Kabut di Kota Mataram

Cerpen: Lalu Pangkat Ali

Entah berapa kali Rio melarang Kiki untuk tidak ikut aksi mahasiswa. Tapi gadis itu tidak mau peduli. Kiki pikir, seorang mahasiswa harus berani mengungkapkan daya kritisnya.

“Pokoknya besok kamu jangan pergi. Bahaya, Ki,” kata Rio.

“Tapi semuanya pergi, Yo. Lagi pula, kalau aku tidak pergi, dimana idialismeku sebagai mahasiswa. Sementara mereka meneriakkan reformasi, lantas aku cuma diam di rumah,” protes Kiki.

Wrong. I’am worry about you, Kiki. Sudah banyak korban berjatuhan. Dan aku tidak ingin…….”

“Itu kan di Jakarta, bukan di Lombok. Sampai hari ini tetap aman,” potong Kiki.

Terdengar Rio mendengus kesal. “Ya, sudah. Tapi kamu mesti hati-hati. Jangan sampai terbawa arus.

“Nanti malam kamu ke Mataram, kan?” Tanya Kiki kemudian.

“Nggak, Ki. Situasi di sana masih panas.Tapi aku pasti menemuimu nanti. I miss you,” ucap Rio menutup pembicaraan.

Me too,” bisik Kiki sambil menutup HP-nya. Di bibirnya terulas senyum. Besok demonstrasi akan digelar lagi. Kali ini gabungan mahasiswa se NTB. Terbayang di benaknya betapa ramainya jalan Pendidikan hingga jalan langko. Penuh sesak dengan mahasiswa yang ingin menegakkan keadilan.

Kriiiiiiiing……

            Roti hampir masuk ke dalam mulut, terpaksa ditaruh lagi. Dengan malas Kiki melangkah ke meja kecil di sudut ruangan.

“Hallo”

“Kiki, It’s me, Rio”

“Oh, hai, pa kabar?”

“Buruk, Ki”. Dahi Kiki berkerut.

            “Semalaman aku tidak bisa tidur. Ingat kamu terus, Ki. Tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin bertemu kamu, sweeer!”.

“Biasanya juga begitu. Bilang aja kalau kamu rindu aku”.

“Aku serius, Ki. Lagi pula ngapain pakai acara rindu segala sama mahluk jelek macam kamu”.

“Ah, jangan bohong deh. Buktinya, semalam ngebel, udah cuap-cuap lagi”.

Rio tidak menjawab. Biasanya cowok itu selalu ramai dengan ledekannya.

“Rio, are you still there?

“Kamu jadi ikut demo, Ki?” Tanya Rio tanpa menghiraukan ucapan Kiki.

“Iya, aku kan udah bilang semalam. Tekadku sudah bulat untuk ikut menyuarakan keinginan rakyat”. Dan pembicaraan itu diakhiri dengan nada kuatir dari mulut Rio. Sedangkan Kiki hanya mengangkat bahu. Rio memang teman yang menyenangkan walau kadang menyebalkan juga. Kiki tahu kalau cowok itu menyimpan sesuatu padanya. Hanya saja Rio terlalu pintar menyembunyikan lewat olokan dan kritikan yang selalu membuat merah telinga.

Spanduk sudah bertengger di sudut-sudut kota. Yel-yel yang menuntut reformasi di segala bidangpun bising terdengar. Sesekali Kiki membalas sapaan temannya. Ia sudah tak sabar untuk ikut long march menggelar mimbar bebas di jalan Pendidikan hingga jalan lamngko, depan pendopo.

Di jalur ini sudah sesak oleh ratusan ribu mahasiswa. Ratusan demonstran berjejer di sepanjang jalan Langko seolah-olah menjadi lautan manuasia. Jauh di tempat itu seorang Rio terlihat sangat gelisah. Sebentar duduk sebentar mondar-mandir. Rio memang ingin selalu bertemu dengan Kiki walau hasrat itu ia kekang dalam egonya. Tapi saat ini, rindu itu begitu menggebu. Wajah Kiki selalu terbayang sejak semalam. Ia punya firasat buruk.

Rio menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia mendesah. “Seharusnya aku dapat mencegah gadis keras kepala itu. Oh god!. Aku begitu kuatir. Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Hati kecil Rio berbisik.

Lama cowok itu termenung. Tapi kemudian ia memutuskan menyusul Kiki ke jalan Langko. Sementara di sana, aksi mahasiswa masih berlangsung, bahkan sampai menjelang sore. Kiki mengusap wajahnya yang berkeringat. Kulitnya memerah terpanggang panas matahari.

Mendadak ribuan mahasiswa bersorak sambil menyanyikan lagu dan meneriakkan yel-yel ketika datang iringan mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi. Mereka mengusung keranda berisi jenazah buatan dari kertas dan kalungan bunga, duka cita atas tragedi yang menimpa rekan mahasiswa. Entah siapa yang mendahului, puluhan batu melayang ke arah petugas keamanan di pinggir lapangan. Suasana menjadi keruh. Teriakan terdengar dimana-mana. Salah seorang petugas melepaskan tembakan peringatan agar suasana kembali tenang, tapi sia-sia. Rombongan yang baru datang memaksa masuk ke dalam sebuah gedung perkantoran pemerintah. Keadaan tidak terkendali, mahasiswa berlarian menyelamatkan diri. Dan bentrokanpun tak dapat dihindari. Tembakan berkali-kali dilepaskan. Kali ini bukan tembakan peringatan. Entah berapa ratus manusia yang terinjak-injak ketika mencoba melepaskan diri dari kurungan petugas. Kiki hanya terpaku, terperanjat.

“Lari, Kiki…lariiii!” teriak Hasan teman satu timnya sambil menarik tangan Kiki agar segera menyelamatkan diri. Kiki hanya menurut, tapi pegangan tangan Hasan terlepas di antara mahasiswa lain.

“Kiki….Kiki!” teriak Hasan mencoba menyeruak mencari sosok Kiki.

“Hasan, tolong aku!”

Hasan mencoba mencari arah suara temannya, tapi gadis itu seperti hilang ditelan ribuan manusia. Langkah Hasan tersusut, ia terjerembab. Tulang-tulangnya terasa remuk terinjak puluhan kaki. Sementara petugas semakin banyak mengepung. Kota Mataram penuh dengan jerit dan tangis kesakitan.

Kiki mencari tempat berlindung. Langkahnya terseok-seok menggapai sudut bangunan. Mendadak dadanya terasa sesak, perih yang amat sangat. Ia menjerit kesakitan mengurut dadanya berkali-kali. Napasnya tersengal-sengal. Ada cairan merah merembes di dadanya. Darah! Kiki terbelalak tak percaya.

“Oh, Tuhan, darah….” desisnya. Gadis itu terduduk lemas di pojok bangunan. Matanya mulai berkunang-kunang. Sementara mahasiswa lainnya masih pontang-panting menyelamatkan diri. Mereka seolah tak peduli padanya, pada Kiki yang malang….

Darah semakin banyak keluar. Kiki sudah tak tahan lagi. Ia menangis. Jas almamaternya basah penuh darah. Ya darah!! “Tuhan, tolong aku….” doanya dalam hati.

Perlahan terbayang wajah ibu dan ayah tercinta, kemudian adik-adiknya. Tapi mereka jauh di Surabaya sana, bahkan mungkin tak tahu apa yang kini dialaminya. Mata Kiki mencari-cari. Pandangannya tertumpu pada sosok tubuh yang tengah menahan rasa sakit.

“Hasan!!” jeritnya. Tapi suara Kiki tercekik ditenggorokannya. Tuhan seakan menyuruh Hasan melihat kearah Kiki. Cowok itu tersenyum dan melambaikan tangan.

Bibir Kiki bergetar. Sedih, terluka. Tak sengaja tangannya menyentuh pin yang terpasang di saku jas. Dicopotnya pin itu dengan tangan yang berlumuran darah. Dan seraut wajah hadir di pelupuk matanya.

“Rio…..mana Rio,” desisnya kemudian. Terngiang kata-kata Rio yang mengkhawatirkannya malam tadi. Oh, Tuhan……seandainya aku mendengar nasihatnya, seandainya aku tidak pergi……Kiki menangis. Tangis penyesalan, tangis kesakitan. Darah mulai menetes di sudut bibirnya. Di depan sana Hasan tersentak melihat darah mengalir dari bibir Kiki, apalagi ketika gadis itu menghapus darah dengan tangan yang sudah berlumuran penuh darah. Darah!

Kiki terluka! Kiki tertembak! Hati Hasan bergejolak. Dengan menahan rasa sakit, ia merangkak kearah Kiki walau beberapa kali tersepak kaki yang berlarian. Hasan tak peduli. Ia harus mendekati Kiki, menolongnya dan membawanya pulang. Harus! Dengan susah payah, akhirnya Hasan berhasil mendekati Kiki.

“Bertahanlah, Kiki….,” bisik Hasan. Ia berusaha agar darah tak merembes lebih banyak lagi dari luka yang dialami Kiki.

“Aku…aku tak kuat lagi….” Kata-kata Kiki terbata-bata. Suaranyapun semakin mengecil.

Hasan menghapus air mata Kiki. Bibir gadis itu bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Ada apa, Ki? Katakanlah”.

Kiki membuka genggaman tangannya. Hasan melihat pin yang sudah berlumuran darah. Diraihnya pin itu.

“Rio….” Ucap Kiki terbata-bata. “Aku mencingtainya….Aku mencintainya!”

Hasan menggigit bibir, perih melihat pemandangan yang ada pada diri Kiki.

“Ibuku……Ayahku….mereka…sampaikan salam bhaktiku….”

“Bertahanlah Kiki, aku akan membawamu ke rumah  sakit,” bisik Hasan. Dipeluknya Kiki yang tergolek tak berdaya. Gadis itu menggeleng lemah. “Allahu Akbar…” guman Kiki meski suaranya terbata-bata. Terlihat matanya sayu, mengerjap pelan lalu terkatup. Hasan mengguncang tubuh Kiki yang masih hangat itu.

“Kiki! Bangun Ki…. Kau pasti bisa….” Teriaknya.

Tapi Kiki tak bergeming, tubuhnya kaku. Sebentuk senyum menghiasi bibirnya yang beku.

Hasan menangis. Bibirnya bergemerutuk menahan amarah. Tapi siapa yang harus disalahkan? Tuhan? Atau keadaan?

Sementara suasana sudah terkendali meski masih terdengar erangan dari mahasiswa lain yang terluka. Senja kian terbenam. Temaramnya seakan ikut berduka. Kiki telah tiada. Peristiwa di Giri Menang beberapa waktu lalu telah membawa korban. Perlahan gerimis membasahi bumi Giri Menang, mengantar kepergian seorang Kiki.

Sementara itu, raungan sirene ambulan mulai memadati lapangan. Ratusan mahasiswa turut bergabung menyelamatkan korban yang terluka. Hasan masih termangu memeluk sosok Kiki. Dibelainya wajah gadis itu, kemudian dipandangnya pin yang dititipkan Kiki. Hasan memejamkan mata.

“Aku juga mencinatimu, Kiki. Semua teman-teman mencintai kamu, Rio juga”, bisik Hasan pelan. Dibopongnya tubuh kaku Kiki. Teman-teman sekampus berlarian kearah Hasan. Mereka menangis. Sebutir peluru tajam telah bersarang ditubuh Kiki dan telah merenggut nyawanya.

Di barat sana, cahaya matahari  hampir pudar berganti malam. Sayup-sayup terdengar lagu gugur bunga dari bibir orang-orang yang mengiringi jenazah Kiki. Hasan menangis, teman-temannya menangis. Ya, mereka semua menangis. Selamat jalan sobat menuju ke alam lain.**

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru