Pelangi di Langit Kota Praya - Bag.30

Cerbung: Lalu Pangkat Ali, Bag.30

Larasati menundukkan kepalanya. Tapi, Nenek dan Kakek sempat melihat senyum Larasati ketika menunduk tadi.

“Dan ingat! Setelah perkawinan itu dilangsungkan, kalian harus datang kesini. Kenalkan Alex pada Kakek dan Nenek,” kata kakek berguman.

Larasati mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Kakek dan Nenek dengan perasaan terenyuh. Ia tidak mengangguk, tidak juga menggelengkan kepalanya. Tetapi dari sorot matanya yang berseri-seri, Kakek dan Nenek sangat tahu, bagaimana perasaan Larasati saat ini.

“Kakek dan Nenek akan mengantarmu, Laras”, Nenek menjelaskan.

Larasati diam. Sulit untuk menganggukkan kepalanya. Terasa sulit memang. Ia kembali memainkan pikirannya dan mendapat kesan tentang Alex yang saban hari datang ke rumah,pulang pergi ke kantorbersama-sama pula. Rasanya tidak sedikitpun waktu yang dibiarkannya berlalui. Gadis itu juga memikirpan Papa, Mamas, Deddy dan Tina. Ia ingat pula Shanty, sahabat kentalnya itu. Sudah barang tentu mereka merasa kehilangan dan rindu akan dekapan kasih saying mereka masing-masing. Aneka pikiran berbelit dalam benak gadis itu.

“Betul, Laras. Kakek mau mengantarmu”, Kakek mendesak Larasati kembali. Orang tua itu juga merasa kasihan. Ingin rasanya membagi derita yang dimiliki Larasati itu untuknya, agar Larasati bisa sedikit terhindar dari deritanya. Tapi Larasati? Nampaknya gadis itu tak mau peduli dengan apa yang ada disekelilingnya yang ingin mencoba mengusiknya.

“Kamu mau kan diantar?” Nenek ikut nimbrungdenganharapan, Larasati akan menjawab ‘iya’.

“Kakek akan bersedia mengantarmu, Laras”, perlombaan menasihati Larasati kambuh lagi.

Larasati menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tidak, kek. Kakek dan Nenek tidak perlu repot-repot memikirkan cucu yang bandel ini. Aku pergi sendiri dari rumah, biarkan aku pulang sendiri. Terima kasih pada Kakek dan Nenek yang telah berlaku arif padaku”, Larasati berguman. Kewanitaannya mulai sangat kentara. Ia mulai menyadari, selama ini telah banyak menyakiti dan mengecewakan Kakek dan Neneknya.

“He he he….itu lebih baik”, sambut Kakek sambil tertawa terkekeh-kekeh. Bahunya terus berguncang karena tertawa berderai. Sebentar-sebentar ia menutup mulutnya yang hanya kelihatan gusi itu. Nenek juga tertawa. Ia nampak lebih berseri-seri, karena gembira mendengar ucapan Larasati tadi. Nenek kini tidak sedang bermimpi.

“Cucu kekek mesti lebih berani. Tidak boleh takut menghadapi persoalan apapun juga”. Kakek mambuka percakapannya lagi.

“Lalu, kapan kamu pulang, Laras?” Tanya Nwenek menyusul.

“Besok pagi, Nek”, Larasati menjawab tanpa tekanan.

“Kalau begitu, Nenek akan membuat makanan untuk Papa dan Mama. Kue-kue kampung kesukaan orang tuamu itu”. Nenek mengguman sambil tertawa. Semua giginya sudah tidak ada lagi. Yang tampak hanyalah gusi yang merah kehitam-hitaman karena setiap hari selalu menyirih.

Mereka tertawa. Larasati bisa tertawa bebas dan lepas hari ini. Entah besok, setelah tiba kembali di rumahnya, apakah ia bisa tertawa bebas dan lepas seperti hari ini?

Yang pasti, sampai detik inipun sebenarnya Larasati masih mencintai Alex. Ya, dia tidak ingin kehilangan lelaki yang sangat dicintainya itu. Dia juga tidfak ingin membohongi perasaannya sendiri, perasaan wanita sejati!

Larasati teringat pada ucapan papa bahwa, tidak ada satu persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Pasti bisa diselesaikan. Papa benar, aku rindu padamu, Pa. Larasati berguman dalam hati. Aku harus pulang. Ya, harus pulang besok, Pa!” (bersambung)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru