Cinta Sejati

Di simpang jalan

Seorang renta mengulurkan tangan

Ku gapai dan bersalaman

Sudut bibir keriputnya tampakkan senyuman

Ia menatap ku dengan sisa-sisa pengelihatan

Ku balas senyuman itu dengan irama kebingungan

Aku terdiam, menatap wajahnya dengan bermacam-macam pertanyaan yang tak dapat daku ungkapkan

Terus saja, tangan ini digenggam_diremas tanpa bosan

Di pandanginya bola mata ku dan bibirnya mengungkap pertanyaan

“Siapakah yang paling kamu cintai sepanjang dikau punya kehidupan ?”

Aku terdiam, seolah lidah tak bisa mengeluarkan ucapan

“Apakah dirimu, ibu dan ayahmu, istri dan anak-anak mu, harta benda dan jabatan mu, sahabat atakauhah kekasih yang dikau dambakan ?”

Sejenak kata-kata itu terputus sebab kepala ditengadahkan

“Apakah ulama, para wali, tuan guru dan kiyai-kiyai yang mereka agung-agungkan, apakah pemerintah dan artis yang mereka bangga-banggakan, apakah para nabi dan rasul serta para aulia yang menyelamatkan manusia dengan petunjuk-petunjuk menuju kebenaran dan ataukah Allah SWT tuhan yang memberi segenap makhluk kehidupan ?”

Aku melongo tanpa satu jawaban

“Beritahukan kepada mereka bahwa yang paling pantas untuk kamu dan mereka cintai adalah Allah tuhan yang memberi segenap makhluk kehidupan !”

“Beritahukan kepada dirimu dan mereka sekalian bahwa mencintai itu tidak mudaha dan bukanlah permainan !”

Hanya kepala yang dapat daku anggukkan

Sementara tangan ini terus ia genggam dengan sorot mata yang begitu tajam namun tidak menakutkan

Saat ia terdiam, pertanyaan daku lontarkan

Siapakah dirimu dan untuk apa dikau menemui ku di simpang jalan ?”

Beberapa putaran detik ia terdiam sambil menaikkan telapak tangannya di ata daku punya ubun-ubun

“Akulah kasih sayang yang selalu dikau cari di dalam keramaian dan kesendirian, akulah cinta yang akan mengajarimu arti cinta yang selama ini dikau damba-dambakan”

“Cintailah hidup dan mati, cintailah diri yang selama ini dikau kotori dengan cara-cara yang tidak disenangi tuhan dan tuhan akan mencintai mu dengan segenap kasih dan sayag yang IA berikan atas IA punya ciptaan, itulah sesungguhnya cinta sejati yang dirimu dan mereka lupakan”

Usai bertuah, bibir halusnya mengecup daku punya ubun-ubun dan ia menghilang bersama rintik gerimis yang mengundang hujan

Dalam bingung, sebatang rokok aku nyalakan dan garamnya ku hisap dalam-dalam_aku tersadar bahwa itu bukanlah mimpi atau khayalan lalu persimpangan jalan aku tinggalkan dengan langkah kebimbangan

Sudah lama berselang namun semua kata-katanya tetap menusuk liang pendengaran, tersimpan rapi dalam lubuk hati dan mutiara pikiran

Semua itu daku pikirkan namun tidak pernah daku ceritakan

Laki-laki itu datang lagi dengan irama kemarahan

Ia bertuah agar pesannya daku ceritakan

Dan inilah cerita cinta sejati yang dapat daku ceritakan atas pertemuan singkat dengan laki-laki misterius yang hingga saat ini tidak ku tahun nama dan tempatnya melumat waktu seraya memendam kerinduan

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru