Diamnya Sang Perayu

Kehadirannya telah merubah pandanganku terhadap perempuan.Kadang senyumnya,mengalirkan rasa damai menyelinap dihati. Dan juga tatapannya yang teduh,menandakan ia seorang yang memegang prinsip. Bila ia berkata,ia ucapkan dengan manisnya.Jika diam,duhai cantiknya!.

Lambat-lambat. Seperti titik-titik embun pada kuncup yang membuatnya merekah.Rasa itu datang juga. Perasaan yang amat kukenali,karena memang ia sering hadir tatkala hati telah tertambat pada perempuan.Namun kali ini tentu saja berbeda. Acap kali bertemu membuat degub jantungku kian berdetak kencang. Aliran darahku terpompa hingga ke otak, khayalkupun melintasi seluruh alam imaji. Celakanya,lidahku menjadi kaku karena pesona yang ia tampakkan. Padanya,lidahku seperti terjahit rapat. Padahal semalam penuh do’a.Semalam ribuan kata telah terangkai untuknya.Namun toh,bila saat perjumpaan itu tiba,semuanya menjadi kelu.

Hatiku telah ditawannya.Seakan semua kata menjadi omong kosong bila kucurahkan padanya.Ia memang perempuan yang membuatku takjub.Semua mimpi sepertinya akan menjadi kenyataan bila aku dapatkan cintanya.Ia telah memenuhi syarat-syarat cinta yang telah aku ikrarkan sendiri dalam hati.

Sungguh ironis apa yang kualami.Dizahirku terlihat seperti orang yang aman dan stabil perasaannya.Mungkin itulah cerminan dari perilaku diam.Sementara kenyataannya,hati menjadi hancur,mengharap hasrat rindu yang mematang pada cabang cintanya.Sungguh!,aku menjadi bingung sendiri.Apakah aku seorang yang tolol ataukah pecinta?.sebab lidahku telah terkekang,namun pikiran-pikiran yang menyelusup dalam sanubari tak bisa aku tahan.

Dulu.Disetiap kehadiran perempuan yang mengisi hari-hariku,berawal dari penaklukkan oleh lidahku.Banyak mengumbar janji,lalu satu dua tiga kebohonganku terbongkar.Rasa bosan atas janji yang selalu kuumbar tak pelak menjadi pemicu akhir dari hubunganku. “Ah,semua lelaki mungkin begitu.Semakin banyak berbicara maka semakin banyak pula kebohongan yang ia muntahkan”. “Yach!.mungkin saja demikian.Tapi perempuan juga mengharapkan kemabukan dari pujian para adam.Lalu pujian mana yang tidak mengandung dusta?”.

Mega,Wulan,Qomari adalah perempuan-perempuan yang pernah terjerat rayuan yang kusekat di jantung mereka.Sementara dengannya?.Secuil asmara yang diberikannya telah menyiksaku.Dan bagaimana jika asmara itu semakin menggunung?. Sedang yang kutahu kemanisan asmara adalah sebuah kegetiran.

Dalam sebuah laci dibawah beberapa tumpukan buku,kutemukan sebuah diary yang telah mencatat sebagian perjalanan hidupku.Aneh!.Tak satupun kalimatnya yang mengarah pada sosok perempuan.Hanya ada harapan-harapanku dan beberapa adagium untuk memupuk semangat hidup.Namun sekarang?,semuanya tentang dia. Wajahnya telah memberi ruang khayal yang amat luas.Namanya seakan menjadi buah zikirku.Membuat rinduku semakin meluapi rahasia hatiku. Dan betapa seorang perindu selalu tergoncang jiwanya.

Gairah cinta yang teramat dalam,telah membuat kantukku menjadi terjaga.Aku tak bisa tanpa membayangkannya.Ia seolah hadir,duduk ditepi peraduanku.Hingga malam mulai mencibirku.
“Jika semua yang engkau kehendaki dapat engkau miliki,lalu darimana engkau akan belajar ikhlas?” Malam sepertinya ingin menyadarkanku.

“Lalu bagaimana aku menyelaraskan hati dan lisanku?”.
“ha,ha,ha,ternyata yang ku hadapi lelaki munafik!” olok sang malam.
“Jangan menuduhku seperti itu!”.
“Buktinya?”.

“Tidakkah engkau telah mendengar?,bahwa cinta! Mahabbah! Adalah tempat yang didalamnya ada air,dan manakala ia telah penuh,tak ada lagi tempat bagi yang lainnya”.
“Maka engkau orang yang bodoh!”.

“Engkau tidak tahu apa-apa!. Engkau tidak tahu,bahwa ia adalah perempuan yang asing dari asmara.Ia hiasi pekertinya dengan adab.Maka tercela baginya jika menjawab sang perayu!”.
“Adakah ia seperti Rabi’ah?”

“Bukan begitu!.Namun carilah olehmu dizaman ini!,masih adakah perempuan yang menyembunyikan pandangannya dari tatapan lelaki?”.

“Begini saja anak muda,aku wasiatkan kepadamu.Jika engkau duga hari-hari akan penuh kebaikan jika engkau berbuat baik,dan engkau tidak pernah takut pada takdir buruk yang bakal tiba.Maka engkau terlepas dari kepengecutan. Namun yang ku lihat, malam-malam telah memberimu ketentraman hingga engkau tertipu olehnya. Anak muda!,kenyataan datang setelah malam berlalu.Hadapi kenyataan itu dengan tetap tawakkal.Engkau harus sadari.Jika semua mimpi belum bisa engkau raih,maka ia akan menjadi nasehat agar engkau menjadi orang yang sabar. Dan jika do’a-do’amu belum terkabulkan,ia adalah guru yang akan mengajarkan bagaimana engkau tetap berikhtiar”!.

Aku terpekur dalam kegelisahan.Nafasku tersengal,menjelaskan hati yang lelah menyembunyikan rahasianya.Setelah malam meninggalkanku,aku kini harus bersiap menghadapi kenyataan itu.Berjumpa dengannya.Melihat lagi senyum yang meremuk kan!.Lalu darimana aku memulainya?.Bodoh,pengecut dan juga munafik adalah kata- kata yang mungkin paling pantas untukku bila dihadapannya.Seperti yang disifati oleh malam.

Aku merenung,apa yang harus kukatakan bila perjumpaan itu terjadi lagi?.Dan terus-menerus kusempurnakan ucapan hiba.Namun lagi-lagi.Tatapannya,senyumnya, telah membuatku melupakan segalanya.Kalaupun aku bicara,kuucapkan kata-kata hampa.Aku benar-benar telah ditaklukkannya… (Sabardi/kmprimadona)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru