Ilustrasi Pagi dan Kakek Tua

Pagi yang cerah. Aku duduk di beranda, seperti biasa menikmati kesegaran embun yang terasa seolah-olah  memberikan pencerahan bagi jiwa. Tetangga-tetangga di sekitar rumahku bisanya akan mulai menyapu halaman setelah ia memasak air atau menanak nasi. Anak-anak kecil mempersiapkan dirinya mandi sebelum berangkat kesekolah yang biasanya untuk main-main dan menahan rasa takut kepada guru-guru mereka yang sedikit menyeramkan. Begitulah pagi di desa, yang oleh cahaya matahari pagi, memberikanku pemandangan kehidupan sosial semacam demikian.

 Tidak ada yang bisa kulakukan pagi ini, melakukan rutinitas sebagaimana teman-teman sebaya yang pergi kuliah, pergi bekerja, atau sibuk di kasurnya yang empuk adalah hal yang tidak bisa aku lakukan. Aku terlalu malas untuk bekerja, dan juga memang tidak ada pekerjaan yang samapi detik ini menghampiriku. Begitu juga pergi kuliah, berpakaian rapi, duduk di meja dan gedung yang bertingkat, masa-masa itu rupanya sudah aku lewatkan dan kini aku sudah bosan dengan semua itu. Andai saja aku tidak terlalu awal tidur tadi malam, mungkin sepagi ini aku masih tidur nyenyak di kamar tanpa harus melewati dilema pemikiran semcam  ini.

Terus terang, ketika melihat bagaimana pohon-pohon hijau ranum dan hamparan sawah yang berkabut selimut pagi, selalu membangkitkan rasaku untuk bekerja dan menjalani sebuah usaha. Aku ingin menjadi tuan tanah, memiliki lahan yang luas dan membangun pabrik yang besar. Sebab, tidak ada sebuah pekerjaan yang dapat menjamin seseorang akan kaya di desa ini. Tidak ada upaya pengelolaan alam yang melimpah ruah dari para penghuninya. Mereka hanya bisa menggerutu dengan nasipnya yang serba susah dan akhirnya pergi merantau ke negeri orang untuk dapat membangun rumah atau membayar hutang kepada rentenir di kampung halaman. Oleh karenanya aku ingin ada pabrik di tempat ini, menampung ratusan pekerja dengan gaji berjuta-juta.

“Ah, mungkin ini hanyalah ilusiku, lagi pula aku belum ngopi pagi ini?”. Inilah pertanyaan yang selalu terngiang di pikiranku ketika aku memikirkan hal-hal yang berbau cita-cita.

Biasanya Sesosok tua selalu lewat di depan rumahku setiap pagi. Entah kenapa pagi ini ia belum juga kelihatan. Ia biasanya akan pergi ke sawah untuk mengurusi sawahnya orang karena ia buruh tani. Yang ia miliki hanyalah cangkul dan beberapa sabit untuk memotong rumput, memberikan makan kepada sapi orang yang ia pelihara. Mungkin tidak ada yang dia akan kerjakan di sawah pagi ini. Lagi pula sekarang musim kemarau. Namun, aku jadi penasaran di buatnya, apa yang ia kerjakan pagi ini dirumahnya?

Aku masih duduk di beranda. Matahari pagi perlahan semakin meninggi dari celah-celah pepohonan jati yang mengering di desaku. Pandangan matakupun semakin jelas melihat bagaimana pohon-pohon diatas bukit itu kehilangan daun-daunnya. Tiba-tiba dalam pandangan sorot mataku ke bukit yang mulai gundul, aku mendengar obrolan ibu-ibu yang rupanya sedang bertemu di pinggir jalan, tidak jauh dari depan beranda rumahku.

“ Eh Sunar, apa jadi mertuamu pergi ke Kalimantan ?”

“ Jadi, dia pegi berdua dengan Nasir”.

Ah, ternyata kakek tua yang biasa lewat di depan rumahku kini pergi ke Kalimantan. Apa yang hendak dia lakukan ke Kalimantan ? apa ia bekerja di perkebunan? Tentu ia akan di tolak karena tenaganya yang sudah sangat minim. Aku jadi semakin penasaran. Aku memutuskan untuk mendengarkan secara serius obrolah ibu-ibu yang berpapasan di pinggir jalan itu,

“ Emang dia tau letak rumahnya dimana?"

“ ya dia sudah punya alamtnya kemarin dikasih oleh Mursy”

“ Mursy tau dariamana ?”

“ Mursy  kerja di tempatnya Darji”

Rupanya kakek tua itu pergi ke Kalimantan untuk mencari anaknya. Darji sudah lama meninggalkan kampung halaman. Cerita yang beredar yang di tangkap oleh kakek tua itu, bahwa Darji sudah menjadi orang kaya, punya perkebunan yang luas dan juga pabrik pemotongan kayu super Kalimantan. Kakek tua itu sangat senang dan terharu mendengar kisah kesuksesan anaknya. Sampai si Mursy, berandalan kampungku itu  merantau ke Kalimantan, ternyata bekerja di pabriknya Darji menceritakan semua ke kakek tua itu lewat handphone.

Kini kakek tua itu telah berangkat ke Kalimantan menggunakan kapal laut dengan menumpang di fuso atau truk pengangkutan antar pula di temani oleh Nasir. Ia tidak memikirkan apa Darji anaknya sudah melupakannya atau belum. Ia hanya ingin melihat anaknya itu, bagaimana kesuksesannya, bagaimana rumahnya, mobilnya, dan lain sebagainya sebagaimana cerita Mursy. Namun saya khawatir, jangan-jangan kakek tua itu ditipu oleh Mursy, karena aku tau Mursy memang sangat jahil  dan sudah terkenal bengal  di desa. Lagi pula, mana mungkin si Darji tidak pulang atau menghubungi ayahnya, si kakek tua itu kalau ia sudah sukses seperti itu di rantauan. Darji sendiri adalah guru ngaji dulu di desa ketika aku masih kecil. Dan ia transmigran ke Sulawesi untuk membangun kehidupn baru sepuluh tahun yang lalu. Hmmm, namun entahlah, semoga si Mursy benar dan tidak membohongi si Kakek tua itu. Lagi pula aku juga belum ngopi pagi ini.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru