Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 1

Kehidupan, dimanapun juga menawarkan aneka warna. Alex mengenal warna kehidupan kota Jakarta, kota kelahirannya yang dirasakan semakin jauh membawanya keluar dari norma kemanusiaan. Selama duapuluh tahun menetap di Jakarta, Alex merasakan Jakarta tak pernah menjanjikan kedamaian. Malah kota itu akan berkembang ke arah kemaksiatan dan kelonggaran moral.

Tapi, tiba-tiba kewarasannya muncul. Alex mendambakan kedamaian, dan ingin kembali kepada kemanusiaan. Ya....di Kota Praya, Lombok Tengah ini memberikan pilihan baginya. Setidaknya, di Kota ini dia menemukan napas kedamaian.

Mulai edisi ini, Ikuti terus perjalanan kisahnya. Kisah ini terlalu fiktif. Jika ada kesamaannya pada nama maupun tempat kejadian, itu hanya kebetulan saja. Tidak ada niat untuk menceritakan kisah seseorang. Selamat mengikuti!

CAHAYA di langit kota itu bersinar suram. Cahayanya meredup ditelan terik matahari. Matahari memang telah lama membagi cahayanya ke seluruh langit, sehingga warna angkasa menjadi biru temaram.

Sejak tadi Alex mondar-mandir di Terminal Mandalika. Cukup ramai, walau tidak seramai seperti Terminal Pulo Gadung atau Cililitan. Terminal Mandalika merupakan terminal yang cukup besar di Lombok ini.

Sebenarnya, Alex tidak sebiasa ini mondar-mandir di Terminal kalau saja ibunya tidak telefon akan datang hari ini. Beberapa kali lelaki itu melirik arloji di lengannya. Baru pukul sebelas lewat lima menit. Berarti, sepuluh menit lagi, bis Safari Dharma Raya jurusan Jakarta-Mataram akan datang. Ia masih saja setia menunggu bis yang datang dari arah Selatan, bis antar kota antar provinsi. Kadang-kadang ia merasa kecewa, ketika sebuah bis yang sama sedang bongkar muat, tidak dilihat wajah ibunya. Cukup membosankan, apalagi sendirian begini. Ia menyesal tidak mengajak salah seorang temannya, ataukah Laras.....Ah! Entahlah, laki-laki itu mendesah.

Halaman terminal terlihat lembab, karena semalam turun hujan cukup deras. Namun kelembabannya terhapus oleh sinar matahari yang kian menyengat. Alex berdesakan di antara kerumunan calo tiket dan penjaja minuman. Bau asap mobil dan keringat orang-orang terminal menyengat hidungnya. Ia  segera sadar, berlama-lama berdiri sendiri di sini, bisa dicurigai macam-macam. Mau malinglah, mau nyopetlah atau seribu macam tuduhan dan dakwaan lainnya. Aneh memang, atau perasaan itu terbawa  oleh situasi Jakarta yang belum tentu terjadi di tempat ini. Alex mendesah.

Kakinya segera melangkah menuju pohon Ketapang di pinggir jalan. Di sana dia merasa bebas dari perasaan konyol itu. Namun sebelum beranjak pergi, “Surabaya mas, Denpasar?” Seorang calo tiket langsung memberondongnya menawarkan jasa. Alex diam dan acuh. Kawasan terminal dimana-mana sama saja. Tidak Pulo Gadung, Tidak Cililitan tidak juga Joyo Boyo di Surabaya sana. dia tersenyum.

Berselang beberapa menit, “mau ke Jakarta, mas?”. Seorang lagi dengan sopan menawarkan jasanya kepada Alex. Alex menggelengkan kepalanya, “nggak, cuma main-main di sini” jawabnya dengan nada sopan pula.

Alex masih berdiri terpaku di bawah pohon itu. Dan sekilas ia teringat perdebatannya dengan Reza, sahabatnya dari Jakarta yang dua pekan silam berkunjung ke Praya.

“Wah! Elu kerasan tinggal di kota kecil seperti kota Praya yang langka hiburan ini?” Tanya Reza pegawai BUMN yang dikenalnya ulet.

“Apa yang kita cari dalam kehidupan ini sebenarnya? Apakah kota yang besar seperti Jakarta yang menjanjikan seribu jenis kemaksiatan? Ataukah kota seperti Surabaya, Bandung atau lainnya yang menjanjikan kekerasan?” Alex balik bertanya. (bersambung)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru