Pelangi di Langit Kota Praya - Bag.20.

Cerbung: Lalu Pangkat Ali, Bag. 20

“Apa yang kau bingungkan, Ded?” Tanya Alex beberapa saat kemudian. Ditatapnya Dedy sedemikian rupa.

“Mungkin kau mau bertanya, mengapa aku dan Larasati tidak bersama lagi, ya?”

Dedy mengangguk. Seperti kerbau dicocok hidungnya, ia mendengarkan Alex meneruskan cerita, mengapa hubungannya dengan Larasati seperti terputus. Singkat saja cerita Alex, tetapi buat Dedy seperti sudah bisa menjadi bahan untuk menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya.

“Jadi, perempuan itu memang ada, Mas?” Tanya Dedy agak ragu. Kemarahan hampir  saja meluap kekepalanya. Untung saja dia ingat bahwa, sekarang bukan sedang berada di rumah atau di rumah Alex.

“Kalau benar dia istri mas Alex, mengapa tega meninggalkannya?”

Alex tersenyum kecut. “jangan lekas marah, Ded. Dengar dulu ceritaku selanjutnya”, kata Alex sambil merentangkan kedua tangannya, meminta agar Dedy tetap tenang.

“Perempuan itu namanya Siska. Benar dia telah punya anak. Dia dan anak-anaknya memang menjadi.....”

“Cukup! Cukup Mas! Jangan teruskan lagi, aku muak mendengarnya!”, sengat Dedy dengan kesalnya.

Alex menggelengkan kepalanya sambil berusaha tersenyum wajar.

“Sabar Ded. Sabarlah…” pinta Alex dengan suara  pelan bergetar. “Beri aku waktu untuk menjelaskan persoalannya”.

“Tidak perlu, Mas!. Wajar kalau kakakku mengambil keputusan berpisah. Mas bukan lelaki jujur. Kalau memang sudah beristri, mengapa takut mengatakannya kepada kami dengan jujur?. Mestinya sportif pada Larasati!”.

Alex menganggukkan kepalanya. DIhela napasnya dalam-dalam. Benar! Dia memang tidak sportif. Mestinya hal itu sudah dikatakannya sejak dulu kepada Larasati. Tetapi ia tidak pernah dilakukannya. Karena tidak perlu. Ya, memang tidak perlu mengatakan hal itu kepada Larasati atau siapapun. Apa hubungannya dengan Siska? Ada hubungan apa Siska sehingga perlu merasa takut mencari kekasih? Tidak! Alex sungguh tidak pernah  membayangkan kalau justru Siska akan menjadi  momok baginya?. Perempuan sederhana yang tidak layak disalahkan. Alex memang tidak akan menyalahkan Siska, karena ia tahu kenapa hal itu dilakukan Siska. Perempuan itu kuatir, dia dan anak-anaknya tidak akan diperhatikan lagi oleh Alex, sehingga melakukan tindakan ceroboh itu.

Siska dan kedua anaknya memang menjadi tanggungan Alex. Semua kebuuhan keluarga itu dibiayai oleh Alex. Bukan tanpa alasan. Alex melakukan semua itu karena ia telah merasa bersalah atas kematian Irhas, suami Siska. Irhas adalah sahabat kental Alex sejak pertama kali di Praya ini. Lelaki itulah yang pertama kali dikenalnya. Tiga tahun yang lalu dalam sebuah perjalanan, mobil yang dikemudikan Alex bertabrakan dengan sebuah bis luar kota. Irhas tewas seketika dalam kecelakaan itu. Alex hanya mengalamiluka-luka ringan. Dialah yang memaksa mengajak Irhas untuk ikut bersamanya ketika itu. Alex tak tahan melihat Siska menangis menjerit-jerit ketika disampaikannya beritaburuk itu. Siska menjerit histeris menheluhkan nasib keluarganya. Alex merasa tersayat hatinya melihat semua itu. Dia merasa bertanggung jawab atas terjadinya musibah kecelakaan itu. Maka iapun menyanggupi untuk membiayai kebutuhan keluarga Siska sampai akhirnya Siska menikah lagi. Hanya itu harapan satu-satunya. Menyuruh Siska bekerja sungguh tidakmungkin. Perempuan itu tidak pernah mengecap pendidikan formal. Hanya SD tidak tamat. Sangat sulit untuk mencarikan pekerjaan buat Siska.

Tapi siapa yang mempercayai semua itu?. Alex sangsi, apakah Dedy akan bisa mempercayai cerita itu?. Digelengkannya kepalanya. Ditatapnya Dedy yang duduk di depannya. Anak muda itu menatapnya bengis. Dedy benar-benar marah kepada Alex. Alex menghela napas lagi. Serba sulit memang. Ia ingin berterus terang mengatakan semua persoalannya, namun dia sangsi, Dedy tidak akan percaya padanya. (bersambung)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru