Dewi Rengganis Bag.7

KM. Sukamulia - Sesampai di Argapura, Dewi Tunjung dan Dewi Selendang langsung menemui Rengganis dan menceritakan keadaan Repatmaja yang menanti kehadiran-nya di Taman Sari. Mereka juga menceritakan keadaan Repatamaja yang demikian menyedihkan. Rengganis sangat sedih mendenar cerita itu dan ia-pun memutuskan untuk menemui Repatmaja. Tidak lama berslang, Rengganis terbang secepat kilat, sedangkan kedua orang pendampingnya diminta untuk menunggu di Argapura.

Diceritakan bahwa Rengganis sampai jua di Taman Sari. Seperti biasa, kedatangan Rengganis ditandai oleh hembusan angin yang begitu mesra, aroma tubuh Rengganis memenuhi taman itu, seketika Taman Sari dipenuhi cahaya yang bersumber dari tubunh puteri Argapura itu. Dengan segera Rengganis turun ke taman dan taman itupun semakin terang.

Di kejauhan, Raden Repatmaja mencium aroma tubuh Dewi Rengganis. Pangeran itu bangun dari tempatnya sambil terus memanggil nama Rengganis. “Datanglah duhai dewi pujaan hati ku, mendekatlah dan obatilah duka lara yang aku rasakan ini, segeralah mendekat duhai dewi, aku sangat merindukan hadir mu”, gumam Repatmaja seperti orang yang kesurupan.

Raden Maktal terheran-heran menyaksikan tuannya yang berbicara sendiri, ia juga sangat heran atas aroma harum manis yang memenuhi Taman Sari. Di kejauhan ia melihat cahaya yang sungguh indah, “siapakah yang berkunjung ke taman ini, apakah ia bidadari ataukah siluman yang mengganggu pikiran sang pangeran”, kata Maktal di dalam hatinya.

Semakin lama, aroma itu semakin harum, cahaya itu semakin terang dan bertandanglah Rengganis di hadapan sang pangeran. Sang pangeran terperanjak atas kehadiran Rengganis, tanpa sadar ia menggapai tubuh puteri itu namun sayang Rengganis bukanlah perempuan yang semudah itu untuk disentuh. Rengganis menjauh beberapa langkah, melihat hal itu sang pangeran terus mencoba untuk mendekatinya.

“Duhai dewi nan jelita, mengapa dikau menjauh dari ku, padahal daku telah lama menanti kehadiran mu, mendekatlah !, aku sangat ingin memegang tangan mu”, Repatmaja berusaha menggapai tangan Rengganis namun sayang seribu sayang sang puteri adalah perempuan yang sangat menjaga kehormatan dan teguh agamanya. Sementara itu, Maktal terus mengawasi kedua orang insan itu, ia hampir tidak percaya bahwa di dunia ini ada gadis secantik dan seelok Rengganis.

Sementara itu Raden Repatmaja terus berusaha untuk menyentuh Rengganis sedangkan Rengganis terus menghindari tangan usil sang pangeran. Melihat kelakuan pangeran itu, Rengganis berpikir bahwa sang pangeran bukanlah laki-laki yang baik terhadap wanita, Rengganis juga berpikir bahwa pangeran itu meremehkan martabat perempuan. Setelah beberapa lama di tempat itu, Rengganis memutuskan untuk kembali ke Argapura sebab ia tidak mau Repatmaja sampe menyentuh tubuhnya yang suci.

“Duhai Dewi Rengganis yang menawan, mengapa dikau menjauh dari ku, mendekatlah, berikan aku memegang tangan mu, berikanlah aku kesempatan untuk berada di dekat mu, aku berjanji akan mencintai dan menyayangi mu setulus hati seta memberikan apa saja yang dikau mau jika engkau berkenan menjadi pendamping ku”, kata Repatmaja sambil terus mencoba untuk memegang tangan Rengganis. Sayang seribu sayang, Rengganis bukanlah wanita biasa yang mudah terpesona oleh bujuk rayu laki-laki. Semakin Repatmaja mendekat, ia semakin menjauh dan pangeran itu-pun tampak semakin keranjingan melilah wanita dambaannya yang tiada kunjung dapat disentuhnya.

Duhai pandita pangeran yang mulia, kenapa hamba terus menjauh sebab paduka tidak bisa diam, hamba tidak boleh disentuh sebab hamba bukanlah istri tuan”, jawab Rengganis sambil terus waspada.

Repatmaja menjawab pelan, “duh mirah intan ratu, cinta ku sangatlah besar padamu, jika dikau berkenan, daku akan mengikuti mu kemanapun dikau pergi, jika dikau berkenan bawalah daku ke hadapan ayahanda mu, daku ingin bertemu dengannya, sungguh daku akan memberitahu beliau akan perasaan ini dan daku akan memohon izinnya untuk mempersunting dewi sebagai permaisuri ku”.

Dewi Rengganis berucap lembut, “jika demikian, paduka bersabar dulu, sekarang hamba harus pulang, hamba sudah lama di sini, sepertinya belum waktunya kita bersama dan belum waktunya pula paduka bertemu dengan Pandita Guru Kiyai”. Repatmaja menjawab, “duhai dewi yang ku muliakan, izinkanlah daku untuk ikut ke kediaman mu”. Rengganis menjawab pula, “sabarlah duhai paduka pangeran Banjaran Sari, hamba tidak bisa membawa paduka ke Argapura”.

Repatmaja semakin mendekat, tangannya terus mencoba untuk menyentuh tubuh Rengganis, namun puteri ayu it uterus menghindar untuk menjaga kehormatannya. “Sudahlah pangeran, sekarang hamba pamit, lain kali kita bertemu lagi”, kata Rengganis sabil bersiap untuk melesatkan tubuhnya ke awang-awang.

Tidak lama berselang, tubuh Rengganis melesat ke angkasa. Pangeran Repatmaja melompat sekeras mungkin untuk menggapainya, hingga ia tersungkur jatuh dan pingsan. Melihat sang pangeran pingsan, Raden Maktal segera keluar dari tempatnya mengintai, ia segera membawa sang pangeran pulang ke istana. Sesampai di istana, sang permaisuri (Dewi Sala Sikin) menangis meratapi suaminya yang tida sadarkan diri, para dayang dan ponggawa kerajaan juga demkian. Seisi istana sangat bersedih meilihat keadaan Repatmaja yang demikian parahnya.

Para tabib kerajaan sibuk mengobati sang pangeran, ada yang memijit tubuh sang pangeran, ada pula yang mengobtai sang pangeran dengan jampi-jampi. Permaisuri dan ibu asuh beserta dayang-dayangnya tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa menangis, meratapi sang pangeran yang pingsan dan tiada sadarkan diri.

Sementara itu, Rengganis telah sampai di Gunung Argapura. Sesampai di sana, ia langsung menemui Dewi Tunjung dan Dewi Selendang. Rengganis menceritakan pertemuannya dengan Repatmaja, ia juga menceritakan tentang Repatmaja yang tidak bisa diam dan selalu berusaha untuk menyentuh tubuhnya. Kedua orang pengawalnya itu hanya tersenyum mendengar cerita tuannya. Usai bercerita, Rengganis berpesan kepada kedua orang pengawalnya, “aku harap kalian juga bisa menjaga diri, jangan sampai tubuh kalian disentuh oleh laki-laki yang bukan pasangan kalian”. Dewi Tunjung dan Dewi Selendang hanya manggut-manggut mendnengarkan sabda tuannya.

Singkat cerita, matahari mulai memerah, pertanda bahwa ia akan segera pulang ke peraduannya. Karena hari sudah menjelang magrib, Rengganis mengajak kedua orang pengawalnya itu turun ke petapaan Batara Guru, di sana ia mengajak kedua orang pengawalnya untuk melaksanakan sahalat magrib. Singkat cerita, usai melaksanakan shalat magrib, Rengganis menemui ayahandanya, di sana ia juga bertemu dengan ibu asuhnya (Dewi Komalasari).

Dalam kesempatan itu Rengganis memberit tahu ayahanda dan ibu asuhnya mengenai Repatmaja yang sedang sakit sebab mendambakannya. Rengganis juga memberitahu ayanhandanya bahwa Repatmaja meminta untuk bertemu dengannya, ia juga memberitahukan bahwa Repatmaja hendak memohon izin untuk mempersuntungnya.

Batara Guru dan Dewi Komalasari terdiam mendengar cerita puteri kesayangannya, dengan bahasa yang halus lembut Batara Guru bertanya, “duhai puteri ku yang ayu nan jelita, apakah dikau juga menyukai sang pangeran ?”. Rengganis terdiam dan menundukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan dari ayahnya. Beberapa laman ia terdiam, sedangkan Batara Guru dan Dewi Komalasari telah mengerti perasaan sang dewi. Pandangan mata Rengganis tidak bisa membohongi ayah dan ibu asuhnya, “jika ananda memang suka kepada Repatmaja, katakana saja”, tegas Dewi Komalasari.

“Ampun ratu jagat yang mulia, sesungguhnya hamba menyukai-nya, jujur saja, sejak pertama hamba melihatnya, hamba tertarik dan suka terhadap pengeran itu, namun ada hal yang tidak hamba suka dengan pangeran itu”, jawab Rengganis dengan tatapan berbinar-binar kepada ibu asuhnya. Dewi Komalasari mendekat dan memeluk Rengganis, “hal apakah yang tidak dikau sukai dari pangeran itu ?”. “Hamba tidak suka dengan caranya yang agresif dan ingin selalu menyentuh hamba”, jawab Rengganis.

Batara Guru, Dewi Selendang dan Dewi Tunjung hanya terdiam mendengar pembicaraan Rengganis dengan ibu asuhnya. Sementara itu, Rengganis membaringkan kepalanya pada pangkuan ibu asuhnya, dengan bahasa yang halus lembut Dewi Komala berkata, “duhai puteri ayu nan jelita, sesungguhnya dikau adalah puteri yang kami muliakan, kami semua sangat salut dan bangga atas keluhuran budi dan kealiman mu, oleh sebab itu kami berharap supaya dikau tetap menjaga diri, jangan sampai dikau terlena oleh cinta dan tertipu daya oleh rayuan laki-laki, jagalah tubuh mu dan jaga pula kehormatan mu sebagai wanita sebab kelak engkau akan menjadi salah seorang penguasa di alam Arwan”.

“Hamba berjanji untuk tetap menjaga kehormatan hamba, namun sungguh hamba sangat mencintai Repatmaja, hamba juga sangat kasihan terhadapnya”, jawab Rengganis dengan mesra. Dewi Komalasari tersenyum mendengar jawaban puteri asuhnya itu, “jika ananda betul-betul mencntai Repatmaja maka temuilah ia dan berilah dia obat penawar supaya ia tidak lagi seperti orang kesurupan, namun jangan sampai ia menyentuh tubuh anada sebab itu adalah hal yang dilarang oleh agama,” sabda Komasari dengan suara yang pelan.

Rengganis tersenyum mendengar perkataan ibu asuhnya, dengan bahasa yang halus lembut pula ia berkata, “inggih pemban langit, hamba akan menemui dan memberi Repatmaja penawar supaya hatinya tidak kian lara”. Komalasari mengelus-elus rambut puteri Rengganis dengan penuh kasih sayang, “jika engkau bertemu dengannya, jangan lupa pesan bunda, jaga diri dan kehormatan mu, jika ia menyentuh mu maka sungguh ia tidak patut untuk menjadi pendamping hidup mu”.

Rengganis mengangkat kepalanya dari pangkuan Dewi Komala, dengan tatapan yang lembut ia memandang ibu asuhnya dengan seksama, diraihnya kedua tangan Dewi Komala dan ia berjanji akan melakukan apa yang telah dititahkan oleh ibu asuhnya itu. Dewi Komala kembali memeluk puteri asuhnya, dengan lirih ia berkata, “duhai puteri nan jelita, ibunda yakin bahwa dirimu akan selalu menjaga diri, sekarang hari sudah larut, shalatlah, mohon petunjuk dan perlindungan kepada Allah Yang Maha Kuasa, setelah itu ajak kedua orang penjaga mu beristirahat”.

Dikisahkan bahwa Rengganis segera mengajak Dewi Tunjung dan Dewi Selendang untuk menunaikan shalat isa, setelah itu mereka sama-sama berdoa guna memohon petunjuk dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Kini malam sudah larut, Rengganis dan kedua orang penjaganya kembali ke tempat peristirahatannya. Angin malam dan nyanyian serangga pegunungan membawa Rengganis ke peraduan suci dan malaikat-malaikat malam menggiringnya menuju alam mimpi. Lanjutttttttttttttttttt

_By. Asri The Gila_ [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru