Badai Asmara

Laki-laki dan perempuan bagaikan hidup yang selalu berjalan dengan Takdirnya. Cinta dan manusia tak dapat dipisahkan dengan apapun jua. Jangan diragukan lagi betapa besarnya. Tak perlu ditanya kembali kenapa harus bercinta walau pernah di khianati dan di caci cinta akan kembali pada takdirnya.

Cewek  : “Mama dah tahu hubungan kita”

Cowok  : “Terus ?”

Cewek  : “ya” sambil menghela nafas dalam-dalam

Cowok  : “bagus itu, Tau juga siapa aku? ”

Cewek  : “ya semua tentang side”

Cowok  : “Lantas?”

Cewek  : “kita tak direstui, aku di jodohkan dengan sepupuku”

Cowok  : “sejak kapan?”

Cewek  :  “katanya, sejak kecil dulu”

Cowok  : “terus?”

Cewek  : “aku tahunya sekarang sayank”

Hati begitu hancur, lebur, berdebur bagaikan ombak di pantai kerakat setelah mendengar semua itu. Musnah harapan. Hilang sudah angan-angan.  Cinta tak direstui lantaran kekasihnya bersetatus beda, miskin, kumal, kolot, kampungan, bodoh dalam pandangannya. Apakah harus berpisah? Apakah harus dipaksa?  Ku rasa sesuatu yang dipaksakan tidak akan berbuah manggis. Lalu? Jalani, ikuti takdir yang Tuhan gariskan pada nama dan garis tangan.

Cewek  :  “yang ku sayang hanya kamu”

Cowok  :  “bagaimana dengan Mereka?”

Cewek  :  “aku tidak mau”

Cowok  : “apapun yang terjadi kelak?

Cewek  :  “iya”

Cowok  : “Aku takut, adik disiksa karena tidak mengikuti aturannya”

Cewek  :  “biarkan saja”  dengan nada yang keras.

Cowok  : “aku sayang pada mu” berusaha menenangkan kekasihnya.

Cewek  : “aku juga tak menginginkan perpisahan hubungan kita”

Cowok  :  menarik nafas dalam-dalam.

Nafas yang tersendak. Bingung karena ia saling menyayangi. Kata tidak direstui bagaikan duri dalam daging yang semakin hari semakin sakit lalu membengkak. Walaupun tahu akan jawabannya, kenapa, mengapa, apa, bagaimana selalu mengisi otak untuk mencari cara yang dapat melumpuhkan perjodohan dan ketidak restuan itu. Tuhan, ya hanya Dia yang dapat menghentikan semuanya. Hanya Tuhan yang mampu melemparkan jawaban yang cepat dan akurat. Walaupun berbagai usaha telah dilakukan agar asmara bersamanya tak terpisahkan.

Hati sang ibu lebih keras dari karang yang dihempas ombak. Ia tak mau menepi, mengalah dan yang lainnya. Anaknya harus menikah dengan lelaki kaya dan tampan yang dicintai olleh anaknya.

Cewek    : “mama saja yang menikah dengannya, aku sudah memiliki sang kekasih yang ku cinta. Laki-laki yang mama jodohin sama aku, aku tidak mencintainya”

Mama     : “cinta itu bisa belakangan nak”

Cewek    : “itu jalan pemikirannya mamak, aku tak menerima lamarannya walupun kiloan emas, puluhan rumah, jutaan rupiah dan gelimangan pakaian ia berikan itu tidak akan mengalahkan cinta ku pada lelaki yang ku cintai selama ini.

Mama     : “kamu keras kepala, ini untuk kebaikan mu, yang ku lakukan demi masa depan mu (menunjuk dengan tangan kiri). Apa yang kamu harapkan dari duda miskin itu, Cinta? Hach persetan dengan cinta. Kamu bisa membangun cinta dengan lelaki pilihan mama setelah kal;ian menikah.”

Cewek    : “aku tak mahu, aku tak sudi menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak ku sayangi (menangis)”

Mama     : “Pokoknya kamu harus menerima lamarannya, titik (memaksa sang anak). Tidak ada lagi penolakan. Keinginan ku tak akan berubah, kamu paham?”

Cewek    : “masih mempertahankan penolakannya”

Suasana seperti air keruh yang di aduk-aduk. Cinta tak bisa dipaksakan. Cinta mereka sulit untuk di pisahkan. Kasih dan sayang mereka sedang bermekaran. Harpan masih ada walau bunda melarang cinta kita. Inilah dunia yang hanya memandang raga. Cinta dan harta bagaikan lingkaran setan yang selalu menjadi permasalahan dalam hubungan asmara.

Cowok  : “biarkan aku saja yang pergi. Turuti kata-kata ibumu (pasrah)”

Cewek  : “apa maksud mu? (sambil memandang kekasihnya)”

Cowok    : “ semuanya sudah jelas sayang, asmara yang kita rasakan tidak sampai pada lubuk mamak mu (meraih tangan sang kekasih)”

Butir-butir air mata mengalir mengaburkan cilak mata sang gadis. Hati ini semakin hancur. Gejolak dalam hati semakin membaur dengan desakan tangis dan air mata. Tangan yang lembut mencoba meraih pipi lalu mengusapkan air mata yang tercampur dengan kosmetik paris yang melapisi kulit sang gadis.

Cewek    : “aku tidak mau sayang, cinta dan sayang ku serta jiwa, raga dan hidup ini telah ku serahkan untuk mu”

Cowok    : “lantas bisakah mereka mendengarkan apa yang kita rasakan? Hubungan ini percuma kita jalani tanpa restu dari kedua orang tua mu sayang. Terlebih kamu telah di jodohkan dengan pemuda kaya itu”

Cewek  : “apa? Kamu kira hartanya mampu menumbangkan cinta ku pada mu?”

Dalam hatinya menggumam. Darah dan nadinya sudah tak mengalir dan berdetak normal. Bermodalkan kasih dan sayang, asmara mereka tak dapat terwujudkan. Cinta, harta, tidak direstui bagaikan tiga macan buas yang kelaparan. Hubungannya bagaikan bintang dan matahari. Cintanya dengan terpaksa berakhir. Biarkan angin dan waktu yang menghapus jejak-jejak kasih sayang yang kita jalin. Biarkan aliran angin yang menemukan diri dengan lautan. Jangan dipaksakan. Badai akan ketepi pada akhirnya nanti. Semoga berbahagia. Biarkan nama dan kenangan pahit menemani tulang yang terbungkus kulit kusam ini. Biarkan mulut ini bungkam tanpa cela dalam dada yang hampa. Ini takdir bukan nafsu. Ini yang baik bukan yang terbaik. Semoga takdir mengatakan engkau mencintainya..

By; Calliem Sanir.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru