Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 29

Cerbung: Lalu Pangkat Ali, Bag. 29

“Pulanglah, Laras”, kata Nenek pelan. Sepertimiya ia bisa membaca jalan pikiran Larasati.

“Jangan bandel. Kamu sayang pada Nenek kan? Kamu datang dari jauh, dari kota Praya karena ingin menjenguk Nenek. Itu tandanya kamu benar-benar saying pada Nenek. Sekarang nenek yang minta agar kamu pulang ke rumah. Nah, pulanglah, cucuku”.

Larasati menghela napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak. Pulang? Haruskah aku pulang ke rumah kalau itu hanya membuatku terluka dan tersiksa? Piker Larasati bingung. Tetapi bagaimana dengan Nenek kalau aku berkeras tinggal disini. Tetap tinggal di rumah yang tenang dan nyaman ini? Serbasalah jadinya.

Beraneka ragam pikiran berkecamuk dalam otak Larasati. Kepalanya terasa mau pecah. Tak kuat lagi menerima kenyataan pahit yang menusuk-nusuk hatinya. Ia tetap memutuskan tidak akan pulang ke rumahnya, kalau hanya akan menyakiti hatinya. Dadanya terasa sesak. Seperti ada sekelompok ular besar yang selalu menggerogoti jiwanya pelan-pelan. Terasa perih sekali. Tuhan! Mengapa harus begini alhirnya? Larasati berguman dalam hati setengah berdoa.

Larasati menundukkan kepalanya kemudian memejamkan matanya. Tak terasa butiran-butiran bening menggumpal dikeduabelah pipinya. Buitirn=butiran bening itu kemudian jatuh menetes satu persatu. Ya, Larasati menangis sejadi-jadinya. Menangis dan meratap nasib dan perjalanan hidupnya. Manis dan getir cintanya buat Papa, Mama, Deddy dan Tina, kini terasa sangat jauh darinya.Lebih-lebih pada Alex.

Kakek dan Nenek menatap wajah Larasati yang berada di depannya. Perasaan kedua orang tua itu menjadi terenyuh. Ia tetap menatap kuat dan lekat, seakan tak mau lepas. Orang gaek itu merenung sejenak, mungkin sedang menghayati keragaman jiwa dan sikap manusia.

“Pulang saja, Laras. Biar kakek mengantarmu”, Kakek berguman. Larasati menatap kearah Kakek. Sulit untuk menganggukkan kepalanya disaat seperti ini. Tapi gadis itu sungguh mengagumi kedua orang tua didekatnya itu. Ia mengagumi kearifannya. Lipatan-lipatan keriput dan kerut dikedua belah pipinya adalah tanda-tanda kearifan yang telah dijalankannya. Selama berpuluh-puluh tahun Larasati tidak tahu persis, apakah dia cukup arif seperti Kekek dan Nenek dalam perjalanan hidupnya?

“Pulanglah cucuku yang manis”. Nenek membujuk Larasati.

“Ya Laras. Pulanglah. Toh Kakek dan Nenek sudah tahu persis persoalanmu dengan Alex. Semua informasi yang datang dari Praya itu, sudah kakek terima ketika kamu pergi bersama Nenek tempo hari. Kamu tidak pernah berterus terang tentang informasi itu setiapkali kami bertanya. Kamu tentu mengira, kami tetap menjadi orang desa yang buta huruf, iya kan? Wah, itu semua   sudah lama hilang, Laras. Kami sejak setahun ini sudah bisa membaca dan menulis. Ikut kursus PBH atau pemberantasan buta huruf dib alai desa. Itu oleh-oleh orang-orang pintar dari kota. Semuanya sudah jelas sekarang. Alex memang tidak bersalah. Siska yang menelfon itu bukanlah istri Alex. Dia adalah istri Irhas, sahabat Alex yang meninggal dalam suatu kecelakaan. Siska kuatir, Alex tidakakan membantu membiayai keluarganya kalau menikah denganmu. Padahal, Alex tidak akan melakukan hal itu. Salahnya Alex, karena dia tidak memberitahukan kepadamu. Iya kan? Tapi kamu tidak perlu menyalahkannya lagi, Laras. Apa yang dilakukan Alex adalah suatu yang sangat mulia. Kakek percaya, cucu Kekek pun bisa seperti Alex. Nah, apalagi yang perlu disusahkan, kalau semuanya sudah jelas”.

Larasati terkejut. Bukan karena berita itu, melainkan karena Kakek dan nenek sudah pandai menulis dan membaca. Ditatapnya kedua orang tua itu dengan pandangan mata yang bersinar.

“Kamu mau pulang kan Larasati? Tanya kekek menyusul. Ia kemudian tersenyum menatap Larasati.

“Cucu nenek yang manis pasti tidak ingin mengecewakan Nenek, iya kan? Nah, pulanglah, cucuku”.  (bersambung)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru