Pelangi di Langit Kota Praya - bag 8

Sehabis makan malam bersama, Lasmeyta dan kakaknya bersiap-siap untuk pulang. Alex dan Larasati mengantar sampai ke pintu pagar.

“Mbak Laras, nanti main ke rumah ya”, ajak Lasmeyta ramah. Namun Larasati hanya menganggukkan kepalanya.

“Ayo Mas Alex” Lasmeyta menepuk bahu Alex, kemudian duduk diboncengan motor kakaknya. Lelaki itu menatap tajam kearah Lasmeyta. Sedang Larasati memperhatikannya dalam-dalam. Ada rasa cemburu yang menggayut perlahan merambati rongga dadanya. Seperti ada sekelompok ular besar yang menggerogoti dan merobek-robek hatinya. Perih sekali. Ibu dari kejauhan menangkap sinyal kecemburuan pada diri gadis itu.

“Lasmeyta sama-sama ibu berangkat satu bis. Untung ada dia di atas bis. Dia yang menjaga ibu selama dalam perjalanan. Sekarang, ibu sudah menganggapnya sebagai anak sendiri”. Ibu mencoba meluluhkan ketegangan yang berkecamuk diwajah Larasati. Mata gadis itu amat jujur mengatakan, ia tidak suka dengan kehadiran Lasmeyta di rumah ini.

“Memang dia kelihatannya wanita baik”, Larasati berkata tanpa tekanan. Kepura-puraannya semakin jelas.

“Pasti cemburu, ni yeee!” Kata Alex mengejek.

“Ngapain cemburu, bu ya?” Larasati memeluk ibu. Ia mencari dukungan atas kata-katanya.

Alex mengantar Larasati pulang ke rumahnya. Tapi tak sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Sebelum pergai, Larasati mencium kedua belah pipi ibu, dan berjanji besok akan datang lagi. Ibu menatap keduanya keluar. Berbarengan dengan itu, pertanyaan meluncur deras dari mulut Larasati. Larasati menteror dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Lasmeyta itu apamu sih?” Larasati mencoba ingin tahu.

“Kamu kan sudah dengar dari ibu”.

“Saya ingin dengar dari mulutmu, bukan dari ibu!” Suara Larasati semakin meninggi.

“Lo, dia yang datang sama ibu, Jadi ibu yang lebih tahu daripada saya”.

“Kok kamu yang jadi lebih akrab dengan dia?”

“Kalau ibu sudah menganggapnya sebagai anaknya, apakah aku tidak boleh berhak menjadi kakaknya? Saya rasa logikanya sangat mudah, jangan dipersulit!”

“Ibumu kan lebih senang pada Lasmeyta, dibanding aku bukan?”

“Kenapa kamu tidak tanyakan pada ibu tadi di rumah?” Alex mencoba bersikap tegar. “Kapan kamu pulang sebenarnya?” Alex berkata datar mengalihkan pembicaraan.

“Tadi siang, dari Lombok Timur. Ada keluarga yang sakit. Aku tidak langsung pulang ke rumah, tapi mampir ke rumah kamu. Saya kira kamu ada di rumah bersama ibu. Ternyata kamu tinggalkan ibu berdua dengan kakaknya Lasmeyta. Sementara kamu pergi berdua pacaran! Saya sudah dua kali kecewa, sampai di rumah tidak ada kamu”. Suaranya kian meninggi, ia sudah mulai sangat jengkel, muali menampilkan temperamental.

Kedua anak muda itu membelok langkahnya menuju rumah yang letaknya tidak jauh dari persimpangan. Bangunan temboknya dicat krem dengan arsitektur yang mencolok. Tamannya yang hijau di depan rumah itu, serasi sekali dengan warna cat bangunan yang berdiri di atasnya. Anggrek bulan yang sedang mekar di belakang pagar ikut menyemarakkan suasana. Seakan mengajak kedatangan kedua anak muda itu.

“Besok, baru kita lanjutkan pembicaraan kita. Kamu ke rumah, ya kan?”. Alex membuka percakapan.

“Kalau perempuan itu masih saja di rumah itu, untuk apa aku ke rumahmu! Toh dia lebih berharga daripada aku”.

“Laras! Kamu kan sudah dewasa, jangan kayak anak kecil. Mikir jangan pakai dengkul. Kapan kamu bisa pergunakan akal sehatmu kalau tidak dari sekarang?”

“Kalau besok aku ke rumahmu, itu bukan karena kamu, tapi aku ada janji dengan ibu!” Larasati berkata keras. Gadis itu langsung saja memasuki kamarnya. Setelah Alex mendengar pintu dikunci, barulah ia meninggalkan halaman rumah itu. Sepanjang jalan pulang ke rumahnya, lelaki itu memaki-maki Larasati sejadi-jadinya. Aneh! Pikirnya. Perempuan dimana-mana sakit jiwa. Mereka selalu mengikuti perasaan. Jarang mereka menggunakan pikiran. Setiap kali dituntut untuk menggunakan akal, mereka suka mengatakan tak sanggup. Perasaan sangat mendominasi diri mereka. Huh! (bersambung)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru