Ketika Nafas Menjadi Tasbih

     Embun masih menggelayuti dedaunan bunga kamboja, buliran buliran nya jatuh pada satu daun yang satu ke daun yang lain. Suasana masih sepi, dingin mengendap pada celah celah udara yang timbulkan oleh nuansa subuh.

“Ayok cepetan kak, Syifa  ingin menunjukkan sesuatu pada kakak” seru perempuan itu menarik lengan seorang lelaki tinggi bertkulit putih.

“Iyaa sabar fa” jawab laki laki itu sambil menahan hawa dingin yang kini mulai menyelimuti tubuhnya.

Syifa masih dengan semangat nya terus menggiring tubuh kekar kakak nya menuju tempat yang menjadi tujuannya. Ia abaikan rasa dingin yang sedari tadi di rasakannya.

“Taraaa..” Syifa bersorak bahagia ketika sudah sampai pada tempat yang dituju, taman belakang rumahnya.

Taman ini adalah tempat yang sering syifa kunjungi, segalanya syifa lontarkan disini, taman ini terletak tepat di belakang rumahnya. Entah apa yang membuat orang orang jarang mengunjungi taman seindah ini. Taman ini, begitu penuh dengan bunga bunga yang indah dan berwarna.

Laki laki itu mengerenyitkan dahi, menatap heran halaman sekitar. Ia melihat Syifa dengan tatapan penuh tanya. Meskipun sebenarnya ia menaruh kagum oleh keindahan taman ini.

“Sini kak” Syifa menarik cepat tangan kakak nya.

“kakak lihat itu” Syifa menunjuk buliran air yang terkumpul pada kelopak bunga yang berwarna warni.

“Masya Allah, keren fa” suara lelaki itu terkagum, untuk pertama kalinya Ia menyaksikan kumpulan embun menggelayuti kelopak bunga seperti itu.

“Embun ternyata indah juga ya fa, Ia terlihat indah ketika buliran buliran nya terkumpul menjadi satu seperti ini” lanjutnya masih dengan tatapan tersenyum kearah embun.

“begitulah kebersamaan, selalu terlihat indah meski dengan warna yang berbeda beda, seperti kita ini kak” Syifa berkata seperti menerka sesuatu.

“Syifa..” suara lelaki itu lembut.

“Iya kak ?”

“Embun menurut kamu apa sih?” tanya lelaki yang biasa di panggil Zafran.

Pertanyaan lelaki itu membuat Syifa terdiam sebentar, lalu angkat bicara seperti membayangkan sesuatu.

“Embun adalah ciptaan Tuhan yang sangat aku sukai,dia begitu mempunyai sebuah nilai estetika tersendiri. Maha karya Tuhan yang telah menciptakannya sebagai suatu zat yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang. Setiap kali aku melihat embun, jiwaku merasa tentram, nyaman dan bahagia.” Ujar Syifa panjang lebar.

Zafran hanya tersenyum mendengar penuturan dari adik kesayangannya itu.

***

Pagi ini langit terlihat sangat cerah,  setiap sudut di polesi warna biru. Mentari mulai menampakkan sinarnya, menggerakkan tiap jiwa untuk kembali melanjutkan aktivitasnya.

Zafran terlihat sedang fokus mengulang ulang bunyi ayat Al Quran sambil memejamkan mata, kebiasaan yang sudah menjadi aktivitasnya setiap selesai solat Duha,meski kuliah di Universitas Negri, tidak membuat Zafran melupakan cita citanya menjadi seorang Hafiz, ia tetap dengan semangatnya melakukan Muroja’ah, sekarang sudah sampai juz ke sepuluh. Setiap detik di laluinya dengan aktivitas ibadah, karna Zafran tahu bahwa ajal tidak pernah mengenal umur,tua maupun muda. Sehingga setiap aktivitasnya selalu di standarkan kepada amal perbuatan yang bisa mengantarnya mencapai syurga. Beribadah bagi Zafran adalah rasa syukur terhadap Allah yang telah memberikan beribu banyak kenikmatan dan kesempatan hingga sekarang ini, Ia ingin desahan nafasnya menjadi tasbih.

“Assalamualaikum kakak” Zafran sontak kaget oleh kehadiran Syifa yang tiba tiba muncul dari bilik pintu.

“Waalaikumussalam wr wb, kamu ini ya kebiasaan masuk kamar nggak ketuk pintu dulu”

“Hehe kan udah salam tapi kak,” Syifa nyengir kuda. Sambil mendekat kearah kakaknya.

“Lain kali harus ketuk pintu dan salam dulu yaa fa” Zafran mengacak rambut adiknya.

“Iyadah iya” ucap Syifa sambil memonyongkan mulutnya.

“Oh iya kak, kakak udah hafal berapa Juz sekarang ?” Syifa menoleh kearah kakaknya yang masih membolak balik lembaran Al Quran yang sedari tadi mengatup di kedua tangannya.

“Baru sepuluh juz fa”

“Wih lumayan itu kak, keren.” Syifa mengancungkan jempol kearah Zafran.

“Kalok kakak berhasil menghafal tambahan lima juz dalam satu bulan, Syifa kasih hadiah deh” Tantang Syifa.

“kamu pikir menghafal lima juz dalam satu bulan itu gampang apa” Zafran melirik kepada Syifa.

“Kalok tantangannya agak sulit berarti hadiahnya juga pasti keren kok kak, percaya deh sama adik kakak yang cantik ini.” Syifa berusaha meyakinkan kakaknya.

 

“Yaudah kakak terima tantanganmu fa, tapi inget ya hadiahnya harus keren.” Zafran tertawa kecil.

“Ehh.. astagfirullah, apa yang aku katakan tadi” Zafran menepuk jidat.

Syifa mengerutkan dahi, “kenapa kak?”

“kakak hanya takut kalok kakak menghafal Al Quran niatnya karna kamu, bukan karna Allah.”

“Syifa nggak pernah bermaksud untuk merusak niat murni kakak itu, yang perlu kakak garis bawahi adalah kakak tetap niatkan menghafal karna Allah, tetapi tantangan dari Syifa tadi Cuma kakak jadikan sebagai motivasi untuk lebih giat, gitu kak.”

“Eh iyaa fa, kakak harus pinter pinter menjaga niat ini.”

Dua minggu berlalu.

“Assalamualaikum kak Zafran, Syifa pulang.” Teriak Syifa memasuki rumah. Kebiasaan Syifa pulang sekolah memanggil nama kakaknya, bukan Ibu, Ayah, atau yang lainnya.

Suasana rumah sepi, hening seketika.

Syifa menyapu pandangan kesegala ruangan, berharap ada orang yang bisa ia jumpai.

“Ma.., Papa..” Syifa berusaha memanggil orang tuanya. Namun nihil, tidak ada satu orang pun yang menyahutinya.

Dengan perasaan kecewa Syifa menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, ia mengambil Handphone dari saku roknya. Seketika matanya membola membaca sms yang masuk,  ia beranjak dari tempat pembaringannya, mengambil konci motor lalu dengan cepat melangkah keluar rumah.

Syifa membawa motor dengan kecepatan tinggi, Air mukanya menyiratkan kekhawatiran.

Sesampainya di Rumah Sakit, Syifa langsung mengayunkan langkah menuju ruangan yang di sebutkan Mamanya melalui sms.

“Assalamualaikum.” Syifa mengucap salam ketika sudah berada di depan pintu ruangan yang di tujunya.

Syifa diam memekik, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kakak kesayangannya terbaring lemah dengan infus yang menggantung.

Seorang perempuan paruh baya langsung memeluk Syifa yang masih mematung meratapi kakaknya.

“Kak Zafran sakit apa Ma” Syifa berusaha menatap Mamanya.

Perempuan paruh baya itu hanya bisa menangis, ia tidak mampu berkata.

“Maa.. jawab Syifa ma” pekik Syifa.

Sang Mama menyeka Air mata yang mulai berjatuhan, berusaha menahan tangis. “kakak mu mengidap penyakit kanker hati fa, kata Dokter hidup kakakmu tidak lama lagi.” Suara itu seperti tercekat, ia tidak mampu meneruskan ucapannya.

Syifa mengatupkan kedua tangan pada wajahnya, Ia hampir tidak percaya dengan penjelasan Mamanya barusan. Syifa menangis dalam diam. Baginya ini terlalu cepat. Ia tidak sanggup rasanya jika harus di tinggalkan kakak satu satunya.

***

Seperti biasa sepulang dari sekolah, Syifa pergi menjenguk kakaknya Zafran.

“Hei kakak, apa kabar?” Syifa memasang wajah termanisnya.

“Seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja fa.” Zafran berusaha tersenyum kearah adiknya.

“Dia pasti berbohong, aku tahu ada sakit di balik senyum itu.” Batin Syifa dalam hati.

“Aku baik baik saja kok fa, tidak usah melihatku seperti itu. Kakak nggak seperti kamu yang  cengeng, kakak bisa lihat matamu berair dari tadi.” Zafran tertawa ringan.

“Iyaa, Kak Zafran benar, aku memang cengeng. Bahkan perempuan yang di bilang kuat sekalipun pasti akan menangis melihat keadaannya yang seperti ini. Termasuk aku.” Syifa membatin.

Syifa berusaha tersenyum di balik gemingan air mata. Ia tidak sanggup melihat kakaknya seperti ini, tubuh kekarnya mulai kurusan, wajahnya pucat, hanya senyum itu yang membuatnya tetap terlihat menarik. sesekali matanya melihat ke arah Al Quran yang sedari tadi di pegangnya, rupanya ia tetap melakukan Murojaah meskipun dalam kedaan sakit sekalipun.

“Oh iya fa, besok kan kakak sudah di perbolehkan pulang sama Dokter, temani kakak ke taman ya, kakak kangen sama embun.”

“Iyaa kak, pasti Syifa temani”

***

       Embun masih mengakar pada elegi pagi, mencipta nuansa sejuk, membuat kelopak bunga bermekaran, pagi yang indah. Seperti janjinya kemarin, Syifa pergi bersama kakak nya Zafran ke taman belakang rumah.

“Ayok fa” Zafran dengan cepat menarik tangan Syifa. Ia terlihat sangat antusias.

Syifa menatap lekat lekat wajah tampan kakaknya yang masih terlihat pucat, entah apa yang dirasakannya. Ia tersenyum tipis melihat semangat Zafran, Ia berhasil membuat kakaknya menyukai Embun, bahkan mencintainya.

“Bunga ini terlihat sangat layu fa, apa kamu tidak merawatnya ?” Zafran berkata sambil memegang bunga yang tampak layu itu. Terlihat raut kekecewaan di wajah tampan nya.

“Bunga itu kehilangan kakak, mereka rindu sama kakak” Syifa mengelak. Karna selama Zafran di rawat di rumah sakit, Ia tidak pernah mengunjungi taman ini. Taman ini terlalau banyak memberika kenangan tentang Ia dan kakaknya, Syifa tidak mampu jika harus mengunjungi taman seorang diri.

Zafran menghela nafas, ada sedikit kelegaan terdengar melalui desahan nafas itu. Dua minggu terbaring di rumah sakit membuatnya sangat rindu akan nuansa embun. Zafran mengambil posisi duduk di bangku kayu, entah apa yang ada di pikirannya. Sedang Syifa mengikuti langkahnya.

Hari sudah semakin sore, kedua saudara itu terlihat masih asyik di taman belakang rumah. Menghabiskan waktu seharian di taman adalah kebahagiaan bagi keduanya.

Syifa menaruh kepala di pundak kakaknya, wajahnya terlihat sangat lelah.

“Fa...”

“Hmm” Syifa berusaha menatap Zafran. Dalam kondisinya yang melemah.

“Kamu suka embun?”

“Suka banget kak, mereka sangat bening dan suci. Aku ingin seperti mereka. Mereka selalu memberikan nuansa berbeda setiap pagi dan selalu di tunggu kehadirannya oleh bunga bunga ini.” Ujar Syifa.

“Embun, titik air bening dari langit, membasahi kelopak bunga yang mekar. Aku ingin seperti embun, disukai banyak orang, di sukai bunga bunga.” Syifa mengulangi ucapannya.

“Kamu sudah menjadi embun itu fa” Zafran membatin.

“Oiya Fa, Kakak kan sudah hafal tambahan lima Juz nih sekarang, dalam waktu pas satu bulan, kakak berhasil menyelesaikan tantangan dari kamu, mana nih hadiah buat kakak?” Zafran menagih janji Syifa satu bulan yang lalu.

Syifa tersenyum. “Syifa sudah yakin kakak pasti bisa menyelesaikan tantangan dari Syifa, hadiahnya sudah Syifa taruh di atas meja belajar Syifa.” Suara Syifa terdengar kurang semangat.

“Kok kamu nggak langsung kasih ke kakak aja Fa?” Zafran menoleh heran.

“Biar Suprise kak.” Syifa berusaha untuk tersenyum, Ia memegang dada, seperti  merasakan sakit di bagian yang di pegangnya. Namun Syifa seperti menyembunyikan sakitnya, Bahkan Ia takut di ketahui oleh kakaknya, Begitulah Syifa, tidak pernah mau menjadi beban untuk orang yang dicintainya.

Suasana semakin sepi, tidak terasa keduanya tertidur.  Hanya suara jangkrik yang berbunyi. Malam semakin larut, membawa tiap jiwa tenggelam dalam mimpi.

Jam menunjukkan pukul 05:15 pagi.

“Ayok bangun Fa, ini sudah subuh, kita solat dulu.” Zafran berusaha membangunkan Syifa yang masih terlihat pulas.

“Fa..ayoklah bangun, ntar mama nyariin kita.”

Syifa terlihat sangat pucat, tubuhnya dingin. “mungkin karna embun” batin Zafran. Ia berusaha menepikan pikiran tidak karuannya.

“Faa..” Zafran kembali memanggil nama itu.

Namun sepi, tidak ada jawaban.

Zafran mulai khawatir, Ia mencari denyut nadi pada tangan Syifa, namun denyutan itu tak di temukannya. Zafran mulai panik, Ia berusah mencari desahan nafas dari Adiknya, namun nihil. Syifa sudah pergi untuk selamanya. Kini nafas itu tidak ada lagi. Nafas yang selalu berusaha membuat sekitarnya tertawa, Nafas yang dengannya bisa membuat kuat setiap orang, Syifa telah mengukir Nafas menjadi tasbih. Kini Nafas itu sudah kembali pada pemilik-Nya.

***

     Sehari setelah kepergian Syifa. Zafran terlihat sangat murung, Ia tidak semangat menjalani kehidupannya tanpa Syifa, meski wajah tampannya sudah tidak pucat lagi, bahkan terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Namun senyumnya seperti menghilang. Di bawa oleh kepergian Syifa. Zafran tersentak dari lamunannya. Ia mengingat hadiah yang di taruh Syifa di atas meja belajarnya. Segera Ia ayunkan langkah menuju kamar Syifa. Ia mendapati kotak berwarna biru berbentuk hati diatas meja belajar Syifa. Dengan penasaran Zafran mulai membuka kotak itu. Bola mata Zafran membesar, meyakinkan apa yang baru saja di lihatnya. Sebuah surat dan foto nya dengan Syifa berada dalam kotak itu.

Zafran membuka selembar kertas berwarna merah hati.

“Embun, sebuah noktah bening dan suci dari langit.Aku ingin menjadi embun, yang selalu di tunggu kehadirannya oleh bunga bunga, Embun selalu membuat orang nyaman berada di sampingnya.Oiya kak maafin Syifa ya, Syifa ingkar janji untuk selalu ada buat kakak. Mungkin saat kakak baca surat ini, kita sudah nggak sama sama lagi. Maafin Syifa juga, Syifa mendonorkan hati Syifa buat kakak, tanpa sepengetahuan orang tua kita,  Hati Syifa menjadi hadiah buat kehebatan kakak bisa mengahafal lima Juz dalam satu bulan. Gimana, hadiah dari Syifa, keren kan ? Hehe. Kakak jangan marah ya, Syifa nggak akan pernah sanggup hidup tanpa kakak, Syifa nggak kuat kalok kakak yang  harus pergi lebih dulu, mending Syifa aja yang pergi duluan, karna Syifa yakin kakak lebih kuat dari Syifa. Janji ya kakak harus tetap semangat menghafal sampai target. Nafas Syifa memang sudah tidak bisa terdengar, tapi sebelah hati Syifa ada bersama sebelah hati kakak, hati kita akan tetap bersatu selamanya.  salam buat mama papa ya, Syifa sayang kalian semua, Love you. Adikmu,Hayatul Syifa.”

Zafran tidak bisa menahan air matanya untuk tumpah, ia menangis sejadinya. Syifa selalu menjadi obat buat orang yang di cintainya,persis seperti namanya, Hayatul Syifa, yang artinya Obat kehidupan.

 

 

Ahad, 5 Februari 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru