kehidupan baru

suara teman-temanku terdengar nyaring siang itu, cuaca nya sangat panas sehingga membuatku harus duduk dibawah pohon untuk berteduh, menatap mereka yang asyik bermain voli di depan sana.

mataku memandangnya bosan dan sedikit iri pada mereka. jujur, aku juga ingin bermain bersama mereka, tertawa dan bercanda bersama. Kalau bukan itu, untuk apa aku harus datang jauh-jauh kesini kalau hanya untuk duduk sendiri disini?

setidaknya aku juga ingin bersenang-senang sama seperti mereka.

mereka yang mengajakku kesini malah bersenang-senang sendiri melupakan kehadiranku.

apakah dimata mereka aku sama sekali tidak berharga? Mungkin menurut mereka aku tidak berguna dan hanya menjadi pengganggu bermain mereka saja.

aku menghela nafas dan menatap langit biru yang selalu berhasil membuatku tenang, kemudian ku tersenyum memandang sekelompok burung yang terbang melewati langit yang sedang ku pandang.

aku mulai berpikir seandainya diriku menjadi mahluk bersayap itu apakah kehidupanku tidak akan sebosan ini? Seandainya aku bisa terbang seperti burung itu apa aku bisa merasakan kebebasan yang sesungguhnya?

yang jelas aku tidak tahu jawabanya.

untuk mentupi rasa bosan, akupun meraih tas ransel yang sedari tadi menemani dan menjadi temanku di tempat itu, ku buka ransel itu dan ku ambil sebuah buku. AKu tersenyum menatap buku yang disebut novel yang baru saja ku beli dan belum sempat ku baca tersebut.

kalimat 'harry potter' tercetak jelas di sampul itu. Akupun membuka dan mulai membacanya.

"apa-apaan kau ini?! Lihat, ini gara-gara kesalahanmu tika!"

"lho kok jadi salahku?"

"tentu saja ini salahmu! Semua yang melihat pasti berpikir ini salahmu!"

"t-tapikan dian, aku tidak sengaja!"

"sengaja atau tidak, itu tidak akan membalikkan keadaan!"

Konsentrasiku saat mebaca novel terpecah , aku sedikit terkejut mendengar suara bentakan di sertai teriakan terdengar jelas di indera pendengaranku. Iris coklatku memandang heran pada teman-teman yang ada disana. Kenapa dengan mereka? Jelas-jelas aku melihat mereka tertawa saat bermain tadi. Aku masih memandang heran mereka, karena aku tidak tahu apa yang terjadi. Sampai akhirnya gadis yang bernama tika yang kukenal sebagai teman sekelasku datang menghampiri tempatku.

"riana, bisakah kau menolongku?"

aku menatapnya "tolong apa?"

tika lalu menunjuk satu objek yang berada di pinggir jalan raya "bolanya terlempar di disana, bisakah kau mengambilnya?" mohonnya. Aku menghela nafas lalu mengangguk mengiyakan, tika pun senang karenanya.

"terima kasih riana"

mungkin inilah alasan kenapa mereka mengajakku kesini.

aku... Di manfaatkan

aku selalu saja disuruh-suruh walaupun itu hanya untuk hal sepele seperti ini. Mereka yang bermain, kenapa aku yang mengambil?

aku berjalan melewati tika, mataku berfokus pada bola yang ada Di pinggir jalan, ku terus berjalan menuju target yang ada di sana, lalu berjongkok untuk mengambil bola tersebut. Tapi sebelum aku sempat mengambilnya, bola itu menggelinding hingga berhenti di tengah jalan raya.

"sial, bolanya!" ucapku panik dengan segera berdiri dan berlari menuju bola voli. tanganku mulai menggapainya,  hingga tidak sadar ada truk Melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku.

"RIANA AWAS !!"

BRAAKK!!

aku terkejut mendengar teriakan panik tika, tapi itu sudah Terlambat. tubuhku terhempas beberapa meter dari tempatku berdiri sebelum menabrak tiang listrik yang berada disekitar sana. Aku terbaring lemas di tanah dengan tubuh yang berlumuran darah akibat dari truk yang menabrakku.

"RIANA!!"

"dasar bodoh! Kenapa dia bisa tertabrak?!"

"hei kalian! Kenapa berdiri saja?! Cepat panggil bantuan!"

samar-samar aku dapat mendengar suara teriakan panik dari teman-temanku dan orang-orang yang melihat kejadian itu. Mungkin inilah akhir dari petualanganku di dunia ini. Perlahan tapi pasti aku dapat merasakan kesadaranku mulai menipis, tubuhku tidak bisa di gerakkan lagi sebagaimana fungsinya. Aku berusaha mempertahankan kesadaranku, tapi tidak bisa. mataku yang semula terbuka, kini perlahan mulai menutup bersamaan dengan datangnya kegelapan...

dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu

xxxXXo0oXXxxx

sekarang, aku sungguh tidak mengerti.

aku masih sangatlah mengingatnya, aku ingat betul kalau aku mengalami kecelakaan dan berbaring tak berdaya dengan tubuh berlumuran darah di tanah. Tapi, saat kubuka mata kembali, aku dikejutkan dengan keadaan yang tidak bisa dibilang wajar.

"i-ini.... dimana?"

 

aku reflek mengatakannya. Memang wajar aku mengatakan demikian. Ini dimana? kenapa aku ada disini, di tempat serba putih yang luasnya tidak terhingga ini?

 

 

aku mengucek mataku, sekedar untuk menormalkan penglihatan, tapi tidak ada yang berubah, lalu aku mencubit lengan kiriku, tapi itu tidak berhasil. yang ku dapatkan malah lengan kiriku memerah bersamaan dengan rasa sakit akibat ulahku.

 

dan perasaan panik mulai datang menghampiri. Aku meneguk ludah.

 

satu kesimpulan yang kudapatkan, ini... bukanlah mimpi

 

Menghela nafas untuk menenangkan diri, pandanganku menyapu sekeliling. Tidak apa-apa, ini hanya ruangan serba putih namun tidak menyilaukan. Aku berusaha untuk tidak panik. kepribadianku yang tenang, sanggup membuatku tidak menjerit ketakutan, Karena aku sadar kalau hal itu tidak akan berguna dan sia-sia saja ditempat aneh ini.

 

namun saat aku membalikkan badanku sepenuhnya, aku terkejut karena bukan hanya aku saja yang berada ditempat aneh ini. Aku mengerutkan alisku saat manusia bergender laki-laki yang kini memandang kearahku juga, dia terlihat seumuran denganku. Dan aku yakin dia tahu alasan kenapa aku bisa berada ditempat seperti ini.

 

"maaf, kau... Siapa?" tanyaku berusaha untuk sopan. "apa kau tahu ini berada di- "

 

"tentu saja aku tahu, riana" jawabnya memotong pertanyaan ku.

 

"eh?"

 

aku meneliti pemuda yang berada di hadapanku, iris matanya berwarna ungu, belum pernah kulihat pada orang-orang yang kujumpai sebelumnya. Iris mata itu menatapku disertai dengan senyuman menawan, wajahnya sangatlah tampan. Aku berpikir kalau dia itu malaikat.  Rambut hitam miliknya sedikit berkibar entah kenapa, tapi aku tidak merasakan ada angin disini. jas putih yang ia kenakan, menambah kesan berwibawa dalam dirinya. Aku heran kenapa ada orang seperti itu ada disini.

 

dan aku juga heran kenapa aku ada di tempat seperti ini.

 

"ini adalah tempatku-" aku terdiam mendengar penjelasan yang keluar dari laki-laki itu "- dan kau orang pertama yang beruntung bisa masuk ke dimensi ini, riana"

 

"d-di-dimensi?"

 

"anggap saja begitu." laki-laki itu tertawa pelan saat melihat betapa terkejutnya diriku. "disini tidak berbahaya, jadi kau tenang saja. Kau berada disini karena takdir yang mempertemukan kita" pernyataannya yang terakhir aku tidak mengerti.

 

"hah?"

 

"aku tahu kalau kau tidak mengerti" lelaki tersebut tersenyum penuh arti "kau tahu? Di dunia tempatmu hidup, sebenarnya kau sudah mati."

 

terkejut, mataku mebulat tak percaya "aku... sudah mati?"

 

"ya, karena kecelakaan itu, kau tidak terselamatkan. Seharusnya kau menyadarinya sejak awal."

 

aku Menatap ke bawah, Mencerna perkataannya. dia benar, seharusnya aku menyadarinya sejak awal. Aku tidak menyangka kehidupanku akan sesingkat ini. hanya karena bola voli aku jadi kehilangan nyawa?

 

"maka dari itu, aku akan menawarimu suatu yang menarik." lanjutnya.

 

aku menatap kembali ke arah pria itu "apa maksudmu?"

 

lelaki berambut hitam itu tersenyum lebar menatapku yang terlihat putus asa dimatanya. "aku tahu kau tidak suka kehidupanmu. tapi sayang sekali jika kau mati begitu saja. Sebelum ku beritahukan penawaran itu, ada satu pertanyaan yang harus kau jawab terlebih dahulu."

 

aku mengangguk ragu

 

"apa kau masih ingin hidup?"

 

"a-apa?"

 

"sudah jawab saja, kau masih mau hidup atau tidak?"

 

hening

 

"a-aku..."

 

"jawablah dengan hatimu, bukan dari otakmu riana"

 

aku terdiam, Mulai berpikir. Jujur, aku tidak pernah sekalipun membenci kehidupanku, meski kehidupan di sekolah tidak jauh berbeda dengan dirumah, tapi masih ada satu hal di dunia ini, yang membuatmu ingin terus hidup.

 

aku memejamkan mataku

 

ibuku.... Ya, orang itulah yang terlintas. Orang selalu menyayangiku dan melindungiku sehingga membuatku bertahan dari kehidupan ini

 

sejak ayah meninggal,  ibulah yang mebesarkanku. Ibu membanting tulang demi kelangsungan hidupku, meski aku selalu tinggal dirumah sendirian, tapi aku mengerti maksud dari itu semua. Ibu adalah orang yang sangat berharga bagiku. Karena itulah, Aku tidak pernah bisa membayangkan apa yang terjadi saat wanita itu tahu aku sudah tidak ada disisinya.

 

"aku.... Masih ingin hidup" aku membuka mataku, menatap lelaki yang berada dihadapanku. Sambil Menatapnya tajam, aku memantapkan perkataan ku. "aku masih ingin hidup!"

 

"bagus" lelaki itu melipat tangannya didepan dada "jika itu keputusanmu, kau harus melakukan sesuatu untukku"

 

aku mengangguk mengerti. Orang itu semakin tersenyum manis.

 

"oh tapi sebelum itu, di duniamu. ini tanggal, bulan dan tahunnya berapa?"

 

"tanggal 12 agustus 2015. Memangnya ada apa? Aku menatapnya heran

 

"kau akan kukirimkan ke masa depan."

 

aku membeku

 

apa?

 

aku panik, itu benar-benar diluar perkiraanku. Apa maksudnya tadi? "m-maksudnya-"

 

"yah.. kau akan ku kirimkan kemasa depan tiga tahun dari sekarang. dengan keluarga baru, dan kehidupan baru. Tapi tenang saja, fisikmu tidak akan berubah" laki-laki itu tersenyum misterius lalu menjentikkan jarinya "sampai jumpa disana, riana"

 

aku sangat panik "t-tunggu du-"

 

sebelum bisa menyelesaikan perkataanku, aku merasakan kaki ku tidak menyentuh apapun. Aku menoleh kebawah, terkejut karena ada lubang yang kian membesar berwarna hitam tanpa dasar, berada di bawah kaki ku.

 

dan Aku terperosok ke dalamnya.

 

"selamat bersenang-senang" kepalaku mengadah ke atas, aku bisa melihat pria itu tersenyum lebar dan melambaikan tangannya padaku.

 

"e-eh?! GYAAAAAAA!!"

 

(BERSAMBUNG)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru