Rambut Gadis Hilang Di Kota Denpasar

Putih Abu bukanlah masa yang indah jika tak meninggalkan kisan yang romantis, Begitu pula dengan ATANG dan FINA. Cerita ini ku kisahkan, dari perjalanan Dua Insan Bumi Gora.

Sepanjang jalan terlihat jelas kerikil, dan sebagian ruas jalan yang tergenang lumpur, Ia mengira kami tak mendengar suara bising kenalpotnya. Si pengendara motor itu, menegur kami yang berjalan kaki dengan sedikit sindiran, hingga membuat kami semakin terlena dalam canda. Seperti itu kebiasaan kami manakala pulang sekolah. Saat itu, tak lama kemudian seorang Gadis, bersama teman-temannya berseru memanggil untuk ikut bergabung bersama kami yang saling berbagi canda.

Aku merasa terpesona....
Di sela canda itu aku sengaja mencuri pandang wajahya, lalu bagiman jantungku berdetak normal...?.
Nampak lepas senyumnya yang menawan dari kejauhan, ternyata Ia lebih dulu mengenalku.

Pada kesempatan itu, kubiarkan teman-temanku sibuk dengan tawanya, sementara aku diam-diam mencuri celah untuk dapat berjalan seiring dengannya. Dengan penampilan seadanya, aku merasa enjoy hingga akhirnya aku memberanikan diri menyentuh bahunya sambil tersenyum malu....

Melihat tingkahku, teman-teman mulai membuat topik baru dalam canda, nampaknya mereka telah mengetahui, bahwa kami tengah saling memperhatikan satu sama lain. Dan benar saja, teman-teman meminta agar kami saling berkenalan dan membagi Nomor Kontak. Ternyata Ia pun menyambut uluran tanganku, namun tak mau menyebutkan namanya.

Berjalan seiring dengannya, Tak terasa kami sudah sampai di dekat tempat tinggalku, namun tak kunjung ia menyebut namanya. Dengan rasa penasaran ku tanyakan lagi siapa namanya, lalu salah satu teman perempuanku menjawab, namanya FINA. Seketika ia membantah bahwa namanya bukan Fina, itu semakin membuat aku penasaran hingga kami berpisah karena Ia harus melanjutkan perjalanan pulang.

Hari Kamis itu, walau aku belum mengetahui siapa namanya, namu hari itu adalah awal mula aku melihat dia....
Nampak belum puas aku berjalan seiring dengannya, aku pun menelpon, sudah sampai dimanakah kamu...? tanyaku, dan Ia menjawab aku sudah hampir sampai.
Tak cukup sampai disitu, rasanya aku selalu ingin mendengar suaranya dengan berbincang, berbagi kisah lewat panggilan telpon.

Waktu silih berganti hingga malam pun tiba, kami mulai berkumpul bersama teman di sebuah kamar tempat tinggalku. Disana kami berbagi cerita, higga salah satu dari mereka bertanya, bagaimana pendekatanmu bersama gadis tadi pagi...?
Aku tidak tahu... jawabku...
Mengama begitu..? Bukankah kamu sudah menelponnya...? Tegasnya.
Ia, saya memang menelponnya tapi hanya sebatas berteman saja... jawabku.
Kenapa tidak kamu rayu saja dia...? Dia kan Cantik, Sekolah di Madrasah lagi, ya kan teman-teman... katanya menggodaku...
Aku terdiam sambil memikirkan ucapan mereka, yang semakin membawaku hanyut dalam pesona...
Kala itu, sampai kami tertidur, hanya gadis itu saja yang di bahas oleh teman-temanku disela canda tawa kami...

Demikian terkesan hari Kamis siang itu, hingga Jum'at, sehari setelah aku mengetahui sedikit tentangnya, membuat aku ketagihan, ingin selalu bertemu dengannya sepulang sekolah, namun ternyata waktu berkata lain. Di hari yang sama, sepulangku dari sekolah, aku kembali menghubunginya, dan seperti biasa kami bertukar canda berbagi cerita.

Mendengar ucapannya yang lepas, dan sesuai dengan topik apa yang saya gemari, Saya memberanikan diri mengajaknya berpacaran untuk saling lebih mengenal satu sama lain. Namun jawaban yang kuterima darinya sedikit menguji kasabaran.

Jika Kakak ingin agar aku menjawab ajakan Kakak untuk berpacaran, sabarlah..
Silahkan pergi Jum'atan dulu...
Nanti sepulang Kakak dari Jum'atan, hubungi saya kembali, baru saya akan sampaikan jawaban saya atas ajakan Kakak barusan...
Tapi, saya mohon jangan berharap karna saya tidak ingin Kakak kecewa...
Sembari ia mengucapkan salam dan menutup telpon...




Aku sadar Sholatku waktu itu tidak sebaik sholatku sebelumnya, karena fikiranku hanya terarah kepadanya.
Mungkinkah aku diterima sebagai kekasihnya...?
Atau mungkinkah hari Kamis kemarin adalah hari Pertama dan Terakhir aku bersedia menemuinya...?
Aku tidak tau... pertanyaan itu selalu terbayang disetiap gerakan Sholatku...

Sholat Jum'at telah selesai, dengan langkah terasa ringan aku bergegas pulang, agar aku segera dapat menghubungi dan mendapat Jawaban darinya...
Jauh dari bayangan yang aku duga, ternyata Gadis itu bersedia menjadi Kekasihku...

Mendengar jawabannya perasaanku ceria tak menentu hingga terlihat jelas di pandangan banyak orang di sekitarku, sampai-sampai mereka mengatakan aku ini sedang menggila...
Benar saja, karena apa jawaban yang aku harapkan tercapai juga...

Lalu setelah kami sama-sama mengungkapkan perasaan suka, aku baru mendapat namanya yang asli... dan banar bantahannya bahwa namanya bukan FINA.

hari demi hari, kami sering bertemu sepulang sekolah, hingga semua teman kami telah mengetahui bahwa kami telah berpacaran. Seiring pergantian hari saya terkadang mengikuti Dia sampai kerumahnya, mungkin waktu itu karena asmara, tak terasa Jalan jauh sekitar 3 Km terkadang menanjak, itu tidak membuat aku bosan berjalan beriringan dengannya, walau akhirnya saya harus kembali lagi sejauh sekitar 3 Km itu sendirian.

Itu demi memperjuangkan perasaanku terhadapnya, dan menjagar agar Dia hanya menjadi milikku seutuhnya. Dalam peristiwa itu, Semua Orang, Semua Kerikil, Rumput, Pepohonan, Semak belukar dan sebagainya menjadi Bukit, menjadi saksi bahwa Cinta kami murni, Cinta kami bukan Cinta monyet, Cinta kami tidak ternoda... serta itu membuktikan bahwa Cinta, dan Kasih Sayang kami mekar di Jalanan....

Kala itu, Saya Kelas XII (Dua Belas) di SLTA, sementara Dia di Kelas X (Sepuluh) di MA. seiring waktu berganti bulan, kerap kali aku mengajak teman temanku datang kerumahnya, untuk menjalin persahabatan bersama pemuda disana, sambil memperkenalkan diriku terhadap orang tuanya.

Demikian selama Setahun aku mengenalnya, dan seiring aku sudah mengikuti semua Ujian di sekolahku, dan mendapat undangan kepada orang tuaku untuk menghadiri pengumuman hasil ujianku di sekolah.
Waktu itu aku malu mengikuti acara pengumuman sehingga aku hanya menunggu Kakakku pulang dari menerima hasil Ujianku.

Siang itu, sepulangnya Kakakku membawa Amplop berisi pengumuman hasil Ujianku, Ia menepuk pundakku dan mengatakan, eeehhhmmm percuma kamu jauh jauh datang kesini untuk sekolah ternyata hanya ini hasilmu....! Ucapnya... sambil melepas Amplop tersebut.

Mendengan ucapannya aku tertunduk malu, sambil berlahan meraih Amplop yang ternyata Amplopnya masih Bersegel rapat...
Sembari ku buka amplopnya dan membaca isinya, ternyata surat dalam Amplop tersebur menyatakan bahwa aku LULUS.....
Seketika itu, aku bersujut syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada setiap mereka yang hadir menunggu hasilku disana....

Pada saat yang bersamaan, aku di panggil oleh salah seorang temanku, Hai ATANG, kekasihmu menunggu di dirumah sana, dia ingin tahu bagaimana hasil ujianmu, lekas temui dia...! Ucapnya.
Lalu dengan perasaan percaya diri bercampur haru dengan sedikit air mata menetes, berlari riang untuk menemuinya, namun di setuap gang pekarangan yang aku lewati, para tetangga menghadangku menanyakan bagaimana hasil Ujianku, namu aku hanya menjawap sepontan dengan mengatakan LULUS, Aku LULUS....

Setibaku di hadapannya, tanpa rasa malu aku memeluknya di hadapan banyak orang, seolah aku sedang mengungkapkan kebahagiaanku untuk mereka semua yang ada di sana, terutama sekali kepada Gadis Kekasihku itu...

Kini tibalah saatnya kami harus berpisah untuk sementara, ketika itu aku sudah memasukkan pendaftaran untuk melanjurkan sekolah di Wearnea Education Center yang alamatnya di Kota Denpasar Bali... dan sudah mendapat panggilan untuk langsung berakat ke Bali guna mendaftar ulang sekaligus memulai pengalaman baru...

Aku ingat betul waktu itu Jum'at malam, Dia yang aku sayang setelah Kedua Orang Tuaku, Ia rela menginap di rumah temannya untuk mengiringi kepergianku. Sehingga membuat malam itu seakan malam yang amat menyakitkan kami, membuat kami sesak dan menangis satu sama lain, seakan berpisah untuk selamanya...
Di di tempat itu pula kami semakin mengikat janji untuk tidak saling melupakan, ataupun berhianat Cinta...

Dia pun bertanya...
Kakak, bagaimana aku bisa percaya bahwa Engkau akan mengingatku dan menjadikanku pendamping hidupmu nanti setelah Kau kembali....?
Bagaimana Engkau tidak akan tergoda dengan Gadis Kota...?
Bagaimana Engkau masih menerimaku Jika mungkin nanti kamu telah sukses...?
Bagaima aku bisa percaya....?
Bagaimana aku percaya bahwa Engkau akan selalu mengingat tempat ini...?
Bagaimana Engkau bisa mengenang Cinta kita yang telah mekar di jalanan...?
Bagaiman Kak...?

Demikian banyak pertanyaan yang sampai aku tidak mampu mengurai dengan kata-kata...

Namun aku hanya ingat bahwa....
Sayang, coba ku lihat rambutmu...!
Lalu Ia mendekat dan mengururkan rambutnya yang pancang mencapai pinggul...
Lalu ku cabut seuntau rambutnya yang kuanggap paling panjang...
Ia pun bertanya, Mengapa Kakak mencabut rambutku...?
Izinkan aku membawa rambutmu ini, cukup aku jadikan bukti bahwa Sungguh aku mencintaimu, dan akan setia terhadapmu selamanya...! Rambutmu ini akan Aku bawa pulang kembali nanti, dan akan Aku perlihatkan kepadamu untuk membuktikan bahwa aku masih setia dengan janji kita...! Jawabku.
Seolah air matanya tak berhenti mengalir dengan tiada dapat disembunyikan bahwa dia menangisi kepergianku... itu semakun menambah rasa sayangku terhadapnya...

Lalu aku kembali bertanya...
Jika dengan rambutmu ini aku akan membuktikan bahwa aku Menyayangimu, lalu bagaimana denganmu....?
Sambil menangis Ia mengatakan, Ketahuilah, Sayangku terhadap Kakak hanya seujung kuku, yang akan selalu tumbuh walaupun selalu dipotong....!
Mendengar jawabannya aku sungguh bahagia dalam pilu dengan perpisaan itu.

Pada Malam itu, saat aku tidur hingga pagi tak terasa kepalaku di pangkunya, hingga rambutku basah oleh air matanya yang terus mengalir di kesunyian malam....

Dan di pagi itu aku hanya bisa mengucapkan....
Selamat Tinggal, Tunggulah, Aku akan pulang untukmu....

Disepanjang perjalanan menuju Kota Denpasar Bali, aku selalu ingat akan masa-masa saat bersamanya dan teman kerabat di Kampung halaman...
Disepanjang perjalanan aku meneteskan air mata, namun berusaha menyembunyikan kesedihanku di hadapan teman-teman dan orang di sekelilingku....
Begitupun dengan rambutnya itu, Aku senantiasa menyimpannya di tempat yang aku rasa paling aman...

Kota Denpasar merupakan kota terindah yang pernah aku datangi, disana aku pernah menimba ilmu, mencari pengalaman hidup jauh dari keluarga, dan ternyata belum lama aku tinggal disana ternyata aku mendapat cobaan yang sangat menguji kesabaran...

Mungkin waktu itu Cinta kami diuji, karena apa yang aku katakan kepadanya itu ternyata tidak semudah yang aku ucapkan...
Aku telah berjanji kepadanya bahwa aku akan menjaga dan akan membawa pulang kembali Seuntai Raimbutnya itu, untuk membuktikan bahwa aku masih setia, namun bersamaan dengan barangku yang lain, Seuntai Rambutnya itu hilang dicuri orang, saat aku sendiri tidur, terbaring lemas di Rumah Cost Kota Denpasar Bali, karena demam tinggi...

Mengalami peristiwa yang demikian, aku kembali menghubunginya lewat telpon, kuceritakan kejadiannya, dan aku sangat persyukur bahwa dia sedikitpun tidak menunjukkan kemarahan kepadaku...
Malah kami merasa bahagia bisa saling berbicara... Walaupun jauh di mata tapi dekat di hati....

Demikian Kisah Cinta Kami, dan Maha Suci Allah yang telah mempersatukan Aku dengan Gadis itu hingga saat ini....

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru