Sampai Ku Menutup Mata

SAMPAI KU MENUTUP MATA

             Masih terngiang jelas di telinga ku  suara mu, suamiku tercinta yang melapalkan dengan lantang kalimat itu. Kalimat yang menjadikan aku yang dulu haram  baginya kini menjadi halal untuk disentuhnya.

           Rasa merinding ketika dia mengusap kepalaku dan mencium keningku sembari berkata “ Anti sakinatrrih “ juga masih terasa sampai saat ini. Rasanya baru berapa hari kemarin saja kejadian itu berlangsung.  Aku merasa bangga dan bahagia karena dianugrahi suami yang sholeh, bertanggung jawab dan penyayang seperti dia.

Tapi sayang ….

Belum selesai lamunanku , tiba-tiba terdengar  suara ketukan pintu dan ucapan salam. Yaa itu suara salam dari suamiku tercinta yang baru pulang kerja . Cepat-cepat aku bergegas membukan pintu untuk suamiku tercinta. Aku pun menemui pak kyai dan keluarganya, tapi langkahku terhenti saat aku lihat di taman  ada seorang perempuan berkerudung merah bersama anak kecil yang sedang menangis. Rasa penasaranku mendorongku untuk mendekati  perempuan tersebut. Lamanya berbincang- bincang tak terasa sudah sangat pentang dan ketika  aku hendak pulang hujanpun menyambutku dengan penuh riang gembira. Karna deras hujan yang turun akhirnya aku memutuskan untuk bermalam  di pesantren . Tak lupa aku meminta ijin pada mas habibi di pesanteren. Anisa menawariku untuk tidur  di kamarnya dan dengan senang hati aku menerima tawarannya tersebut. Kamarnya Anisa begitu rapi dan bersih. Koleksi buku-bukunya juga tertata rapi di lemari. Saat melihat buku di meja Anisa matakupun tertuju pada buku berwarna coklat dan bertulisan “ SEMANGAT HIDUPKU “ ku ambil buku itu dan ku buka lembar per lembar dari buku tersebut.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru