Malam Saat Dipijat Puq Kimet

Malam ini, tepat saat malam ke 21 ramadhan. Saat dile-dile jojor1 yang ditancapkan di setiap pojokan rumah penduduk kala ritual maleman2 telah padam, dan lampu-lampu neon mulai dinyalakan lagi oleh setiap rumah. Aku, dibonceng bapakku datang ke rumah puq3 Kimet untuk dipijat seusai shalat terawih. Melewati anak-anak dan para remaja laki-laki yang pamit dari rumah untuk tadarusan, alih-alih meledakkan petasan dan berkencan disana-sini.

     Ini memang bukan kali pertama aku akan dipijat. Tapi ketakutan yang kurasa jauh berkali-kali lipat dibandingkan saat datang pertama kali dua tahun yang lalu.

***

     Aku masih ingat, saat itu aku datang karena keluhan sugul isin selet. Rasa sakit di bawah tulang sayap yang membuatku sakit saat bernafas. Itu karena salah posisi tidur. Kata bapakku dan merekomendasikan untuk dipijat puq Kimet saja, tukang pijat paling terkenal di kecamatan Kediri.

     Karena koyo terkenal dan balsam panas itu tak mempan meredakan rasa sakit dipunggungku, akhirnya malam itu aku datang ke rumah puq Kimet bersama bapakku untuk yang pertama kali, dengan dua kilo gula pasir di dalam keresek hitam. Dan tentu saja dengan perasaan takut karena pertama kali akan berhadapan dengan tukang pijat.

     Rumah puq Kimet berada di pinggiran kampung Gawah Berore. Dekat dengan sungai yang aliran airnya tenang, tapi jangan ditanya seberapa dalam dasarnya yang konon sering menelan korban jiwa. Rumah kecil itu berdiri tegak dengan tembok yang telah diplester dan dicat hijau muda, yang semakin terlihat hijau karena lumut-lumut yang memulau di dasar temboknya. Juga dengan pohon-pohon bambu yang memenuhi pekarangannya. Bukan bambu jepang yang sedap dipandang itu, tetapi bambu sungguhan yang kata orang surganya jin dan para dedemit.

     Kami datang disambut senyum lebar puq Kimet, memamerkan deretan giginya yang masih terlihat kokoh meskipun tampak kemerahan karena memamah pinang. Hilang sudah bayangan Mak Lampir dalam film Misteri Dari Gunung Merapi yang dulu pernah kutonton di televisi saat masih kanak-kanak. Perempuan tua, yang kata bapakku bahkan lebih tua dari almarhum papuqku itu memiliki wajah yang begitu hangat. Jejak kecantikannya saat masih remaja dulu masih tampak menyembul dibalik kerutan-kerutan di wajahnya. Pastilah ia dulunya kembang desa yang menjadi rebutan para pemuda pada zamannya.

      “La, tumben kau datang lagi Din?” Puq Kimet mempersilahkan kami duduk di teras rumahnya yang beralaskan tikar daun pandan. Ia kemudian teriak meminta anaknya, atau mungkin menantunya, untuk membuatkan kopi dan teh. Tentu saja kopi untuk bapakku, dan teh untukku. Tak lazim bagi tuan rumah di kampung-kampung Lombok menyuguhkan kopi untuk tamu perempuan dan teh untuk tamu laki-laki. Entah karena apa.

     “Ini bainde4 Nurma, sugul isin selet. Mau dipijat.” Kata bapakku setelah menyalami puq Kimet dan duduk bersila di dekatnya. Aku mengangguk sopan saat pandangannya beralih menatapku.

     “Astaga sudah besar sekarang bainke5. Kelas berapa?”

     “Kelas 3 SMA, Puq.”

     Dan setelah basa-basi sebentar menanyakan ini itu kepada bapakku dan menyuruh kami menyeruput minuman kami. Puq Kimet akhirnya memintaku mengikutinya menuju ke sebuah kamar untuk memulai pemijatan. Kamar itu tidak terlalu luas, dengan cahaya remang-remang dari lampu neon 5 watt. Hanya ada sebuah lemari tua dipojok ruangan. Dan sebuah ranjang besi tua berlapis kasur kapuk yang saat kududuki berbunyi ‘ngik’.

     Di dindingnya, tertempel dua poster kekuning-kuningan termakan usia. Yang satunya menampakkan wajah Meriam Bellina muda sebagai penghias kalender hadiah toko mas dan yang satunya lagi menampakan segorombolan anak dengan alat musik yang tak lain adalah poster telenovela Amigos X Siempre. Pastinya ada anak seusiaku yang dulu atau hingga kini masih tinggal di rumah ini.

     “Sekarang buka bajumu!” Perintah puq Kimet yang telah siap memijat dengan minyak entah pada lepe’an6 di tangannya. Aku kemudian membelakanginya dan membuka sweater cokelat muda yang kukenakan.

     “Pakaian dalam dan kutangmu juga!”

     “Ehh’??”

     Meski canggung bukan main, aku melepaskan pakaian dalamku demi melihat tatapan profesional puq Kimet. Tak mungkin ia bertindak cabul. Lagipula, dia seorang perempuan tua yang juga pernah memiliki semua yang kumiliki sebagai remaja perempuan.

     Setelah bertelanjang punggung, dengan menutupi bagian tubuh depanku menggunakan pakaianku dan mengikat rambutku atas-atas. Ia mulai mengoleskan minyak di seluruh punggungku dan mulai memijat. Awalnya terasa pelan, tetapi lambat laun tekanannya menjadi lebih keras terlebih pada bagian punggungku yang terasa sakit. Aku menggelinjang beberapa kali karena geli tak terbiasa. Tapi lambat laun menjadi menikmati setiap pijatannya. Aku berani bertaruh, pijatan puq Kimet tidak kalah dengan pijatan dalam rumah-rumah SPA mahal di luaran sana.

     Saat memijat itu, puq Kimet bercerita panjang lebar tentang pengalamannya malang melintang di dunia perpijatan, membunuh rasa canggung di antara kami. Ia mengaku memiliki kemampuan memijat sejak berusia 20 tahun. Kemampuan itu datang begitu saja tanpa dipelajari. Bakat alam yang tak sembarang orang memilikinya. Sejak itu, puq Kimet pun dipanggil untuk memijat ke segala penjuru kampung bahkan ke kampung-kampung sebelah. Namanya pun menjadi harum sebagai pemijat ulung di segala kalangan.

      Karier puq Kimet tak sampai disitu, ia juga mengaku membantu persalinan ibu-ibu di kampungnya, yang dulunya jika melahirkan harus menempuh jarak berpuluh kilo meter untuk sampai ke rumah sakit kota. Ibu dan bayinya bisa mati bila dalam keadaan darurat kalau tak segera ditolong. Jelas puq Kimet. Belum ada puskesmas di kecamatan ini saat itu. Jadilah puq Kimet, yang juga belajar secara autodidak, menjadi pembantu persalinan paling terkenal seantero kecamatan. Bakat alam yang luar biasa.

     “Wah hebat sekali side7 puq! Sekarang masih suka bantu-bantu persalinan?” Tanyaku disela-sela pijatan puq Kimet yang mulai menurun ke perutku. Agar nafsu makanku baik katanya.

     “Ya masih. Aku masih bantu-bantu di puskesmas. Dan malah sering disuruh mendampingi bidan-bidan praktek kacangan itu.”

     “Ohya?!”

     “Iya. Aku kadang-kadang kesal dibuat mereka. Entah teori apa yang mereka pelajari selama bertahun-tahun, tak ada yang becus. Sekolah bidan cuma jadi gengsi-gengsian. Kau belajarlah yang baik, jangan sekedar gengsi kalau melanjutkan sekolahmu.”

      Aku mengangguk dan meringis saat puq Kimet menekan perutku dengan sedikit keras.

     “Kau tau? Pijatan di perutmu ini bisa menggugurkan kandungan.”

     “Apa kau juga pernah mengggurkan kandungan?”

     Hening sejenak, tak ada jawaban. Puq Kimet kemudian memintaku menghadapnya, mengulurkan tanganku satu persatu dan menariknya dengan keras tanpa takut tulang-tulangku terlepas dari tempatnya. Aku meringis. Sebenarnya tidak terlalu sakit, hanya ketakukan akan putus semata.

     “Jadilah gadis yang baik. Zaman sekarang telah berubah. Jangan sembarang menyerahkan keperawananmu pada laki-laki. Peliharalah baik-baik.”

     Saat itu, aku tidak terlalu mengerti kenapa puq Kimet menjawab pertanyaanku dengan pesan-pesan yang kuyakini sudah pasti akan kulakukan tanpa diminta itu. Puq Kimet pun menutup pemijatannya malam itu dengan penarikan kepala paling horror yang pernah kutau dan kurasakan. Tetapi setelah itu, aku merasakan tubuhku begitu ringan dan malamnya aku tertidur dengan sangat nyenyak.

***

     Malam ini, malam ke 21 ramadhan. Aku kembali memunggungi puq Kimet untuk dipijat seperti dua tahun yang lalu. Masih di kamar yang sama. Dengan lemari tua, ranjang tua, dua poster tua, dan cahaya remang-remang dari lampu neon 5 watt yang sama sekali tak berubah sejak malam pertama kali dipijat olehnya waktu itu.

     Dengan perasaan berdebar penuh rasa takut. Aku mulai merasakan tangannya memijat punggungku pelan dan turun ke perutku. Tangannya berhenti disana. Aku menahan nafas. Pelan kudengar ia membisikan sesuatu ke telingaku. Aroma pinang seketika menyeruak.

     “Ini bulan puasa. Bulan penggugur dosa. Aku tak ingin menggugurkan nyawa tak berdosa.”(*

 

_cerpen ini masuk 

Istilah Sasak:

[1] Dile jojor: Lampu yang terbuat dari biji buah jamplung, yang ditusuk seperti sate kelapa.

[2] Maleman: Tradisi menyambut malam ke 21 Ramadhan yang diyakini malam turunnya Lailatul Qadar, dengan menyalakan dile jojor di setiap sudut rumah dan mematikan lampu neon.

[3] Puq/papuq: Nenek atau kakek.

[4] Bainde: Cucumu

[5] Bainke: Cucuku

[6] Lepe’an: Tatakan teh

[7] Side: Kamu, bahasa halus

 

*) Penulis bernama lengkap Novita Hidayani. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram. Cerpen-cerpennya tersiar di sejumlah surat kabar dan media daring.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru