Dewi Rengganis Bag.5

KM. Sukamulia - Ketika Rengganis tengah asyk memetik bunga, Raden Nune Repatmaja keluar sambil berkata dengan nada yang cukup keras, “orang manakah ini, ia adalah perusak, perempuan ini lancang sekali, kamu benar-benar tidak punya tatakrama”.

Rengganis betul-betul terkejut mendengar perkataan laki-laki itu, namun sedikitpun ia tidak mundur dari posisi-nya. Sambil menatap tenang ke arah laki-laki yang tumben dilihatnya itu, Rengganis berkata dalam hati, “waduh bahaya, mungkin laki-laki ini yang menjadi pemilik Taman Sari”.

Raden Repatmaja tidak sanggup melawan tatapan lembut Dewi Rengganis, sedang Rengganis terdiam saja tanpa selangkah-pun berpindah dari posisnya. Di dalam hati Rengganis berbicara, “memang benar apa yang dikatakan oleh ayah, Pangeran Mekah memang elok menawan, ketampannya memang tiada bandingnya”.

Repatmaja sangat marah, namun pesona Rengganis memadamkan kemarahannya, ia terkesima dan hampir tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat kecantikan puteri pemangsa sari bunga itu. Dengan suara yang lembut ia bertanya kepada Rengganis, “wahai puteri yang elok, siapakah dirimu ?, beritahulah daku, darimanakah dikau sebenarnya ?”.

“Siapakah orang tua mu, siapa yang menyuruh mu ke sini dan memetik bunga di taman ku ?”, tegas Repatmaja melanjutkan pertanyaannya. Rengganis segera menjawab pertanyaan itu sambil terus menatap wajah sang pangeran, “duhai gusti, saya berasal dari gunung yang bernama Gunung Mas, aku bernama Rengganis, anak dari gusti Pandita Batara Guru”.

Wajah Repatmaja merah padam, “kalau demikian kamu adalah perempuan yang lancang, kamu telah merusak Taman Pangeran, gara-gara kamu taman bunga ku rusak, kamu memang betul-betul berani masuk ke taman ku tanpa seizing ku, kesalahan mu sungguh besar, untuk itu patutlah kamu kena hukuman, kamu akan kami tangkap dan kami masukkan ke dalam penjara”.

Rengganis tersenyum mendengar semua perkataan sang pangeran, ia-pun berkata, “semua itu tidak bisa jadi ukuran sebab saya ini orang sengsara, saya datang di tempat ini hanya untuk mandi dan memetik bunga, namun ternyata gara-gara hal itu saya disalahkan, jika memang itu adalah suatu kesalahan, hamba siap membayar sejumlah bunga yang telah saya petik”.

“Berapapun harganya, hamba akan membayarnya, berapapun tuan mau saya akan berikan, apakah tuan mau uang ataukah emas, apakah tuan mau dibayar dengan intan permata ?, tenang saja tuan, hamba akan kembali membawa bayarannya, asalkan tuan tidak memenjarakan atau membunuh hamba”, pungkas Rengganis sambil tersenyu menatap wajah garang sang pangeran.

Mendengar perkataan Rengganis, Raden Repatmaja semakin marah. Wajahnya merah padam, ia merasa diremehkan. “Kamu tidak perlu berkata begitu, harta benda ku tidak ada tandingannya, tidak ada orang yang bisa menandingi kekayaan dan kekuasaan ku di tanah ini, aku ini pangeran tunggal Datu Jayangrena yang tersohor hingga seantero dunia, kamu sungguh lancang berkata demikian”, kata Repatmaja meluapkan kemarahannya.

Rengganis tenang saja, wajahnya tidak sedikitpun beraura marah, ia tersenyum simpul mendengar kesombongan Repatmaja. Dengan suara yang halus lembut Rengganis menjawab kemarahan Repatmaja, “duhai tuan pangeran, jaga perkataan tuan, tua tidak perlu membanggakan kekayaan tuan itu, tidak perlu pula tuan membanggakan ketersohoran ayah tuan, yang kaya itu hanya-lah Allah, semua yang tuan miliki adalah titipan dari-NYA, ingat itu tuan pangeran”.

Dengan tenang Rengganis meneruskan perkataannya, “duhai pangeran yang sombong, dikau tidak perlu marah dan bermuka merah padam seperti itu, aku adalah seorang perempuan dan sangatlah tidak patut dikau memarahi ku seperti itu, ingatlah bahwa engkau seorang pangeran dari penguasa yang agung dan bijak sana dan tidak sepatutnya seorang pangeran berkata seperti itu”.

Mendengar perkataan Rengganis, Raden Repatmaja terlihat pucat dan lemah, ia seakan-akan terhipnotis oleh senyum manis perempuan itu, dengan suara yang rendah sang pangeran berkata, “duhai mas mirah intan gusti, saya mohon maaf atas kata-kata ku tadi, jika perkataan ku tadi membuat mu marah dan tersinggung maka hamba daku mohon maaf yang sebesar-besarnya”.

Berlahan sang pangeran mendek sedangkan Rengganis tidak sedikitpun berpindah dari tempatnya. Sambil terus mendekat, Repatmaja berkata, “duhai gadis nan ayu jelita, kata-kata mu sangatlah bermakna, maafkanlah kesalahan ku yang telah memarahimu dan aku telah memaafkan segala kesalahan mu yang telah memetik bunga di taman ku ini”.

Repatmaja terus mendekat, dekat dan semakin dekat. Sesampai di dekat Rengganis, sang pangeran menjulurkan tangannya dan hendak menggapai tangan Rengganis. Dengan segera putrid nan jelita itu surut, ia tidak mau di sentuh oleh laki-laki dan memang selama hidupnya ia belum pernah disentuh oleh laki-laki selain ayahandanya.

“Duhai puteri ayu, mengapa dikau menjauh, mendekatlah dan tinggallah bersama ku, janganlah dikau pergi, dampingilah aku di sini dan dikau dapat menikmati semua yang ada di Taman Sari ini”, kata Repatmaja sambil memandang Rengganis yang menjauh darinya.

“Maaf tuan, hamba hanyalah orang malang, hamba tidak patut di tempat ini, jawab Rengganis. “Tidakkah dikau perihatin melihat ku, perkataan mu yang halus lembit membuat aku sadar, sungguh dikau patut menjadi pendamping ku dan jika dikau meninggalkan aku maka aku akan merana sepanjang hayat”, kata-kata Repatmaja merayu sang puteri ayu agar ia mau mendekat kepadanya.

Sayang sungguh sayang, Rengganis bukanlah wanita yang lemah dan mudah terbuai atas rayuan laki-laki. Ia semakin menjauh dan berkata, “duhai pangeran nana gung, hamba ke sini hanya sebentar, hamba pamit sebab hamba harus pulang ke Gunung Emas”. Repatmaja tersungkur dihadapan Rengganis, dengan suara yang lembut, Repatmaja menjawab, “duhai gadis jelitan nan ayu, menginaplah duhai sang puteri, menginaplah walau hanya satu malam supaya dikau tahu dimana kediaman ku”.

Dengan suara yang halus lembut, Rengganis menjawab, “maaf tuan pangeran, hamba tidak bisa menginap, suatu saat hamba akan bermain-main ke tempat ini, kali ini saya tidak bisa berlama-lama sebab kediaman hamba sangatlah jauh dari sini, hamba pamit tuan pangeran”. Raden Repatmaja bangun dan menggapai tangan Rengganis, namun dengan segera Rengganis menghindar. Beberapa kali Repatmaja mencoba menggapai tangan Rengganis namun puteri itu sungguh cekatan menghindari laki-laki itu.

Tanpa banyak basa basi, Rengganis loncat, dalam sekejap mata ia telah sampai di awing-awang. Sementara itu Raden Repatmaja tersungkur, tubuhnya lemah gemulai, seolah-olah ia kehilangan separuh nyawa, tubuhnya terkapar lemah, sang pangeran betu-betul pingsan setelah ditinggalkan oleh Rengganis. Sampai Jumpa di bagian berikutnya....

_By. Asri The Gila_ [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru