Aku ingin Mencintaimu Dengan caraku Sendir (habis)

Sepuluh Desember adalah hari yanh cukup menguras tenaga dan fikiran, semenjak matahari terbit di ufuk timur bahkan sebelum Fajar subuh menggeliat, Nampak  Su-Wangi meraba jam Alarm yang diletakkannya diatas bantal sejak semalam, saat alarm berteriak nyaring dengan Buru-buru Su _wangi membangunkan suaminya yang akan berangkat menuju masjid untuk mempersiapkan shalat subuh. Dengan cekatan suminya pun segera meninggalkan tikar lusuh tempatnya merebahkan badannya sedari tadi malam. Alangkah gembira hati Su_wangi meski tangis Bocahnya melepas keberangkatan Suaminya Kemasjid, dengan cepat Su_Wangi segera menidurkan kembali bocah kecilnya, kebahagiaan memang selalu dihadirkan Allah dalam setiap waktu yang dilaluinya.

Sepulang dari masjid bersama anak-anaknya Su_wangi sudah selesai mempersiapkan Sarapan untuk mereka, demikian hari-hari yang dilalui Su_wangi dalam rumah tangganya, kadang Su_wangi mengeluh capek namun hanya sampai di batinnya namun dengan cepat seuntai senyum keceriaan mengawali paginya ketika anak-anaknya sudah mencium pundak tangannya untuk berangkat sekolah diawali do’a keluar rumah yang diajarkannya, seumpama seorang nabi yang sedang mendakwah seluruh ummatnya.

Selepas sore baru Suaminya pulang, dari tangan suaminya su_wangi mendapatkan belanja yang sangat jauh dari cukup untuk kebutuhannya, namun karena kesabarannyalah semuanya menjadi begitu nikmat,  Su_wangi sangat bersukur dengan Karunia itu, Su_wangi yang sebenarnya adalah seorang yang sangat Tekun dan bertanggung jawab dengan Tugas-tugasnya sehingga tak pernah satu menitpun terlewat sia-sia bagi Su_wangi, menjelang maghrib Su_Wangi harus kembali berjibaku dengan Tugasnya Sebagai Seorang ibu yang harus memandikan anak-anaknya dan lekas-lekas menyruh mereka menuju masid untuk Shalat berjamaah dan mengaji, Sungguh Saat itu Su_wangi lebih Nampak seperti seorang Panglima di hadapan para tentaranya.

Sering Su_wangi ingin mengetahui keadaan suaminya saat berada diluar rumah sehingga saat kepulangan suaminya terkadang suangi sering menanyakan apa-saja yang berhubungan dengan suaminya, dan tidak sekali dua kali Su_wangi mendapatkan tanggapan yang kurang diharapkan sehingga terpaksa jawabnya adalah sunyi dalam alam fikirannya sendiri demi menjaga perasaan suaminya,

Hal lain ialah apabila Su_wangi melihat sesuatu yang berbeda dari gelagat yang tidak baik di keluarganya Su_wangi tidak segan-segan meninggikan suaranya sebagai bentuk perlawanannya terhadap sesuatu hal yang menurutnya tidak sesuai dengan keyakinan yang diimaninya.

Dan adalah Su_wangi harus melakukan debat dalam membela suatu maksud yang lebih banyak mengandung maslahat daripada kepentingan sesaat yang dikehendaki suami dan anak-anaknya inilah sesuatu yang paling menjadi boomerang yang dalam batinnya harus dilepas pada saat yang paling tepat laksana senjata pemusnah total dalam sebuah perang yang sangat genting yang tidak ada jalan lainnya kecuali harus melakukan apayang menjadi keinginannya,

Habis 10 Desember 2016 Abu Ikbal

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru