Pelangi di Langit Kota Praya - Bag.19

Tak terasa sebulan telah berlalu. Mereka berdua di sudut ruangan yang penerangannya rada-rada suram. Di meja ada dua gelas minuman segar. Yang seorang berusia sekitar tigapuluh tahun dan yang satunya lagi jauh lebih muda, usianya sekitar dua puluh tahun. Mereka duduk diam tanpa bicara sepatah katapun. Sudah hampir duapuluh lima menit mereka berdiam diri seperti itu, seakan tidak tahu dari mana harus memulai percakapan. Pengunjung lain hanya beberapa pasang lelaki dan perempuan, sehingga ruangan yang cukup luas itu terasa sepi dan lengang.

“Kau bilang ingin bicara denganku, Ded. Kenapa diam saja?” Terdengar teguran lelaki yang lebih tua. Dia menatap ketemannya yang duduk di antaranya sambil mengembangkan senyum simpatik.

“Bicaralah, aku akan siap mendengarnya”.

Anak muda itu terkejut. Bukan karena tkut, melainkan karena bingung. Ia benar-benar bingung untuk mulai percakapan. Padahal, pertemuan itu dia yang merencanakan. Tadi pagi melalui hand phonedia meminta lelaki itu untuk bertemu ditempat ini saat ini. Ada yang penting untuk dibicarakan, begitu katanya melalui hand phonenya. Dan sekarang dia sudah bertemu dengan lelaki tua itu. Kalimat demi kalimat yang sejak tadi pagi sudah disusunnya seperti lenyap begitu saja. Aneh, kenapa dia tiba-tiba jadi bisu seperti ini?”

“Loh! Kok malah bengong?” lanjut lelaki tua itu masih dengan senyum simpatik.

Anak muda itu tersenyum lucu. Digeleng-gelengkannya kepalanya untuk menyatakan dia tidak tahu harus berkata apa.

“Bicara saja. Bukankah kau yang meminta untuk datang ke sini?”

“Benar, Mas”.

“Lalu, kenapa tiba-tiba diam?”

“Entahlah, Mas. Tiba-tiba saja aku tidak pandai bicara. Entah kenapa. Mungkin karena persoalannya sangat rumit”.

“Setiap persoalan pasti ada penyelesaiannya, Ded, katale laki tua itu. Ia memanggil anak muda itu dengan Ded. Nama anak muda itu adalah Dedy. Dia itu adik kandung Larasati. Dan lelaki yang lebih tua itu adalah Alex, kekasih Larasati. Mereka bertemu mala mini, entah untuk keperluan apa.

”Apa ada hubungannya dengan aku?” tanya Alex membuka pembicaraan. Dedy mengangguk cepat.

“Benar, Mas. Soal Larasati dan Mas Alex”.

“Kalau cuma persoalan itu, kenapa takut mengatakannya?”

Dedy malah tersenyum mendengar teguran itu. Ia sendiri tidak tahu kenapa takut mengatakan hal itu kepada Alex. Padahal Alex begitu baik dan ramah kepadanya.

“Bukan takut, Mas. Tapi bingung”, Dedy berguman lalu ia tertawa kecil.

Alex juga ikut tertawa. Memang mereka berdua tampak akrab. Malah Alex tak ubahnya seperti seorang kakak buat Dedy. Setiap kali dia mendapat kesulitan, sering dia mengeluhkannya kepada Alex. Dan Alex selalu siap membantu menyelesaikan kesulitan Dedy bakal adik iparnya itu. Tetapi Alex tidak bisa bersikap seakrab itu kepada Tina. Entah kenapa. Antara dia dengan Tina seperti ada dinding pembatas yang tak tampak, namun demikian terasa. Alex sendiri sering merasa heran. Padahal dia sudah berusaha untuk bisa akrab dengan Tina. Sayang, si bungsu itu tak pernah mengacuhkannya. Malah Tina sering menggoda Alex dengan gurauan-gurauan khas remaja. Tina masih SMA, wajarlah kalau senang mengganggu. Alex pun tidak merasa tersinggung. Ia hanya bingung, karena Tina dirasakannya begitu jauh darinya, padahal kepada Papa, Mama dan Dedy, dia bisa akrab. Kepada Tina? Yang satu ini tidak terlalu dipersoalkan lagi. Mereka berdua sudah sehati dan seperasaan. Tidak ada problem lagi. (bersambung)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru