Pertengkaran di Tepi Pantai

       Pasir putih itu tampak seperti bulir-bulir merica di sela-sela kaki Mariam. Ia menendangnya sekuat tenaga, sehingga tersaruk beberapa meter di hadapannya. Bola matanya yang cokelat mengikuti langkah kaki adiknya, Sam, yang buru-buru berjalan meninggalkannya dengan puluhan gelang dari kerang dan botol berisi pasir pantai yang dibawanya menuju para wisatawan asing yang baru turun dari bus pariwisata, bersama anak-anak yang lain. Ia bergetar. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Mereka baru saja bertengkar.

***

     Sam buru-buru meninggalkan kakaknya. Pipinya terasa panas dan lengannya terasa perih, ia baru saja mendapat tamparan di pipi kirinya sekaligus beberapa cubitan di lengannya. Kakak perempuan satu-satunya itu habis marah besar karena dia akhirnya ketahuan dikeluarkan dari sekolah. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah terjadi.

     Dia juga marah pada Mariam karena dimarahi seperti itu di tempat umum. Teman-temannya dan orang-orang di sana melihat pertengkaran itu tadi. Suara Mariam yang meninggi terdengar melengking mengalahkan suara angin pantai dan ombak. Makanya, ia buru-buru meninggalkan Mariam, melepaskan diri dari tangan kakaknya yang seakan-akan hendak mencubitnya hingga kulitnya terkelupas.

     “Mau jadi apa kamu kalau tidak sekolah, hah?!!” Teriak kakaknya.

     Sam meninggalkan kakaknya dengan perasaan sakit hati. Untung saja saat itu bertepatan dengan berhentinya sebuah bus pariwisata yang menurunkan bule-bule. Langsung saja diserbunya bersama anak-anak lain. Nanti juga marah Mariam akan mereda, inaq dan amaqnya juga tidak semarah itu padanya. Sekarang ia harus menjual gelang-gelang dan botol-botol berisi pasir pantai itu, nanti kalau ada yang laku, uangnya bisa dipakai menyewa papan selancar pada temannya. Ia sedang tertarik melihat orang-orang berselancar.

***

     Mariam lima tahun lebih tua dari Sam, sehingga dia berpikir dialah yang paling tahu mana yang terbaik bagi adik satu-satunya itu. Tak ada yang dapat diharapkan dari ibu dan bapaknya yang tidak tamat SD itu untuk membuat anak-anaknya bisa hidup lebih baik dari mereka, selain tempat untuk pulang dan bernaung beberapa waktu. Dan Mariam yang dua tahun lalu tamat dari Sekolah Kejuruan, sekarang bekerja sebagai cleaning service di sebuah hotel tak jauh dari situ, merasa Sam harus sekolah. Sekolah setinggi-tingginya. Agar ia bisa membuat hidup keluarganya menjadi lebih baik.

     Tapi apa yang terjadi? Ia baru saja mendapat kabar kalau Sam diberhentikan dari sekolah. Mau jadi apa dia? Bagaimana ia tidak kecewa dan marah. Adiknya yang baru duduk di kelas delapan SMP itu tidak tahu susahnya bersaing mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Jangankan untuk mendapatkan martabat, uang saja begitu susah dicari kalau tidak sekolah tinggi.

     “Kita sudah diberhentikan! Mau bagaimana lagi?” Sam yang dimarahi justru ikut marah padanya.

     Bagi Mariam, sekolah yang paling penting. Orang-orang tidak akan melihat orang miskin seperti mereka kalau tidak sekolah tinggi. Tidak ada yang mewarisi kekayaan apapun, tidak ada yang mewarisi nama harum siapapun pada mereka. Setidaknya kalau mereka sekolah, orang-orang akan menghargai mereka karena sekolah adalah tempat orang-orang yang sepatutnya dihormati dan dihargai.

     Karena itulah Mariam matian-matian menyuruh Sam tetap sekolah. Tapi Mariam geram karena Sam begitu nakal. Sudah bagus-bagus ada sekolah di kota yang mau menampungnya dengan biaya yang tidak terlalu mahal, diasramakan, diajar ngaji pagi dan malam, diajar mana yang baik mana yang buruk, tapi Sam tidak bersungguh-sungguh juga. Sudah lebih dari tiga kali ia mendapat surat teguran dari sekolah. Hingga akhirnya ia menemukan adiknya itu pulang selama tiga hari, dan mendapat kabar bahwa ia diberhentikan dari sekolah.

     Mau jadi apa dia kalau tidak sekolah? Mau jadi inaq mereka yang sehari-hari membelah batu kali atau amaq mereka yang jadi kuli yang hanya dapat uang jika ada proyek pembangunan hotel atau resort? Atau dirinya yang hanya bisa jadi cleaning service dengan gaji segitu segitu saja. Mariam geram. Hatinya terasa seperti diparut-parut. Angin pantai meniup-niup wajahnya yang berkerut marah, masuk mendinginkan tubuhnya melalui seragam cleaning service-nya yang gerah.  

***

     Sam ikut mengerubungi bule-bule itu bersama anak-anak yang lain seperti lebah, berebut menawarkan gelang-gelang dan botol pasirnya.

     “Lima ribu dua! Mister Missis.. Five two!”

     Bule-bule itu bergegas berjalan meninggalkan mereka, meski beberapa terlihat cukup antusias melihat gelang-gelang dari kerang itu, termasuk gelang milik Sam.

     “Five thousand two!” Seru Sam dengan lantang, lebih seperti menodong. Lebih ngotot dibandingkan teman-temannya yang lain. Bule itu menggumamkan sesuatu yang Sam tidak mengerti sambil memilih-milih gelang Sam. Tidak banyak wisatawan seperti ini lagi. Belakangan mereka lebih banyak cuek terhadap penjual-penjual gelang atau kain atau kerajinan yang lain. Malah terkesan menjauhi. Karena itu Sam dan teman-temannya lebih ngotot lagi kalau menawarkan, kalau tidak begitu mereka mudah ditinggalkan.

     Bule itu memilih dua gelang Sam dan merogoh saku dari celana pantainya mencari rupiah. Saat itu Sam melihat ke tempat Mariam tadi berdiri. Kakak perempuannya itu terlihat berjalan pulang. Sam lega. Setidaknya dia tidak akan dimarahi di pantai ini sampai ia pulang nanti. Bule itu menyerahkan uang lima ribuan dan Sam mengambilnya dengan cepat setelah berkata thank you.

     Sam menarik nafas panjang. Dia diberhentikan dari sekolah setelah membuat adik kelasnya masuk UGD karena kepalanya bocor terkena batu lemparannya, setelah sebelumnya ia sering bolos bersama teman-temannya dan melakukan kenakalan-kenakalan lainnya. Sam tidak keberatan sama sekali, meski ia takut pada kemarahan Mariam. Ia tidak menyukai sekolah. Karena itu ia tidak mengerti mengapa kakaknya itu begitu mengagung-agungkan  sekolah, tempat yang sangat tidak disukainya itu.

     Ia dipaksa duduk diam di kelas memperhatikan penjelasan gurunya yang terlihat enggan menjelaskan atau dengan cara yang itu-itu saja sehingga membuatnya merasa tidak berselera. Ia dipaksa memahami hitung-hitungan yang tidak mampu dimengertinya. Semua itu; Tuanku Imam Bonjol, VOC,  Masa Jenis, Akar Kuadrat, menurutnya tidak lebih menarik dari pergi bersama teman-temannya melalui pintu belakang sekolah, dan ikut menghisap lintingan rokok secara bergiliran. Yang membuatnya lebih enggan lagi adalah saat salah seorang gurunya mengatainya anak anjing tidak tahu diri, mencubit perutnya hingga biru, dan sering menatapnya dengan tatapan seperti menatap kotoran.

     Sebenarnya ada pelajaran yang disukai Sam, Bahasa Inggris. Ia ingin sekali bisa berbahasa Inggris seperti beberapa orang di kampungnya yang menjadi guide. Kalau ia bisa berbahasa Inggris dan menjadi guide ia bisa menghasilkan lebih banyak uang lagi. Ia mungkin bisa bekerja di kafe-kafe melayani bule-bule atau ikut berlayar di kapal pesiar. Jadi, ia bisa lebih banyak mengumpulkan uang sehingga bisa membeli dan melakukan apa saja yang diinginkannya. Termasuk menyuruh Mariam melanjutkan sekolahnya, karena ia tahu kakaknya sangat menginginkan itu.

     Sayangnya saat pelajaran bahasa Inggris, gurunya yang baru sarjana itu malah menjelaskan rumus-rumus dan menyuruhnya menjawab soal yang tak ada bedanya dengan menghafal pelajaran tentang Tuanku Imam Bonjol, VOC,  Masa Jenis, atau Akar Kuadrat. Jadi ketika akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah, Sam tak banyak ambil pusing. Ia pulang, dan kembali melanjutkan hidupnya bersama teman-temannya yang lain di pantai tempat ia tumbuh besar ini.

***

     Kaki Mariam tak lagi menapak pasir putih, kini ia sudah melangkah di jembatan bambu meninggalkan pantai, meninggalkan adiknya. Nanti ia akan memarahi Sam lagi di rumah. Ia akan mengerahkan segala yang ia bisa agar adiknya itu mau melanjutkan sekolah. Di madrasah kampungnya tak masalah, yang penting Sam harus tetap sekolah.

     Sementara itu, Sam melanjutkan menjual gelang-gelang dan botol pasirnya. Ia menghampiri sepasang kekasih yang baru sampai, dan dengan cekatan menempel pada pasangan itu, menawarkan dagangannya, mengikuti kemanapun mereka pergi sampai dagangannya laku terjual.

     Di tepi pantai itu, orang-orang terus melakukan apa yang mereka lakukan. Ibu-ibu yang berjualan di warung-warung beratap daun kelapa atau yang berkeliling, anak-anak penjual gelang dan botol pasir tetap kesana kemari mengerubungi pengunjung, tukang parkir tetap mengurusi kendaraan yang keluar masuk pantai, dan para wisatawan tetap menikmati hamparan pasir putih, birunya laut, dan hijaunya bukit-bukit di sepanjang pantai.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru