Dayang

Aku tak mengerti kenapa cinta begitu mudah menampakkan dirinya pada permukaan fijar kehidupan. Namun, ketika hal itu terjadi, selalu saja ada hal-hal yang menutupinya. Entah kenapa hal semacam itu terjadi, mungkinkah kebodohan mempunyai peranan yang begitu luar biasa dalam menyembunyikan sesuatu hal yang ajaib yang disebut cinta itu?

Suatu hari aku di Gondang,KLU. Cinta yang disebut-sebut itu datang menyergap mereka yang tinggal di tempat itu. Hampir setiap malam, tarian akan menumpahkan segala suka cita atas kehadiran cinta hingga para penabuh gamelan kelelahan. Lalu  cinta akan terus tersenyum untuk menghibur iri para penabuh atau para lain yang tak bisa menari. Dan Fajar akan datang, penari tertidur dalam tariannya bersama mimpi-mimpi indah yang selalu di lantunkan oleh irama gamelan dan ditutup dengan sempurna oleh gemuruh suara, sorak sorai ayam-ayam  emas dari utara.

Aku melihat kelarutan di dalamnya adalah sesuatu hal yang menyebabkan keabadian karena ia akan selalu membekas di benak pikiran, menjadi nostalgia indah yang akan di tangisi kala masa akan berganti. Dan di Gondang, hal ini harus menjadi adat, aku akan melihatnya lagi dimana semua orang  tidak akan berhenti menari untuk menumpahkan rasa cinta agar cinta dapat menguap tinggi ke awan dan akhirnya kembali mencurahkan senyumnya di fijar kehidupan dengan adanya.

Namun entah kenapa, selalu saja ada kerisauan di hatiku. Aku menyelami jiwa yang berada di balik wajah yang berpura-pura mencinta. Berkumpul dalam hamparan bangunan-bangunan yang membisu. Dan andai kata bangunan-bangunan itu dapat ku ajak berbicara, mungkin akan sedikit mengobati kerisauan hatiku yang selalu datang karena aku telah jauh dari Utara, tempat para masyarakat yang suka menari-nari itu berkumpul. Dan kini aku selalu merindukan Dayang, gadis yang kujumpai dan membuatku menerima dunia dengan apa adanya dari celah-celah pohon di Utara. Aku juga telah jauh darinya, dan kerap kali kuhabiskan malam-malamku hanya untuk berbisik-berbisik menggerutuinya.

“ Dayang, kemarilah ! jika tidak,  undanglah aku kerumahmu lagi, lalu jamulah dengan beberapa senyuman di permukaan bibir gelas itu !”

Aku akan menuggu Dayang untuk waktu yang lama jika aku tidak melupakannya walaupun ia melupakanku. Namun, ku tau pasti bagaimana ia sekarang telah tumbuh di bilik pagar bambu itu. Malam-malam yang dingin tak bisa masuk kesana. Dan tentu saja ia akan menari di saat musim hujan datang, panen raya, dan juga dalam musim kemarau berkepanjangan. Semoga ku tahu bahwa ia masih seperti dulu, kala sebelum aku meninggalkan pagar gapura di desa itu.

 Suara desiaran angin telah mengundang hujan, seolah mencoba melerai permasalahan yang ada di antara cinta dan kebencian. Mungkin aku tak bisa mengikuti bagaimna kisahnya karena aku tak bisa mendengarkan dongeng lagi. Namun aku dapat menyaksikan bagaimana kebencian telah menjadi pemenangnya disini. Aku tak melihat cinta di sepasang mata serdadu kota, atau dalam tatapan kumpulan persahabatan-persahabatan yang selalu ingin mengibarkan bendera perang.

Itukah kebodohan, ataukah hanyalah kebodohan dari prasngkaku semata ? aku belum memahaminya dalam-dalam, namun aku merasa gelisah ketika melihat itu disini, di dalam hatiku yang perlu ditata dalam-dalam.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru