BLK Dan Nostalgia Hujan

Hujan semakin deras, sebatang rokok kuambil untuk menemaniku yang sedang sendiri menunggu hujan reda di halte pinggir jalan depan gedung itu. Gedung itu adalah gedung balai lapangan kerja. Orang-orang selalu menyebutnya BLK, termasuk diriku yang saat itu belum sepenuhnya memahami apa itu BLK. Pertama kali  aku memasukinya, ada perasaan bangga bersama seribu harapan yang sekiranya akan kuraih melaui BLK . Namun bukan bagaimana proses pelatihan itu yang menjadi nostalgia  yang selalu ada dalam ingatanku.

Aku sadari memang banyak hal yang kuperoleh dari gedung BLK, salah satunya arti kecewa dari belum adanya karier gemilang yang dapat kuraih sampai detik ini. Semua itu mungkin karena kesalahanku sendiri atau sebaliknya. Dan itu adalah pelajaran yang sangat berharga.

Hujan deras yang sedang kutunggu saat ini atau hujan deras tempo hari  mungkin telah menghapus jejak-jejak langkahku kala mondar-mandir di halaman gedung  BLK yang agak cukup luas . Dan itu tidak mengapa, karena jejak langkahku itu tidak begitu penting untuk dipublikasikan dan  kusimpan sebagai memori. Hanya saja  jejak langkah seorang gadis yang sering bersamaku di halaman itu yang begitu manis untuk  dihapus. Entah kenapa aku selalu teringat  kepadanya walaupun kerap kali aku mencoba melupakannya.  Sampai detik ini aku tidak tau apakah itu kenangan manis atau sebuah kenyataan yang pahit. Hanya saja terlalu manis untuk dilupakan.

Selalu saja aku  ingin tertawa dan terkadang juga ingin menangis jika membuka lembaran-lembaran masa lalu bersama dirinya. Aku masih belum  bisa memastikan apakah dirinya itu yang menganggu konsentrasi belajarku sewaktu di BLK atau tidak. Yang jelas dia adalah penyemangatku yang membuatku rajin masuk di balai pelatihan itu. Hal paling menariknya adalah ketika kita pulang dari balai pelatihan. kita biasa pergi ke taman atau ke suatu tempat yang indah sebelum aku mengantarkan ia pulang kerumah. Hanya saja hujan selalu turun dan kerap kali membuat aku dan dirinya tak bisa sampai ketujuan yang diingnkan. Dan kita biasa bersama menunggu hujan reda.

Cinta hadir di tempat dan waktu yang tak pernah terduga dan tak dapat kuduga-duga termasuk di sela-sela menunggu hujan bersama dirinya Atau  mungkin cinta itu tumbuh ketika aku  merasa cemburu karenanya. Atau mungkin ketika aku  harus menantang maut untuk kerumahnya pada malam yang sepi.  Atau mungkin pada saat hujan reda yang membuat aku lega karena aku bisa memboncengnya lagi. Dan mungkin memang  cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa tempat waktu dan juga alasan yang jelas.

Entah kenapa bisa demikian. Yang jelas, aku begitu berbahagia pada waktu itu bersamanya. Aku begitu marah ketika ia bersama lelaki lain. Aku ingin bertemu denganya ketika aku jauh darinya. Dan sampai akhirnya aku berbahagia ketika ia memilih jalannya sendiri yang ia sukai.

Sepatutnyalah  aku harus jujur. mana mungkin aku bisa melupakan  jejak langkahnya kendati  hujan datang berkali-kali untuk menghapusnya. Dan sebaliknya aku yakin, ia tidak akan melupakan diriku  kendati  hujan telah membuat kita tak bisa saling pandang apalagi bemesraan.

Diluar kepala aku sudah hapal betul bagaimana isi hatinya yang terdalam. Dan mungkin saat ini ia sedang bernostalgia dengan hujan yang jatuh dari wuwungan rumah mertuanya. Tentunya dia sedang mengingatku sambil menatap  hujan dari balik  jendela kamarnya sembari ia menyusui anaknya. () -05

 

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru