Dewi Rengganis Bag.6

KM. Sukamulia - Setelah pingsan sekitar setengah jam, Raden Repatmaja sadarkan diri dan langsung duduk dengan tubuh yang lunglai. Ia terdiam dan terheran-heran, setelah itu ia memandang ke awang-awang, sepertinya ia mencari Rengganis. Beberapa saat lamanya, Raden Repatmaja tidak beranjak dari tempat duduknya, hanya bayang-bayang Rengganis yang bermain di pelupuk matanya, hanya lembut suara Rengganis yang terngiang di liang telinganya.

Repatmaja terdiam saja, ia mabuk kepayang sebab telah ditinggal oleh gadis jelita yang membawa separuh nyawanya. Repatmaja betul-betul jatuh cinta kepada Rengganis, hanya nama Rengganis yang terucap oleh lidahnya. Dalam keadaan itu, Repatmaja berkata, “tutunlah Rengganis kembang mirah, kasihanilah daku yang lara, aku betul-betul sengsara dan merana, jika lama dikau tidak daku temui maka rasanya aku akan gila, datanglah duhai Rengganis, obati duka lara hati ku ini”.

Sementara itu, sesampai di Gunung Argapura, Rengganis langsung menghadap ayahandanya. Rengganis menceritakan apa yang telah ia temukan tadi, ia menceritakan bahwa apa yang dikatakan ayahnya belul sekali, dimana Taman Sari memanglah milik sang Pangeran Banjaran Sari atau Raden Repatmaja. Rengganis juga menceritakan bahwa Raden Repatmaja sangat marah kepadanya, namun ia tidak surut menghadapi kemarahan sang pangeran.

Mendengar cerita dari sang puterinya, Batara Guru sangat heran, “duhai anak ku mas mirah, mengapa dikau melawan putera Datu Jayengrana, dia adalah orang terhormat dan tidak patut kiranya dikau melawan belau”, kata sanga Pandita Kiyai kepada puterinya.

Senyum simpul terbersit di sudut bibir Rengganis sebab mendengar nasihan ayahandanya, dengan tegas ia berkata, “maaf gusti pandita yang hamba muliakan, pangeran itu memang tampan dan tersohor, namun tidak patut kiranya ia marah dan berkata sesombong itu, ia tidak menunjukkan budi pekerti seorang pangeran sebab itulah hamba melawannya dan seandainya ia mengajak hamba perang tanding, niscaya hamba meladeninya”.

“Sudahlah anak ku, mereka adalah orang tersohor dan patutlah sang pangeran memarahi mu sebab dikau telah merusak dan menghabiskan bunga-bunga di Taman Sari tanpa seizing-nya, dikau juga harus menyadari kesalahan mu dan kiranya itu bisa menjadi pelajaran bagi mu supaya kamu tidak lagi berkelana mencari sari pati bunga ke taman-taman istana lainnya”, tegas Batara Guru memperingati puteri kesayangannya.

Mendengar nasehat ayahnya, Rengganis termenung, di dalam hati ia berjanji untuk datang lagi ke Taman Sari dan menemui Raden Repatmaja guna meminta maaf atas segala kesalahannya. Setelah beberapa lama, Rengganis mengambil air wuduh kemudian melaksanakan shalat bersama ayahnya. Selesai shalat mereka berdoa bersama-sama guna mendapat keselamatan dan perlindungan dari Allah Yang Maha Kuasa.

Singkat cerita, hari sudah mulai malam, di kisahkan bahwa Raden Repatmaja masih terdiam di tempatnya. Tubuhnya seolah-olah tidak bisa berdiri, ia tiada daya untuk bangkit sebab terpesona atas kecantikan sang Dewi Rengganis. Sementara itu, Ratu Sala Sikin dan para ponggawa kerajaan bertanya-tanya tentang keberadaan sang pangeran. Ahirnya, semua ponggawa kerajaan diturunkan untuk mencari Repatmaja. Singkat cerita, Patih Maktal menemukan pangeran yang sedang tersungkur tiada berdaya di sekitar Taman Sari dan ia-pun segera dibawa pulang.

Sesampai di istana, semua ponggawa kerajaan berkumpul, mereka terheran-heran melihat Repatmaja yang sedemikian lemahnya. Sungguh memperihatinkan, sang permaisuri dan semua dayangnya tiada henti menangis sebab melihat Repatmaja yang sakit seperti orang kesurupan. Dikisahkan bahwa, Repatmaja tidak pernah mau makan dan minum. Ia hanya terdiam, matanya terus melongong membayangkan bayang Rengganis. 

Semakin hari keadaan Repatmaja semakin menyedihkan, siang malam matanya tidak bisa terpejam, hanya bayangan Rengganis yang mengisi pelupuk mata dan palung jiwanya. Berminggu-minggu lamanya Repatmaja tidak bisa tidur, tidak sesuap nasi dan seteguk air-pun yang masuk di dalam perutnya. Kini badannya kurus kering, sedangkan lidahnya hanya memanggil nama Rengganis.

Seisi istana khawatir melihat keadaan Repatmaja. Permaisuri, dayang dan ibu asuh terus-terusan menangis, mereka sangat sedih melihat keadaan sang pangeran yang tiada kunjung membaik. Banyak tabib dan dukun yang didatangkan untuk mengobati Repatmaja namun sayang penyakit yang diderita sang pangeran bukanlah penyakit biasa. Sang pangeran sakit sebab cinta, sebab rasa dambanya terhadap Rengganis yang tiada kesampaian jua.

Suatu hari Repatmaja meminta Raden Maktal untuk mengantarnya ke Taman Sari, ia berharap di tempat itu Rengganis berkenan menemuinya. Dikisahkan bahwa Maktal dan beberapa orang ponggawa kerajaan mengantar sang pangeran dengan kereta kencana. Sesampai di Taman Sari, Repatmaja meminta supaya Maktal dan yang lainnya meninggalkannya, namun Maktal tidak sampai hati melihat keadaan sang pangeran sehingga ia tetap menemaninya.

Selama di Taman Sari, Raden Repatmaja terus memanggil-manggil nama Rengganis. Separuh jiwa sang pangeran seolah-olah dibawa terbang oleh Dewai Rengganis. Panah asmara Rengganis seolah tertancap kuat di ulu hati-nya, Repatmaja seolah-olah sekarat memikirkan dara jelita itu. Dalam keadaan yang lemah lunglai, sang pangeran terus dan terus berbicara sendiri, seperti orang kesurupan ia meronta-ronta memanggil nama Rengganis. Sedangkan Maktal terheran-heran menyaksikan keadaan tuannya, ia juga bertanya-tanya tentang siapa dan bagaimanakah sebenarnya sosok Rengganis yang membuat panditanya sesakit itu.

Repatmaja berbicara sendiri, “duhai dewi yang ku puja dan damba, datanglah dikau ke hadapan ku, datanglah duhai dewi jelita, obatilah duka lara dan rindu yang menyiksa bati ini, datanglah walau sejenak saja sebagai pelipur duka lara dan jika dikau berkenan tinggallah di sini bersama ku dan jadilah permaisuri yang mendampingi ku seidup semati”.

Sementara itu, Dewi Rengganis juga sedang merenung di puncak Gunung Argapura, hati dan pikirannya juga dihantui oleh bayangan Repatmaja. Sungguh, Rengganis juga jatuh cinta kepada sang pangeran. Dikisahkan bahwa sejak pertemuanya dengan Repatmaja, siang malam bayangan pangeran yang gagah nan elok it uterus menghantui pikirannya. Siang malam ia memikirkan Repatmaja dan hatinya juga dilanda oleh rasa rindu yang mendalam.

Batara Guru terus mengawasi puterinya yang beberapa hari terhir menyendiri di puncak Argapura. Beliau bertanya-tanya sebab apa puterinya menyendiri seperti itu. Pertanyaan serupa juga terbersit di dalam benak Dewi Komalasari yang selalu mengawasi dan memelihara Rengganis sejak bayi. Melihat keadaan Rengganis, Dewi Komalasari mengutus dua orang dayang untuk menemaninya (Dewi Tunjung dan Dewi Selendang).

Ketika Rengganis sedang menyendiri, Dewi Tunjung dan Dewi Selendang menemuinya di puncak Argapura, “ampun beribu ampun dewi kembang jagat batara, kami adalah utusan Dewi Komala, kami diutus untuk menemani dewi bermain kemana saja dewi hendak berkelana”, kata Dewi Tunjung di hadapan Rengganis, namun sedikitpun Rengganis tidak mendengar perkataan itu.

“Sejak hari ini, kami adalah teman dan pelayan bagi baginda dewi”, sambung Dewi Selendang. Rengganis tidak bergeming dari lamunannya, pikirannya betul-betul dihatui oleh bayangan Repatmaja. Melihat junjungannya seperti itu, Dewi Tunjung dan Dewi Selendang mencoba menyadarkannya dari lamunan, “duhai dewi junjungan kami, apakah yang menyebabkan dewi merenung sehusuk itu, hal apakah yang menjanggal di dalam pikiran tuan,” kata Dewi Tunjung sambil memegang gaun Rengganis yang teruai ditiup angin.

Rengganis tersadar dari lamunannya dan ia terkejut melihat keberadaan Dewi Tunjung dan Dewi Selendang, “siapakah dan dari mana kalian ?”, tanya Rengganis. Dewi Selendang menjawab, “ampun dewi, kami adalah utusan Dewi Komalasari, hamba adalah Dewi Tunjung dan teman saya ini bernama Dewi Selendang, kami diutus oleh Dewi Komalasari untuk menemani sang dewi, mulai saat ini kami adalah teman dan pelayan bagi tuan puteri”, jawab Dewi Tunjung.

Rengganis hanya manggut-manggut mendengar perkataan Dewi Tunjung, “sebab apa kalian diutus menemui ku”, kata Rengganis pelan, “kami diutus untuk menemani sang puteri sebab ahir-ahir ini tuan puteri selalu menyendiri”, jelas Dewi Tunjung. Rengganis terdiam mendengar perkataan itu, “ya kalau demikian sejak aku menerima kehadiran kalian dan aku berharap kalian bisa menemaniku berkelanan mencari sari pati bunga”, sambung Rengganis. Dewi Selendang menjawab, “kami akan setia menemani tuan puteri, kemanapun tuan puteri hendak mengajak kami”.

“Ampun tuan puteri, jika hamba boleh mengetahui, hal apakah yang menjanggal pikiran tuan sehingga tuan selalu menyendiri ?”, sambung Dewi Selendang. Rengganis terdiam saja, ia menarik nafasnya dalam-dalam, sepertinya ia sangat berat untuk meluahkan perasaannya kepada dua orang utusan ibu asuhnya itu.

Beberapa lama terdiam, Rengganis bangun dari tempatnya, dengan mata yang berbinar-binar, perlahan Rengganis menceritakan permasalahan yang menjanggal di benak dan pikirannya. Mendengar cerita Rengganis, kedua orang utusan Dewi Komala itu hanya tersenyum simpul sebab mengetahui bahwa Rengganis tengah jatuh cinta.

Setelah menceritakan semuanya, Dewi Rengganis meminta Dewi Tunjung dan Dewi Selendang untuk pergi ke Taman Sari untuk melihat keadaan Raden Repatmaja. Dikisahkan bahwa kedua orang utusan itu, pergi ke Taman Sari, mereka melesat cepat di awang-awang. Sesampai di sekitaran Taman Sari, mereka melihat Repatmaja sedang meronta-ronta memanggil nama Rengganis. Beberapa saat mereka mengawasi keadaan Repatmaja dari atas awang-awang dan setelah itu mereka kembali ke Gunung Argapura dan menemui Rengganis.

_By. Asri The Gila_ () -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru