Pelangi di Langit Kota Praya-Bag.15

Shanty pulang tanpa membawa hasil. Ia benar-benar tidak memenuhi permintaan Alex, atasnnya itu. Tak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Alex. Ia akan berterus terang bahwa, Larasati sama sekali tidak mau membuka mulut, menceritakan persoalannya. Shanty mengangguk-anggukkan kepalanya sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.  Begiru selalu setip kali dia pulang dari rumah Larasati. Entah untuk yang keberapa kalinya Sahnty mengalami kegagalan ini, dia tidak pernah menghitung lagi.

Akan halnya dengan Larasati, ia pun tidak menghitung lagi, telah berapa lama tak pernah berjumpa dengan Alex. Rindu? Perasaan itu sering berkecamuk dalam dadanya. Namun selalu saja dapat ditahankannya. Ia sudah bertekad untuk tidak lagi bertemu muka dengan Alex. Tak ada gunanya lagi, hanya akan menambah beban dihatinya.

Tetapi bagaimana dengan Papa dan Mama? Bagaimana dengan Dedy dan Tina? Bagaimana pula dengan Shanty dan beberapa teman kerja lainnya? Mereka semua ikut bingung melihat perubahan Larasati. Mereka seakan ikut merasa berdosa kepada Larasati. Sedang mereka tidak bisa melakukan sesuatu untuk Larasati. Bagaimana pula dengan Alex yang dicintai Larasati itu? Alex benar-benar tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi pada Larasati. Betapa ingin dia membantu menyelesaikan persoalan itu. Tetapi Larasati tidak pernah memberikan kesempatan kepadanya. Larasati telah menutup diri. Ya, Larasati memang telah menutup dirinya kepada siapapun, juga kepada Alex.

Hari, minggu, bulan terus berduyun pergi. Lima bulan!, begitu cepat waktu berlalu. Sama sekali tidak terasa. Tetapi luka itu? Larasati belum juga mempu menyembuhkannya. Luka itu kian hari kian membengkak. Semakin dipaka untuk melupakan, justru semakin jelas menghantui pikirannya. Larasati tak mengerti kenapa ia tidak bisa melupakan semua kejadian pahit itu. Padahal ia sudah berjuang sekuat tenaga untuk membunuh kenyataan buruk itu. Tidak tahu dia, kepada siapa dia harus mengeluh agar derita dihatinya akan bisa sembuh? Sedang tidurnya sering  terganggu oleh bayangan-bayanagn yang mengerikan dan menakutkan. Kadang Larasati tterjaga dari tidurnya pada larut malam.Mimpi-mimpi buruk itu seakan lekat kuat dihatinya. Setiap kali dia terjaga pada tengah malam, dia seakan diingatkan entah oleh siapa. Dan itu terjadi sejak dia menerima telefon dari seorang yang tak pernah dikenalnya. Namun ucapan orang itu demikian menyentak kesadarannya.

Sampai saat inipun, pada waktu-waktu tertentu dia sering disentakkan oleh ucapan orang itu. Ya, sampai saat ini. Dan itulah yang sangat mengangggu dirinya. Larasati ingin bisa melepaskan diri dari semua itu, namun belun juga berhasil.

Semua berlangsung sangat cepat dan tak pernah dipikirkan sebelumnya. Larasati masih ingat peristiwa itu. Tujuh bulan lalu, ketika ia hanya seorang diri di kamar kerjanya. Pesawat telefon yang ada dimeja kerjanya bordering. Seperti biasa, ia segera mengangkat gagang telefon dan langsung member salam. Tetapi, sekali itu dia terlambat. Belum lagi sempat menyapa, penelfon gelap diseberang sana sudah bertanya lebih dulu. Yang membuat Larasati kaget adalah nada suara penelfon itu sangat judes.

“Kamu Larasati, sekretarisnya Alex ya!” kata penelfon itu. Entah siapa, tetapi Larasati percaya, yang sedang bicara dengannya adalah seorang wanita, karena suaranya yang langsung itu. Bukan bertanya melainkan seperti mengejek.

“Benar. Ibu siapa? Ada yang bisa saya bantu, bu?” sahut Larasati dengan nada sopan. “Hm, saya bukan sekretarisnya Alex”, lanjut Larasati menjelaskan.

“Alaaa sudah, jangan banyak cakap!” sentak perempuan itu tak bersahabat.

Larasati semakin keki. Sebenarnya sudah ingin diletakkan gagang telefon itu. Karena kesal dan marahnya, entah kenapa hal itu tidak dilakukannya. Seperti ada yang menggelitik hatinya. Dan ia memang merasa tertarik dengan teguran itu sekalipun kasar. (bersambung)

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru