Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 22

Tanpa mengangkat kepalanya, Siska berkata pelan.

“Maafkan kesalahanku, Mas. Aku tidak bermaksud menghancurkan hubungan Mas dengan Larasati. Aku hanya…..hanya takut…”

Alex menengadahkan wajahnya dan dihirupnya udara sebanyak-banyaknya. Dia mengerti sekali apa yang dilakukan Siska itu.

“Aku mengerti. Aku mengerti, Sis. Tetapi seharusnya kamu tidak perlu takut. Aku pantang mengingkari janjiku kepada siapapun”.

“Maafkan aku, Mas”.

Alex menganggukkan kepalanya. Maaf? Dia selalu memaafkan siapa saja. Tapi, apakah cukup dengan kata maaf saja? Lalu bagaimana dengan Larasati?

“Kamu juga harus menjelaskan persoalannya krpada Larasati. Hanya itu cara satu-satunya supaya dia bisa yakin bahwa diantara kita tidak ada bhubungan apa-apa. Aku memohon kamu menolongku, Sis. Kamu mau kan?”

Siska mengangguk. Tetapi dia tidak menatap wajah Alex.

“Aku akan menemuinya, Mas. Mudah-mudahan dia mau memaafkan kesalahanku itu”. Siska berguman lirih.

“Datanglah ke rumahnya, Sis. Ini alamtnya”, kata Alex sambil memberikan secarik kertas pada Siska.

“Mas tidak marah padaku, kan?” Tanya Siska ragu. Diambilnya kertas persegi empat yang disodorkan Alex.

Alex menggelengkan kepalasInya. Ia memang tidak ingin marah kepada Siska, karena dia sudah tahu duduk persoalannya. Siska melakukan semua itu karena tidak  tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Dia takut kalau Alex kelak menikah, lantas tidak membantu keuangan rumah tangganya. Sementara dia belum juga menemukan lelaki yang bisa dijadikan penopang masa depan kedua anaknya. Alex mengerti semua itu, sama seperti dia mengerti bahwa, Irhas suami Siska meninggal karena dirinya. Sebenarnya kapan saja dia mau menghentikan bantuan kepada Siska, tidak aka nada hukum yang memvonisnya. Namun halite tidak pernah dilakukannya, bahkan tidak akan pernah dilakukannya. Apa yang sudah diberikannya kepada Siska, belum seberapa bila dibandingkan dengan yang telah diberikanSiska kepadanya. Siska telah memberikan nyawa suaminya. Begitu mahal pemberian itu dan sampai kapan pun tidak akan bisa dibalasnya.

“Kapan kamu akan menemui Larasati?’ Tanya Alex kemudian.

“Terserah, kapan saja, Mas”

“Bagaimana kalau besok pagi, di kantor?”

“Tadi Mas bilang di rumahnya saja”

“Kalau begitu besok sore saja. Ingat,kamu harus menjelaskan semuanya sampai dia benar-benar mengerti permasalahannya. Sebab, kalau aku yang menerangkannya, pasti dia tidakmaumengerti”.

Siska mengangguk, Alex menarik napas lega. Terbebaslah dia dari persoalan rumit itu? Maukah Larasati mengerti cerita Siska? Bagaimana pula dengan hubungan mereka setelah itu? Semuanya masih berupa tanda tanya dan Alex sulit untuk memastikannya. Duh!

Di luar persoalan itu, timbul pula persoalan lain. Deddy berdiri dari kursinya. Wajahnya begitu garang. Dia berkecak pinggang menatap Papa dan Mama. Barusan saja dia telah menumpahkan semua kemarahannya.Tapi, tampaknya belum cukup. Masih banyak yang mengganjal dadanya dan itu harus segera dikeluarkan semuanya agar hatinya bisa tentram. Mama hanya bisa berdiam diri. Papa yang tidak senang dengan cara Deddy itu. Protes boleh saja, tetapi harus tetap bersikap sopan kepada orangtua. Begitu harapan Papa. Dan cara Deddy sangat tidak sopan. Dia menghantam meja begitu keras sehingga asbak sampai jatuh di lantai. Tina yang tadi mengambil dan meletakkan kembali di meja di depan Papa. Rapat keluarga, mungkin itu maksudnya, menjadi berantakan karena tindakan Deddy yang urakan itu. Apa yang mereka bicarakan? Larasatikah?  (bersambung)

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru