? Menurut Edwin, teman kelasku, kalau menanam di botol harus pakai arang sekam. Gimana menurut Ayah?”

            “Ya. Kata teman Ayah juga, sebaiknya pakai arang sekam.”

            “Arang sekam didapat dari mana, ya, Yah?”

            “Besok Ayah bawakan. Kebetulan ada teman Ayah yang jualan.”

            Argi mengangguk-angguk.

#

Rancangan Argi sudah jadi. Botol sudah ditempel di tembok. Botol-botol itu berderet membentuk barisan.

“Sudah beres, Gi?” sapa Ayah yang sedang membawa sekarung arang sekam dan bibit tanaman. Ada bayam. Ada sawi, dan ada bawang merah.

“Kita mulai, Yah!”

“Tentu!”

Argi semangat. Ia mulai memasukkan arang sekam ke botol-botol yang sudah berderet. Setelah penuh, ia menyiram arang sekam itu. Ayah membantu Argi menanan bibit tanaman. Setelah Argi selesa menyiram, ia kemudian membantu Ayah menanam bibit tanaman.

Selesai!

Argi puas melihat kebun kecil yang dibuatnya. Ia berharap, tanamannya akan tumbuh subur.

Botol bekas, mari dimanfaatkan. [] - -01

#cerpen versi aslinya

 

 

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru