Merindukan Datangnya Kebebasan

KM Primadona - Ahmad selalu merindukan datangnya kebebasan seperti sebelum perkawinannya dulu dengan Mariah. Dia rasakan hidup ini laksana di penjara dan menyesali perkawinannya. Namun dikala kebebasan itu didapatkan, dia selalu mengangan -angankan seandainya dia bisa masuk kembali ke dalam penjara itu.

Hari itu Ahmad duduk termenung dan gelisah sambil membuka sepucuk surat yang diterima dari kawannya yang lama tidak bertemu. "Ahmad, aku telah mendengar berita tentang perceraian dengan istrimu, setelah empat belas tahun kau bina mahligai rumah tangga. Aku sangat menyayangkan apa yang telah terjadi denganmu berdua. Aku iri denganmu kau jadi laki-laki yang bebas kembali. Kau dapat berbuat apa saja sekehendakmu dan pergi kemana kau suka tanpa ada yang curiga. Aku selalu mendambakan seandainya aku bisa berbuat seperti apa yang telah kau lakukan". Kawanmu….

Surat itu diletakkan kembali di atas meja setelah dibaca. Memang akhirnya Ahmad dapatkan kembali kebebasan itu. Tanpa terasa tiga tahun telah berlalu. Sungguh aku ingin berkata pada setiap suami: "Kau tidak tahu, betapa beruntungnya menjadi suami dan kepala keluarga dalam rumah tangga. Kehinaan dan cemoohan hidup lebih banyak didapatkan tanpa adanya ikatan yang menghubungkan antara laki-laki dengan perempuan.

Aku telah banyak belajar dari kehidupanku yang kosong setelah bercerai dengan istriku. Kini, baru kutahu di balik ketenangan hidup ini terdapat kebisingan yang memekikkan telinga. Gemanya memantul di antara dinding-dinding gedung yang kosong.

Bila aku bangun dari tidur, kurasakan hidup ini dipenuhi kehampaan. Semuanya terjadi setelah lenyapnya suara lembut yang selalu membisikkan dan membujukku untuk segera meninggalkan tempat tidur, dan yang selalu menyiapkan sarapan pagi dan pakaian untuk menuju ke tempat kerja.

Dan bila kupulang larut malam, tiada lagi suara halus yang menyambut diriku; "Mas terlambat lagi pulangnya ya, bukankah malam ini Mas janji kita makan bersama?"

Dulu telingaku sudah biasa mendengar suara-suara mengganggu, semuanya tak pernah membisingkan. Lolongan anjing, ngeong kucing, ocehan burung di pagi hari itu sudah biasa. Kini suara-suara itu cukup mengganggu dan membangunkanku. Mungkin suara manusialah yang bisa merubah semuanya dan akan menjadi nyanyian musik lembut yang membuat nyenyak tidurku.

Aku tidak bisa lagi mengisi kehidupan ini dengan baik dan semua pekerjaan tidak terselesaikan seperti dulu. Buku-buku baru kubiarkan berserakan begitu saja. Sungguh aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Semua makanan yang terhidang hambar rasannya. Dulu aku makan selalu bersama isteri, sehingga aku bisa bercerita segala persoalan yang kuhadapi.

Kini aku tidak tahu lagi, kemana aku harus pergi liburan untuk mengisi luang waktuku. Kurasakan betapa sempitnya hidup ini, tanpa ada isteri yang selalu setia mendampingiku. Inikah kebebasan yang kudambakan itu ? Kebebasan yang selalu aku kejar-kejar. Dikala kebebasan telah kuraih, dunia bagiku berubah jadi hampa, datar tanpa pegunungan dan ngarai, tanpa gurun dan sungai.

Suatu hari, di pagi buta ku kendarai mobilku ke rumah orangtua bekas isteriku. Dari rumah aku berjanji akan kembali kepadanya. Namun malang bagi diriku, isteri yang kedambakan telah kawin dengan orang lain. "Nak Ahmad, tiga tahun lamanya Mariah menunggumu, tapi kau tidak kunjung datang, akhirnya dia terpaksa memulai kehidupan baru dengan lelaki lain", kata ibu bekas mertuaku.

"Kapan perkawinannya Ibu?" tanyaku
"Baru dua minggu yang lalu!" jawabnya.
"Kalau demikian, tolong ibu sampaikan suratkun ini!" pintaku.
Akupun lalu menulis surat : "Mariah…mengapa engkau tidak sabar menungguku. Betapa aku merindukan dan ingin kembali kepadamu. Membiarkan diriku masuk ke dalam penjaramu. Kau selalu kuimpikan dalam hidup ini. Aku ingin bersamamu lagi untuk merajut kebahagiaan rumah tangga yang baru". Ahmad. (Primadona)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru